Labels
- Cerpen (4)
- Coretankuh (7)
- Diary Sepi (16)
- Essai (3)
- Kontemplasi (2)
- Menenun Jalinan Cinta (3)
- Refleksi dan Inspirasi (4)
Sinuba Sinukarsa
Powered by Blogger.
Popular Posts
Wednesday, April 21, 2010
Inter Milan dan Jalan Para Pemenang
6:57 PM | Diposkan oleh
Salman
Kata ibuku, kesulitan itu serupa
jalan dan peluang. Lantas aku bertanya, bukankah aku lebih baik menghindarinya?
“ tidak nak!! ia menyelimuti peluang serupa telur yang dibungkus cangkang, kau
harus melaluinya. Kesulitan pula yang menyingkirkan para pesaing sehingga
semakin mudah kau berjalan”.
Mungkin diantara kita sedang berada
diantara penjara kesulitan, dan kesempatan yang kita miliki terasa kecil
sekali. Tadi malam saya menonton pertandingan liga champions antara Inter Milan
dan Barcelona . Ada sesuatu yang hebat disana, tim sekelas Inter Milan
yang notabene jarang menjuarai kompetisi liga champions dapat memukul telak
tamunya Barcelona
dengan skor 3-1. kemenangan itu adalah sebuah kemenangan yang sangat luar
biasa, kata sang pelatih Jose Maurinho. Dengan materi pemain yang dibawah
lawannya, tetapi dengan optimisme, terus berusaha dengan sebaik-baiknya,
kesempatan sekecil apapun menunjukan masih adanya harapan.
Kawan, saya tak lagi membahas
pertandingan Inter Milan versus Barcelona . Tetapi, jika pada malam tadi Si La
beneamata kalah atau saat kenyataan tak sesuai impian apa yang hendak
dilakukan?? Mungkin hal tersebut, saat kenyataan tak sesuai dengan impian
sering juga melanda pada diri kita.
Banyak orang yang merasa
frustasi, kecewa ketika kenyataan tak sesuai dengan impian. Sebagai contoh, ada
seorang anak yang ingin kuliah di universitas A tapi nyatanya biaya tak
mencukupi atau tidak lolos UM nya. Atau, mereka yang merantau ke kota besar, bermimpi
ingin mendapat pekerjaan bertaraf nasional atau internasional tapi nyatanya
yang didapat pekerjaan yang biasa-biasa saja. Ada juga seorang pengusaha yang ingin
mendapatkan keuntungan hingga 2 kali lipatnya malah akhirnya mengalami
kebangkrutan.
Kawan, apa yang kita harapkan
kadang-kadang memang tak sesuai dengan apa yang kita cita-citakan atau impikan.
Seperti sebuah rel kereta api, antara kenyataan dan impian tak pernah bertemu
ujungnya. Pernah suatu ketika, 4 dari 8 proyek yang telah kami selesai
kerjakan, hasilnya tak dapat kami uangkan. Bahkan sampai perusahaan konsultan
kami harus menanggung beberapa hutang dan akhirnya terpuruk. Nah, ketika kita
berada dalam kondisi-kondisi seperti diatas, apa yang hendak kita lakukan?
1. Bertindaklah secara fleksibel dan dinamis
Jika kita benar-benar ingin
menggapai kesuksesan, maka diperlukan “kesiapan” untuk bertindak fleksibel dan
dinamis terhadap setiap perubahan yang terjadi. Konon bambu adalah tanaman yang
paling fleksibel. Coba perhatikan ketika ada badai besar, tak jarang kita
melihat banyak pohon yang memiliki batang besar tumbang! Apa sebab? Sebab
mereka tidak kuat menahan beban yang diterima.
Namun coba tengoklah bambu!
Karena batangnya lentur, bambu dapat dengan leluasa bergerak ke segala arah,
dan jarang tumbang. Nah begitupun dengan kita! jika kita berpikir dinamis dan
fleksibel, maka kita akan lebih tahan menghadapi tantangan dan perubahan serta
segala masalah yang dating.
2. Berpikirlah bahwa INILAH yang terbaik untuk
kita.
