Laman

Sunday, January 30, 2011

NAMA DAN LAGU


“What’s in a name?”  mungkin kita sudah akrab dengan ungkapan Shakespeare ini dalam lakon Romeo and Juliet. Kalo boleh saya tafsirkan, tentunya dengan bahasa inggris yang belepotan, hehehe…(Toefl aja gak lulus! Ini bukan gara-gara gak bisa, tapi karena ngantuk) kira-kira tafsirnya “nama hanyalah nama, tidak ada yang perlu diributkan maknanya”. Secara tekstual, penafsiran seperti itu benar karena diucapkan Juliet Capulet yang telanjur gandrung kapirangu pada Romeo Montague. Bagi Juliet, sebuah nama hanyalah konvensi artifisial dan tak bermakna. Montague yang disandang Romeo, hanyalah nama belakang lelaki yang dia cintai, dan bukan nama keluarga yang jadi musuh bebuyutan keluarga Capulet, keluarganya sendiri.

Tapi, ”Everything is in a name!” teriak Soekarno. Dalam sebuah nama, pasti ada sesuatu. Dalam sebuah nama ada doa, ada pengharapan, so jangan asal mengganti nama, Gayus Tambunan diganti menjadi Sony Laksono, atau Candra Yusgianto diubah menjadi Candra Gayusgianto (sambil lirak-lirik takut ketahuan orangnya, hehehe…becanda!!). Jadi memang benar, dalam setiap nama ada makna. Tapi juga dengan nama itu sendiri, bisa menjadi soal. Orang bisa terkenal!! Dengan mendompleng nama bapaknya seseorang dapat naik jadi presiden, atau juga bisa besok menjadi calon presiden gara-gara nama suaminya. Bahkan kalangan artis pun percaya nama itu juga bisa menjadi hoki Syaiful Jamil rela mengubah nama belakangnya menjadi “Jamiel” atau Atau Prianti Nur Ramadhani (Nia Ramadhani) mengganti namanya, lengkap dengan akta kelahiran baru, menjadi Ramadhania Ardie Bakrie.

Masih Ingatkah? 20 Februari 1979. Malam itu, orang-orang sudah merapatkan selimut ketika gempa itu mengguncang Kawah Sinila Pegunungan Dieng. Gempa itu membuat retakan-retakan di tanah yang menyemburkan gas beracun. 149 orang meninggal (Maaf, saya lebih suka tidak menggunakan kata ”tewas”. Meski KBBI memaknainya sebagai ”mati dalam peperangan, bencana, dan lain-lain, dan semua media massa memakainya, saya merasa kata itu mengandung arti agak keras, semacam mati yang kalap). 

Orang-orang berduka. Juga Ebiet G Ade. Tapi tak semata berduka, sebagai penyanyi dan pencipta lagu, Ebiet ingin mengabarkan kisah sedih itu. Dan terciptalah ”Berita kepada Kawan” yang legendaris itu. Lagu itu kali pertama muncul dalam album Camelia II (1979), menjadi salah satu hit, dan beberapa tahun berikutnya jadi semacam ilustrasi wajib setiap kali televisi menayangkan berita atau reportase tentang suatu bencana di Indonesia. Ebiet pun jadi semacam ”merek dagang” untuk tayangan bencana. Tak adakah penyanyi lain yang mendendangkan penderitaan akibat bencana? Tentu saja ada. Iwan Fals, misalnya pada lagu ”Celoteh Camar Cemar dan Tolol”. Lagu itu wujud kepedulian Iwan pada tragedi tenggelamnya kapal Tampomas II di perairan dekat Kepulauan Maselembu, sekitar 220 mil dari Ujung Pandang, 27 Januari 1981. Kapal itu mengangkut 1054 penumpang, dan hanya 149 yang berhasil diselamatkan.

“Kau dengar laguku dalam symphony…” seperti yang dialunkan oleh Mbak Yuni Shara. Nama dan lagu bisa secepat kilat (lebay ahh…) bisa mendongkrak kepopuleran seseorang. Tak bolehkah seorang Bona Paputungan bernyanyi? Atau tak bolehkan seorang presiden bernyanyi dan membuat album.? Boleh, boleh, boleh!! Kadang aku membanyangkan presiden membuat group band sendiri, hehehe….Nggak masalah kan?? Toh presiden juga manusia yang suka bernyanyi walaupun suaranya sumbang, parah lagi sumbangnya terhadap keadilan. Dengan mencatut nama Gayus dalam lagunya, Si Bona bisa langsung tenar.

Saya juga suka menyanyi. Tapi kalau bernyanyi, suara saya hanya bikin teman-teman gemas kepengin merebut mikrofon. Makanya, kalau ada yang mengajak berkaraoke, saya lebih suka mengatakan ”Maaf, tenggorokan saya lagi lumayan bermasalah.” Hehehe. Tapi dengan kualitas suara seperti itu, kalau punya uang dan syukur ada yang mau memproduseri, mungkin saya perlu mempertimbangkannya lagi. Punya album pastilah keren. Bisa populer dan kalau albumnya meledak, royaltinya pasti lumayan. Bisa saya hibahkan untuk membangun Gedung DPR, hahaha.

Kota Perwira dini hari


0 komentar: