Labels
- Cerpen (4)
- Coretankuh (7)
- Diary Sepi (16)
- Essai (3)
- Kontemplasi (2)
- Menenun Jalinan Cinta (3)
- Refleksi dan Inspirasi (4)
Sinuba Sinukarsa
Blog Archive
Powered by Blogger.
Popular Posts
Sunday, January 30, 2011
NAMA DAN LAGU
9:07 AM | Diposkan oleh
Salman
“What’s in a
name?” mungkin kita sudah akrab dengan
ungkapan Shakespeare ini dalam lakon Romeo and Juliet. Kalo boleh saya
tafsirkan, tentunya dengan bahasa inggris yang belepotan, hehehe…(Toefl aja gak
lulus! Ini bukan gara-gara gak bisa, tapi karena ngantuk) kira-kira tafsirnya
“nama hanyalah nama, tidak ada yang perlu diributkan maknanya”. Secara
tekstual, penafsiran seperti itu benar karena diucapkan Juliet Capulet yang
telanjur gandrung kapirangu pada Romeo Montague. Bagi Juliet,
sebuah nama hanyalah konvensi artifisial dan tak bermakna. Montague yang
disandang Romeo, hanyalah nama belakang lelaki yang dia cintai, dan bukan nama
keluarga yang jadi musuh bebuyutan keluarga Capulet, keluarganya sendiri.
Tapi,
”Everything is in a name!” teriak Soekarno. Dalam sebuah nama, pasti ada
sesuatu. Dalam sebuah nama ada doa, ada pengharapan, so jangan asal mengganti
nama, Gayus Tambunan diganti menjadi Sony Laksono, atau Candra Yusgianto diubah
menjadi Candra Gayusgianto (sambil lirak-lirik takut ketahuan orangnya, hehehe…becanda!!).
Jadi memang benar, dalam setiap nama ada makna. Tapi juga dengan nama itu
sendiri, bisa menjadi soal. Orang bisa terkenal!! Dengan mendompleng nama
bapaknya seseorang dapat naik jadi presiden, atau juga bisa besok menjadi calon
presiden gara-gara nama suaminya. Bahkan kalangan artis pun percaya nama itu
juga bisa menjadi hoki Syaiful Jamil rela mengubah nama belakangnya menjadi
“Jamiel” atau Atau Prianti Nur Ramadhani (Nia Ramadhani) mengganti namanya,
lengkap dengan akta kelahiran baru, menjadi Ramadhania Ardie Bakrie.
Masih Ingatkah?
20 Februari 1979. Malam itu, orang-orang sudah merapatkan selimut ketika gempa
itu mengguncang Kawah Sinila Pegunungan Dieng. Gempa itu membuat
retakan-retakan di tanah yang menyemburkan gas beracun. 149 orang meninggal
(Maaf, saya lebih suka tidak menggunakan kata ”tewas”. Meski KBBI memaknainya
sebagai ”mati dalam peperangan, bencana, dan lain-lain, dan semua media massa
memakainya, saya merasa kata itu mengandung arti agak keras, semacam mati yang
kalap).
Orang-orang berduka. Juga Ebiet
G Ade. Tapi tak semata berduka, sebagai penyanyi dan pencipta lagu, Ebiet ingin
mengabarkan kisah sedih itu. Dan terciptalah ”Berita kepada Kawan” yang
legendaris itu. Lagu itu kali pertama muncul dalam album Camelia II (1979), menjadi salah satu hit,
dan beberapa tahun berikutnya jadi semacam ilustrasi wajib setiap kali televisi
menayangkan berita atau reportase tentang suatu bencana di Indonesia.
Ebiet pun jadi semacam ”merek dagang” untuk tayangan bencana. Tak adakah
penyanyi lain yang mendendangkan penderitaan akibat bencana? Tentu saja ada.
Iwan Fals, misalnya pada lagu ”Celoteh Camar Cemar dan Tolol”. Lagu itu wujud
kepedulian Iwan pada tragedi tenggelamnya kapal Tampomas II di perairan dekat
Kepulauan Maselembu, sekitar 220 mil dari Ujung Pandang, 27 Januari 1981. Kapal
itu mengangkut 1054 penumpang, dan hanya 149 yang berhasil diselamatkan.
“Kau dengar laguku dalam
symphony…” seperti yang dialunkan oleh Mbak Yuni Shara. Nama dan lagu bisa
secepat kilat (lebay ahh…) bisa mendongkrak kepopuleran seseorang. Tak bolehkah
seorang Bona Paputungan bernyanyi? Atau tak bolehkan seorang presiden bernyanyi
dan membuat album.? Boleh, boleh, boleh!! Kadang aku membanyangkan presiden
membuat group band sendiri, hehehe….Nggak masalah kan??
Toh presiden juga manusia yang suka bernyanyi walaupun suaranya sumbang, parah
lagi sumbangnya terhadap keadilan. Dengan mencatut nama Gayus dalam lagunya, Si
Bona bisa langsung tenar.
Saya juga suka
menyanyi. Tapi kalau bernyanyi, suara saya hanya bikin teman-teman gemas
kepengin merebut mikrofon. Makanya, kalau ada yang mengajak berkaraoke, saya
lebih suka mengatakan ”Maaf, tenggorokan saya lagi lumayan bermasalah.” Hehehe.
Tapi dengan kualitas suara seperti itu, kalau punya uang dan syukur ada yang
mau memproduseri, mungkin saya perlu mempertimbangkannya lagi. Punya album
pastilah keren. Bisa populer dan kalau albumnya meledak, royaltinya pasti
lumayan. Bisa saya hibahkan untuk membangun Gedung DPR, hahaha.
Kota Perwira dini hari
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 komentar:
Post a Comment