Saat kenyataan tidak sesuai
dengan impian, percayalah bahwa inilah yang terbaik untuk kita. Kita tidak
pernah tahu scenario yang telah ditetapkan-Nya. Karena, segala sesuatu yang
menurut logika kita baik, bias jadi justru sebaliknya di mata Tuhan. Berpikirlah
positif apapun yang terjadi pada diri kita, jangan biarkan setiap kegagalan membuat
kita kecewa apalagi sampai frustasi yang berlarut-larut.
Kawan, apa yang pernah kau
lakukan jika impianmu tak tercapai? Saya biasa mengatakan:
“ sudahlah Candra, kau tak perlu
kecewa, don’t ask me why, It is good for you! Sekarang dengarkan baik-baik,
Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik! Tuhan tahu kamu orang yang baik
dan bijaksana, hidupmu penuh dengan kelimpahan, dan kamu memang selalu
dilahirkan untuk selalu menjadi pemenang”.
Apa yang saya lakukan diatas
adalah afirmasi. Afirmasi, kata beberapa trainer motivasi adalah kata-kata
positif yang diucapkan berulang-ulang dan diyakini untuk membentuk citra
positif untuk mengurangi sikap-sikap negative dalam diri kita. Kata-kata
afirmasi ini bias kita buat atau rancang sendiri, dan lalu bisa diucapkan
secara verbal atau dalam hati. Itu ilmu yang pernah saya dapat dari Mas Didik
Hermawan. Katanya, yang mulai berkecimpung di dunia Hypnotherapy, afirmasi itu
akan “terekam” oleh alam bawah sadar kita. Dan jika terus-menerus diucapkan dan
dengan penuh keyakinan, maka kita sedang atau akan menjadi seperti itu adanya,
yang kita ucapkan. Dengan kata lain afirmasi itu sama seperti doa.
Okay, selanjutnya, meski apa yang
kita harapkan belum sesuai dengan impian, namun kita harus….
3. Tetap
siapkan mental PEMENANG
Saat kita mengalami kegagalan,
lebih baik instropeksi diri daripada menyalahkan takdir, siapa tahu memang kita
belum siap jadi pemenang. Bisa jadi kesuksesan membuat diri menjadi sombong, dan
karena saking sayangnya Tuhan kepada kita, Ia tidak mau hamba Nya berbuat dosa.
Tak ada jalan pintas menuju
sebuah kesuksesan. Mungkin ada, seperti Gayus misalnya. Tapi??? Malam minggu
kemarin, tak sengaja saya bertemu pengusaha kertas dari Mojokerto di sebuah
kedai kopi. Dia sedang mengalami keterpurukan atas usahanya, dan sedang
berusaha bangkit kembali. Memang liku hidup setiap manusia tidak sama. Tapi
ingat, kesempatan untuk menang selalu terbuka bagi siapa saja, tanpa
terkecuali!
Rejeki dan kemenangan sungguh tak
terkira banyaknya dari Tuhan, dan masih menggantung dilangit. Sekarang tinggal
cara kita, apakah mau meraihnya? Ataukah mengharap turun dengan sendirinya?
Kita semua tahu, yang namanya kemenangan selalu dimiliki oleh mereka yang tak
pernah berhenti berusaha. The last but not least…, terkadang Tuhan menutup pintu
yang satu untuk membuka pintu yang lain.
Okay, sekedar diary penyemangat
jiwa saya yang masih jauh dari sebuah kata sukses. Teringat sebuah pesan dari Mas
Sakti Wibowo “ PEMENANG bukanlah mereka
yang berlari paling DEPAN, tetapi mereka yang TETAP BERTAHAN hingga akhir
PERTANDINGAN”.
Tuesday, April 20, 2010
BCL ( Bukan Cinta yang Lain )
11:17 PM | Diposkan oleh
Salman
........................................
Jauh sebelum cinta menjelma menjadi pertemuan dua fisik, ia terlebih dahulu bertaut di alam jiwa.......
Jika ada pertemuan fisik yang tidak didahului oleh pertemuan jiwa itu bukanlah cinta...........
