Laman

Thursday, August 12, 2010

Rokok riwayatmu




Rasa-rasanya sudah hampir setiap tempat di sudut negeri ini tak lepas dari promosi dagang tentang rokok. Di Koran, televisi, billboard, selebaran, brosur, radio bertebaran dimana-mana seakan membanjiri hidup kita. Outdoor advertising semakin menggila seperti tak ada ruang kosong yang tidak ada iklannya. Apalagi negeri kapitalis semacam Indonesia.

Menyoal tentang rokok memang ada dua hal yang selalu bertentangan. Kepentingan ekonomi/ bisnis versus kepentingan kesehatan. Rokok merupakan pemasok devisa yang begitu menggiurkan bagi negara. Pendapatan dari cukai yang begitu besar, serapan tenaga kerja yang dapat mengikis angka pengangguran membuat pemerintah masih mempertahankan industri rokok berkembang di Indonesia. Mengenai dampaknya terhadap kesehatan pun, pemerintah memberikan regulasi-regulasi bagi para industri rokok. Dari mulai penulisan label “MEROKOK DAPAT MERUGIKAN KESEHATAN” disetiap bungkusnya, penanyangan spot iklan di media elektronik di atas jam sepuluh malam dengan konten tanpa menampilkan adegan merokok hingga membuat area khusus untuk merokok. Namun hal ini pun nyatanya belum bisa mengurangi jumlah perokok atau minimal menekan angka perokok baru.

Indonesia adalah juara ketiga di dunia setelah India dan China dalam hal jumlah perokok. Tahun 2009 lalu, pendapatan negara melalui cukai rokok mencapai angka 53 Triliun rupiah, dan diprediksikan tahun 2010 ini akan mencapai angka 55,3 Triliun rupiah.

Dan yang paling parah adalah yang di bidik para pelaku industri rokok ternyata kaum muda.

Iklan rokok memang semakin kreatif dan masif dalam mengemasnya. Hampir tidak ada runag publik yang terlewatkan. Ruang publik seperti televisi, radio, billboard dan lain-lain telah menyapu bersih kehidupan kita. Bahkan lebih jauh lagi, kini merambah ruang sosial kehidupan masyarakat. Seperti sponsor liga sepak bola, sponsor acara di klub-klub malam, sponsor pentas musik di sekolah, bantuan tempat sampah perumahan, festival kemerdekaan, hingga bantuan beasiswa pendidikan sekolah dan perguruan tinggi.

Memang tak mudah untuk menghentikan laju industri rokok di Indonesia. Apalagi membuat saingan iklan gerakan anti merokok. Sangat susah. Disamping industri rokok telah eksis hampir mencapai satu abad dalam perjalanan bisnisnya dan juga mereka semakin kreatif dalam menciptakan produk sesuai perkembangan pasar dan situasinya. Sebagai contoh, ketika LSM ramai menelorkan gerakan anti rokok yang secara aktif berkampanye dan berusaha melobi pemerintah untuk mengeluarkan regulasi-regulasi yang membatasi konsumsi rokok di Indonesia. Para pelaku bisnis rokok lantas mengeluarkan produk rokok yang berlabel rendah nikotin. Hasilnya, tak ada perubahan walaupun kita gencar mengkampanyekan gerakan anti rokok.

Lantas, bagaimana solusinya?

Ketika regulasi-regulasi yang telah dibuat tak bekerja secara baik. Dan kesadaran masyarakat tentang bahaya merokok masih rendah. Apa yang akan kita lakukan? Gerakan perlawanan terhadap rokok bisa di mulai dari komunitas-komunitas. Contoh, saya pernah melakukan hal tersebut ketika masih menjadi mahasiswa. Setiap acara pentas musik di kampus yang membawa sponsor rokok tak diloloskan ijinnya. Dan yang lebih penting adalah membuat suatu wacana pendidikan kesehatan. Kenapa saya lebih menekankan pendidikan kesehatan? Karena kesehatan inilah musuh utama industri rokok, menurut Hermawan Kertajaya dalam bukunya 4-G Marketing A 90 YEAR JOURNEY of Creating Everlasting Brands, bahwa musuh utama industri rokok adalah semakin tingginya kesadaran masyarakat akan kesehatan. Dan terbukti salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia telah memprediksi untuk kedepannya industri rokok akan sulit berkembang. Sehingga memutuskan untuk menjual seluruh sahamnya dan beralih ke agrobisnis. Rokok, riwayatmu kini.  