Disini kita bisa memahami.
sepasang laki-laki dan wanita bisa melakukan hubungan tanpa cinta
Atau, pernikahan bisa berlangsung tanpa cinta.
dan itu semua salah
Pernikahan atau Rumah Tangga Tanpa Cinta
hanya tinggal menunggu kapan akan robohnya bangunan itu.
Sebagai manusia jiwa kita memiliki tabiat kimiawi yang sangat unik. ....
Dan tidak bisa ditebak.....
Seorang perempuan lembut bisa jadi mencintai seorang laki-laki kasar,......
kerena kelembutan dan kekasaran adalah dua kutub jiwa yang bisa bertemu seperti air dan api: saling tergantung dan saling menggenapkan.......
Karena itu lah
Islam hadir
sebagai solusi
Jika ada dua anak adam saling jatuh Cinta
Islam mengatakan dengan tegas
bahwa hanya Pernikahan lah tempat Cinta itu mekar tumbuh dan bermanfaat.....
Tidak hanya sampai disana
Islam juga, memudahkan semua jalan
menuju Pernikahan itu
dari Mahar sampai Walimah
semua di tata dengan kemampuan Umatnya....
inilah kebarokahan Islam untuk semesta...
Siapapun dirimu....!!
Jika Cinta itu telah hadir di alam jiwa
maka upayakanlah jalan menuju pernikahan
Maka Mintalah Pada Rabb Kita
dalam doa-doa bersampul air mata
di dinginnya waktu 1/3 malam terakhir......
atau
di hangatnya waktu dhuha......
atau
di sejuknya senja waktu ashar......
agar Alloh memudah kan
semua langkah kita
membukakan hati orangtuamu.....
melapangkan rezekimu.
Disinilah Cinta harus kita posisikan
dalam menggapai keridhoan Alloh.....
Menikahi Wanita itu
Karena kita mencintai Alloh....
Menikahi wanita itu
Karena kita ingin menjaga kesucian dan kehormatan diri..
Menikahi wanita itu
karena kita ingin ibadah meninggikan kalimat-kalimatNYa
di muka bumi....
Bukan Karena Cinta yang lain
yang semu
yang sementara.....
Saturday, April 17, 2010
Rose for Mama
1:59 PM | Diposkan oleh
Salman
Hembusan angin menyapu lembut wajah sendu seorang anak laki-laki kecil…., air matanya berderai membasahi gundukan tanah merah di depannya.
Di usia yang masih belia, memaksa tangan-tangan kecilnya untuk memecah karang-karang kehidupan. Berlomba bersama deburan ombak pantai menarik tali-tali kapal yang hendak merapat ke tepian. Memikul hasil buruan laut menuju ke tempat-tempat pelelangan.
“ Pagi ini, hasil tangkapan lumayan. Cuaca bagus, nelayan tak banyak mengalami kesusahan..”, papar juragan perahu, yang kini telah memiliki hampir sepuluh buah perahu.
“Izar…, tolong tangkapan yang dikeranjang warna biru, kau pisahkan isinya…”
“ Gan! sudah jam setengah tujuh…saya mau berangkat ke sekolah..”
“Ooo…ya sudah kalau begitu, ditepikan saja keranjangnya, sekolahe sing sregep…ngesuk dadio menteri…” nasehat Juragan perahu bagaikan mimpi-mimpi yang tak terbeli melihat kondisinya sekarang.
Membawa dua lembar lima ribuan, Izar melenggang pulang kemudian berangkat menuju bangku dimana ia masih bisa berharap untuk mewujudkan cita-citanya.
Sudah sekitar lima tahun anak lelaki kecil itu tinggal hanya bersama bapaknya. Kampung nelayan menjadi surga bagi hidupnya. Deburan ombak pantai menjadi tembang pengiring mengarungi gelombang kehidupan.
Kehidupan nelayan, boleh dikatakan sampai hari ini masih tetap berada dalam situasi dan kondisi yang sangat memprihatinkan. Kalau pun ada dari antara mereka yang bisa hidup mapan dan berkecukupan jumlahnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan nelayan yang hidupnya masih berada dibawah garis kemiskinan.
Setiap pagi menjelang, sang bapak bersiap menekuni aktivitas hariannya sebagai pesuruh disebuah kecamatan dan sebagai nelayan musiman. Usia senjanya dia habiskan untuk berjuang mengais kepingan-kepingan rupiah benteng pertahanan hidup, menggapai harapan sembari terus berjuang, berharap bertemu bagian-bagian hidup yang lebih menyenangkan.
“ Selamat pagi pak!! “
Sapaan Bu Camat membuat dia terkejut dan bergegas memulai pekerjaan rutinnya, “ Ooo….Selamat pagi juga Bu Camat, tumben pagi benar datangnya….. “.
“ Ini mau siap-siap pak!! Nanti bakalan ada rapat, persiapan program revitalisasi perikanan “
“ Sekalian saya minta tolong, nanti di siapkan untuk konsumsi peserta rapat, pesertanya kira-kira 25 orang”, sembari menyodorkan uang enam puluh ribu rupiah yang dikeluarkan dari tas cangkingnya warna hitam.
Program revitalisasi perikanan yang rencananya akan dijalankan hingga akhir tahun seperti yang diungkapkan menteri kelautan dan perikanan, adalah merupakan program yang memfokuskan revitalisasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi berupa berbagai kegiatan usaha bidang penangkapan ikan dan budidaya perikanan, serta mengoptimalkan operasional unit usaha pengolahan ikan dalam negeri.
Program yang juga diharapkan bisa menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru berupa peluang usaha perikanan yang masih memiliki prospek cerah di masa yang akan datang.
“ Pak Ali, saya boleh menanyakan sesuatu….”
Pak Ali mendadak kaget mendengar pertanyaan Bu Camat, pertanyaan yang tidak biasa dilontarkan. Tidak seperti pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan, pertanyaan tentang anaknya si Izar, pekerjaan yang telah diselesaikannya. Kali ini, pertanyaan yang dilontarkan mengundang seribu tanda tanya.
“Tentu saja boleh bu….!!” Kali ini Pak Ali menjawab penuh ragu, sinar matanya menatap, menunggu pertanyaan apakah yang hendak dia ucapkan.
“ Bagaimana kabar istrimu Sulasih…?”
Kata-kata yang sempat membuat jantung Pak Ali berhenti berdetak, bergetar jemarinya menjatuhkan kepingan penutup gelas hingga menimbulkan suara dentingan yang cukup membangunkan memori otaknya yang sudah sekian lama tertidur. Entah sudah berapa lama, ia tak melihat lagi wajah istrinya itu. Bahkan sepenggal kabar berita pun, tak pernah diperolehnya. Sudah lama ia menimbun rindu di dalam sudut hatinya. Berdoa suatu saat kembali bersama dalam lingkaran keluarga.
“ Tak tahu Bu…, sudah lima tahun lebih semenjak dia berangkat ke Saudi, tak pernah memberikan kabar apa pun…”
Kemiskinan yang melanda para nelayan, membuat Sulasih tergoda dengan tarian-tarian riyal. Mencoba menggantungkan nasib berjuang ke luar negeri dengan harapan perekonomian kan bersinar. Rela meninggalkan buah hati dan suaminya, bekerja sebagai pejuang devisa. Kini Pak Ali hanya berusaha menjaga buah hati hasil cintanya, satu-satunya amanah yang dititipkan Nya. Apalagi setelah tak ada kabar darinya, berbagai usaha telah ditempuh untuk mencarinya, tetapi takdir berkata lain, Sulasih istrinya sekarang tak diketahui keberadaannya, sepenggal berita pun tak pernah dia dapatkan.
***
Pukul 00.00 Saudi Arabia
“ Sulasih, aina ant….!!”(1), teriak majikannya memekakan telinga..