__________________________________
Diikutkan dalam lomba Weekly Note Leutika
Monday, August 2, 2010

Thumb Generation



“ Lagi Makan at Restaurant…” atau “ Dalam perjalanan menuju ke neraka…”

Jakarta maceeeet….!!!! Panas pula..”

“ DucH Gw4 5aYan9 b6t s4ma Lo…..7aNgaN tin69aL!n aKYu ya B3!bh…!!!”

Mungkin anda semua sudah familiar dengan pernyataan-pernyataan seperti itu. Anda memang tidak salah, hal-hal tersebut merupakan rangkaian status yang sering kita jumpai di situs jejaring social facebook yang telah merajalela dimana-mana.

Sengaja saya memunculkan judul seperti itu. Sekedar membuat corat-coret karena terinspirasi dari buku yang pernah saya baca, bukunya pak Hermawan Kertajaya dalam Hermawan Kertajaya On Differentiation. Merupakan salah satu buku dari sembilan seri buku elemen pemasarannya.

Memang tak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi selama satu dekade ini memang sangat luar biasa. Handphone sudah bukan barang yang mahal sekarang, mungkin hampir setiap orang dari penjual sayur keliling sampai para CEO perusahaan tak bisa lepas dari yang namanya handphone. Bisa dibilang, “ mati rasanya, seharian tanpa Hp ”… padahal kita terlahir pun tanpa Hp…iya kan??. Berbagai merek Hp yang diluncurkan sudah sangat bermacam-macam, diiringi pula semakin murahnya atau terjangkaunya harga handphone. Tak seperti era sekitar 90-an, dimana seseorang harus merogoh koceknya sampai puluhan juta untuk membeli sebuah hp. Tapi sekarang, dari mulai harga ratusan hingga puluhan juta pun tersedia di pasaran.

Dalam bukunya pak Hermawan Kertajaya tersebut disebutkan, menurut perkiraan GSM Association, SMS yang terkirim di seluruh dunia pada 2002 mencapai 24 miliar pesan per bulan dan sepanjang tahun 2002 jumlahnya mencapai 360 miliar pesan. Sementara untuk Indonesia, Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) memperkirakan, perolehan pendapatan operator telepon seluler dari SMS sepanjang 2002 mencapai Rp 1.65 triliun atau naik 11 % dibandingkan pendapatan 2001.

Jumlah yang sangat luar biasa bukan?? Melihat begitu besarnya nilai rupiah dari pendapatan yang diperoleh dan tingkat perkembangan gaya hidup masyarakat, memberikan peluang semakin menjamurnya operator-operator seluler serta persaingan bisnis yang semakin sengit antar operator. Tidak hanya sebatas layanan penyedia kartu seluler saja, persaingan bisnis sudah masuk dalam wilayah jasa kontruksi seperti, konsultan perencana tower-tower BTS, kontraktor hingga vendor-vendor telekomunikasi ikut meramaikan bisnis di bidang telekomunnikasi.

Mari kita coba menilik apa yang terjadi sekarang ini. Mungkin orang yang bernama Mark Zuckerberg tidak akan pernah mengira tentang hasil temuannya akan menjadikannya sebagai orang terkaya urutan ke-785 versi majalah Forbes. Atau juga dia sudah mengetahui tentang sebuah konsep bisnis, “ find out what they want “, Apa yang membuat mereka merasa senang, Apa yang membuat mereka merasa nyaman, Apa yang membuat mereka merasa terpenuhi dan Apa yang harus dikomunikasikan sehingga terciptalah sebuah produk yang bernama FACEBOOK.

Ketenaran situs jejaring social tersebut sampai juga di telinga masyarakat Indonesia. Di Indonesia sejak FB booming, banyak orang yang meninggalkan account FS-nya dan berpindah ke FB. Sampai saat ini, menurut AVP Information Technology service strategi PT. Telkom Indonesia, pengguna facebook di Indonesia sudah mencapai angka sepuluh juta user, dan di tahun 2008 tingkat pertumbuhannya mencapai 645 persen. Serta rata-rata user menghabiskan waktu sekitar sembilan belas menit per hari untuk melakukan berbagai aktivitas di FB. Mungkin sampai sekarang ada sekitar 25 juta user aktif  FB, situs ini menjadi lambang gaul masyarakat modern. 

Facebook akhirnya memunculkan apa yang sekarang popular dengan nama Thumb Generation alias generasi jari. Mengapa generasi jari???karena sekarang banyak hal yang dapat dilakukan dengan jari dengan memanfaatkan Facebook ( termasuk juga untuk ngupil…hehe..)