“ Aiwa yaa sayyidah…ana fil mathbah…”(2)
“ Rojaa’an, hatil-minsyafah (3)
Hampir tengah malam, Sulasih masih bergelut dengan perabotan rumah tangga, kebetulan malam itu telah selesai acara jamuan makan malam keluarga besar. Teriakan sang majikan membuat Sulasih segera bergegas menuruti apa yang telah diperintahkan. Sejenak meninggalkan pekerjaan dapurnya, berlari menuju kamar membuka lemari mengambil selembar handuk berwarna putih. Kemudian mengantarkannya ke kamar sang majikan. Tergopoh-gopoh.
“ hadza yaa Sayyidah….., Sayyidah….ana muth’ib jiddan…..”(4)
Perasaan takut meliputi hatinya, wajahnya yang kuyu jelas terlihat, tergurat garis-garis kelelahan. Berdiri sambil memperhatikan sang majikan yang sedang membersihkan perias wajah, Sulasih mencoba memberanikan diri meminta keringanan waktu hendak menyelesaikan semua pekerjaannya besok pagi.
“ laa…”, jawaban yang benar-benar mematikan harapannya. Seakan-akan tidak memberikan opsi pilihan apapun selain harus mengerjakannya malam ini juga.
Sulasih melenggang lunglai menuju ruangan dapur kembali. Berjalan tertatih-tatih menghiraukan rasa kantuk, pegal-pegal seluruh badan, rindu yang terpendam kembali menyatu bersama gelas, piring, sendok, cangkir, panci dan peralatan lainnya. Suara gemercik air kran, dentingan sendok aluminium yang bertumbukan, mengalun memecah sunyinya malam. Tangannya yang mungil penuh busa, dia gerak-gerakan seirama dengan suara gemercik air kran, mengelus setiap perabotan yang penuh kotoran sisa makanan. Dari sudut kedua bola matanya menetes air mata, entah sudah berapa kali dia menangis.
Tubuh kurus Sulasih masih harus tetap mengabdi pada tuannya. Menahan beban derita hampir setiap hari dirasakannya. Hingga pada sutau saat sampailah Sulasih pada ujung yang tak disangka, terbaring dalam lorong-lorong penyembuhan, terkapar tanpa sebuah harapan
***
Mentari pagi menampakan sinarnya yang terang, ketika seorang bocah laki-laki yang duduk di bangku kelas IV SD bersama Bapaknya mencari ikan di laut. Siapapun tahu bahwa bocah seumur itu belum saatnya untuk mencari nafkah. Tiga jam sudah kedua makhluk itu berayun-ayun di atas perahu kecil di tengah lautan demi mencari sesuap nasi. Deburan ombak yang menggunung menghantam ke kanan kiri sisi perahu yang ia tumpangi, tak terasa perahu yang ditumpanginya seakan-akan ditelan oleh ganasnya ombak laut selatan. Hanya semangat yang kuat disertai pasrah kepada-Nya yang membuat mereka berani menapakkan sedikit demi sedikit perahu yang mereka tumpangi menuju tengah lautan. Mereka berangkat sebelum suara adzan subuh membangunkan penduduk kampung nelayan, meraka kelaut sebelum orang-orang berkumpul di masjid untuk menunaikan sholat jamaah subuh.
Suatu pilihan yang harus mereka jalani antara menyerahkan diri kepada-Nya di masjid-masjid dengan nilai-nilai spiritual yang tidak bisa dinilai dengan angka-angka nominal atau memilih melaut untuk mencari nafkah bagi hidupnya. Padahal, berangkat melaut pun bisa dilakukan setelah sholat jamaah di masjid. Tapi, memang sudah menjadi kebiasaan penduduk kampung nelayan melaut di pagi buta sebelum suara Tuhan menggema di kampung tersebut.
Hampir setiap hari Minggu ketika liburan sekolah bocah kecil itu di ajak Bapaknya ke laut. Hari Minggu biasanya adalah hari yang dinantikan oleh anak-anak seusianya, karena mereka akan liburan sekolah dan bermain dengan riang bersama teman-teman seusianya. Main petak umpet, bermain kelereng ataupun bermain layang-layang. Namun, tidak bagi bocah SD itu yang hanya pasrah melawan kehendak Tuhan dengan mediasi Bapaknya untuk ikut ke laut.
Minggu itu sebenarnya Bapaknya ingin libur kerja, tidak berangkat ke laut. Bapaknya ingin sekali berlibur di hari Minggu seperti layaknya pegawai-pegawai kantaron. Bapak berpamitan kepada angin timur yang dianalogikan dengan banyak ikan, pamit kepada bintang gubuk penceng tempat kami bisa membedakan mana lautan dan mana daratan.
Dan pamit kepada Bu Sarti penjual nasi di waktu subuh yang biasanya dibelinya ketika akan pergi melaut bahwa hari itu Beliau tidak pergi melaut.
Barangkali Bapak iri dengan pegawai kantoran, di saat pegawai kantoran punya hari libur di tengah kepenatan kerja. Ada yang hanya lima kerja seperti pegawai negeri di negeri ini, satpam dengan sistem rotasi siang dan malam yang gentian jaga dengan temannya mereka hanya empat hari kerja dua hari libur, atau paling banter enam hari kerja dan satu hari libur. Namun, hal ini tidak berlaku bagi para nelayan mereka tidak mempunyai hari libur tetap dan selalu melaut di saat pegawai kantoran libur, kalaupun libur itu pun terjadi jika hari raya atau harga BBM tidak sesuai dengan hasil tangkapan.
Sekembalinya dari warung makan Bapak langsung pulang ke rumahnya untuk menikmati libur satu hari yang akan dijalaninya. Ia tatap wajah bocah SD yang masih lugu terbaring di ranjang, ia usap pipinya dan dicium keningnya.
“Nak, bangun…bangun, ayo kita berangkat ke laut!”
Ternyata Bapak berubah pikiran, Beliau tidak libur hari itu dan dengan gigihnya mengambil perlengkapan melaut sembari menunggu anaknya yang masih susah dibangunkan. Bocah kecil yang masih belum tahu mengapa ia diajak pergi itu lantas menayakan kepada Bapaknya.
“Bapak, mengapa saya yang masih kecil ini diajak melaut?” suara bocah itu lirih memberanikan diri dengan sekuat tenaga.
“Nak, bapakmu! dulu, sekarang, dan di masa depan selalu menggantungkan hidup dan berpenghasilan dari hasil laut. kemampuan yang bapakmu miliki hanyalah melaut tidak ada yang lain, Bapak tidak berjiwa enterprenur atau berpendidikan yang kerjanya selalu menggantungkan selembar ijazah yang dimiliki. Rela untuk mengetuk pintu kantor satu ke pintu kantor yang lain untuk menanyakan apakah di kantor ini menerima lulusan S1. Bapakmu memeras keringat di tengah teriknya matahari yang panas menghitamkan kulit yang memang sudah hitam legam juga dari laut. Makanya, Bapak ingin mengajarimu bagaimana menghadapi kerasnya hidup di dunia ini dengan belajar dari dekat. Toh, nanti jika kelak kamu besar sudah menghidupi anak dan istrimu juga dari hasil laut apabila kamu tidak mendapat pekerjaan yang layak di darat”.
Bocah itu lantas terdiam mendengar perkataan dari orang yang sangat dia hormati. Bapaknya yang jarang sekali bicara, bahkan tidak hanya kepada anak-anaknya dengan orang-orang sekitar pun dia jarang berucap. Sampai-sampai semua anggota keluarga dan tetangga sekitar merasa sungkan apabila berjumpa dengannya. Sungguh berbeda dan kontras sekali dengan anaknya. Orang yang tidak lulus sekolah dasar dan memang kebanyakan masyarakat pesisir nelayan jarang menyelesaikan pendidikan dasar kala itu. Bapaknya hanya tujuh hari mengenyam pendidikan SD, meskipun tidak tamat sekolah tidak ingin anak-anaknya tidak mengenyam pendidikan. Apapun beratnya menempuh hidup, pendidikan anaknya selalu diutamakan.
Melayang-layang di tengah gelombang….