Tak mengesampingkan tentang kehadiran SMS. Tetapi pada kenyataannya demikian. Layanan SMS mulai tergeser posisinya dengan kehadiran facebook yang telah mengisi hampir seperdelapan penduduk Indonesia. Kalau jaman dulu orang lebih asyik berkomunikasi dengan SMS, akan tetapi akhir-akhir ini lebih asyik lagi melalui FB. Dengan berbagai fasilitas yang lebih lengkap, share photo, video, notes, chat, akses mudah dan lain sebagainya memberikan keunggulan tersendiri. Apalagi jika Anda berniat menggoda orang lain yang tidak di kenal, lebih asyik dengan FB. Atau bagi seorang pria yang hendak melakukan pendekatan kepada cewek, mungkin lebih aman lewat FB tidak kelihatan groginya. Lihat juga bagaimana sekarang ini FB sudah merasuk kedalam masyarakat Indonesia. Munculnya group-group semisal dukungan 1.000.000 facebooker mendukung Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah, group hobby, just fan menandakan memang FB sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Tak ketinggalan, begaimana sekarang ini pertelevisian juga sudah mulai sedikit meninggalakan SMS dan beralih menggunakan FB sebagai layanan untuk kirim pesan, berita dan informasi, dan tak jarang juga artis dan politisi mulai merambah menggunakan FB sebagai media menjalin hubungan dengan fan, atau juga sebagai media kampanye seperti yang pernah dilakukan oleh Barrack Obama.

Dari pengalaman saya menggunakan FB, yang tadinya karena rasa penasaran ketika Barrack Obama sukses berkampanye melalui FB, membuat saya mendaftar sebagai user FB. Ada beberapa hal yang saya cermati, saya berpikir; entah itu di kamar mandi, bermotor yang pertama saya kaitkan dengan bisnis. Pengalaman saya, pernah ketika menshare photo design stiker untuk alumni Teknik Sipil, photo tadi dijadikan design sebuah kaos yang langsung bisa ditawarkan melalui groupnya. Marketing gratis!!!.untungnya besar!!! Selanjutnya, ketika masyarakat telah kacanduan yang namanya online….online…online…para operator, pabrikan Hp mulai sibuk untuk berinovasi, membuka tarif internet semurah mungkin, teknologi 3.5 G, teknologi berbasis FB sayang harganya masih belum bisa menjangkau masyarakat menengah ke bawah. Sebenarnya masih ada bebearapa peluang yakni memperbaiki layanan aplikasi, menginovasi aplikasi-aplikasi Hp sehingga mungkin dengan Hp kelas teknologi GPRS 10 saja, tetapi dengan aplikasi yang canggih sudah bisa chatt, share photo melalui Facebook.

Kedua adalah, FB itu bagaikan pedang bermata dua, tergantung user dalam pemakaiannya. Kemanfaatannya akan menjadi besar jika digunakan sebagai sarana syiar digital, tidak berisi keluh kesah dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sarana berbagi ilmu, promosi bisnis, kegiatan, silaturahmi, atau jadikan sarana tersebut untuk menjadi lebih kreatif. Biar jarinya ada harganya githu loh! dan FB juga bisa menjadi pedang yang dapat membunuh si penggunanya. Maka agar tidak menjadi bagian “ mben dino kuk fb-an, opo yo entuk duit???”, atau jadi thumb generation atau juga generasi mau dibilang gaul dan melek teknologi mari ber-FB ria. Lantas menggunakan FB atau jejaring sosial lainnya tanpa memiliki sebuah kemanfaatan.

Akhirnya, mengulas perkataan Hermawan Kertajaya, dengan begitu merasuknya FB dalam beberapa kegiatan kehidupan kita, memang harus diakui FB bagaikan sebuah tawaran yang sangat mengubah kebiasaan kita dan juga kebiasaan kegiatan bisnis. Kondisi ini akhirnya membuat FB dikenal sebagai aplikasi pembunuh (killer application). Dalam marketing, killer application atau sering kali disebut killer app, biasanya digunakan untuk menjelaskan suatu kemunculan teknologi yang mengubah sebagian besar kebiasaan dan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Killer app merupakan teknologi yang membuat segala sesuatu lebih cepat dan lebih murah. Mungkin pada suatu saat dosen akan memberikan soal ujian atau tugas lewat FB, atau menempel pengumuman melalui FB, sehngga mahasiswa dapat langsung menjawab atau membaca pengumuman dimanapun berada. Berapa status yang sudah Anda update hari ini??


----------------------------------
Kota Perwira - 16 November 2009