“ pak.., ibu sekarang dimana? Izar pengen deh ketemu “
“ Zar…ibumu sedang mencari uang untuk membeli cita-citamu”, jawab bapaknya begitu bijak, dari gurat wajahnya senantiasa dia sembunyikan air mata rindunya. Mencoba tetap tegar dengan pertanyaan yang meruntuhkan hatinya.
“ pak, ibu guru ngasih PR suruh buat puisi atau surat kepada ibu…katanya memperingati hari ibu “
“ tapi….Izar kan ‘ngga pernah ketemu ibu…” lanjut bocah kelas IV SD dengan celotehnya.
“ kelak jika nanti Ibu pulang, Izar akan bawakan setangkai mawar buat Ibu”
“ Zarrr…cepat tarik kailnya…!!!” Bapaknya berteriak sambil menarik kail bertarung dan strike….!!!
“ Lumayan….tangkapannya…”
Matahari telah merangkak naik melewati waktu dhuha, gelombang samudra menuntun perahunya kembali ke tepian pantai dan bergegas mencari juragan-juragan yang siap menampung hasil tangkapannya.
“ pak Ali…pak Ali…dirumah…pak Ali…di rumah…ada…” tetangganya yang tengah menunggu kedatangannya hendak menyampaikan berita, napasnya tergesa-gesa berlarian seolah-olah barusan melihat hantu…
“ ada apa…pak ???”
“ Istri bapak tiba…istri bapak….tapiiii….”
“ tapi kenapa…!!! Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…” bergetar kakinya menjadi begitu lemah, kabar buruk menimpanya, sesuai firasatnya. Pulang tinggal nama persis seperti yang sering diberitakan di layar kaca.
Lima tahun sudah Sulasih terkungkung dalam jebakan waktu, waktu membawanya pada sebuah kondisi penuh derita. Sampai hari penentuannya pun tiba, malaikat menjemput menuju ke alam keabadian. Namanya berlayar menembus angkasa terbang melayang bersama camar-camar dan hinggap kembali di pangkuan bumi persada nusantara dengan keheningan air mata. Sang pahlawan devisa, harapan keluarga kembali ke pangkuan Nya dengan seribu tanda tanya tanpa lirikan sang penguasa sekalipun.
Senja begitu merona, warna jingga goresan mayapada menyemburat melukis angkasa, disudut pasar seorang laki-laki memesan seikat karangan bunga mawar untuk ibunya yang tinggal 250 km jaraknya dari kota tempat ia berada. Bunga itu akan dipaketkan sebagai kado untuk ibunya yang besok genap berusia 60 tahun. Ketika ia keluar dari toko bunga, ia melihat seorang anak laki-laki kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu bertanya mengapa anak laki-laki kecil itu menangis? Jawab anak itu,
“Aku ingin membeli setangkai bungan buat ibu. Tapi aku hanya punya uang Rp. 500 saja, sedangkan harga setangkai bunga mawar itu Rp. 1000.”
Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut, aku akan membelikan bunga yang kau mau.” Kemudian ia membelikan anak itu setangkai mawar merah.
Ketika selesai dan hendak pulang, lelaki itu menawarkan diri untuk mengantar anak itu pulang. Anak kecil itu melonjak kegirangan, “Ya, tentu saja Tuan. Maukah Anda membawa saya ke tempat ibu saya?”
Lalu mereka berdua menuju tempat yang ditunjukkan anak kecil itu, yaitu sebuah Pemakanan Umum, di mana anak ini kemudian meletakkan bunganya pada salah satu kuburan yang masih basah
Hembusan angin menyapu lembut wajah sendu seorang anak laki-laki kecil, air matanya berderai membasahi gundukan tanah merah di depannya.
___________
(1) dimana?
(2) Saya di dapur nyonya!
(3) Cepat!! Ambilkan saya handuk…
(4) Nyonya, saya lelah sekali.
MENATAPMU AKU LURUH DALAM BANGGA
1:46 PM | Diposkan oleh
Salman
“Saat menunggu, diamlah seperti batu. Saat menyerbu, bergeraklah seperti batu yang diluncurkan dari puncak gunung.” [Takeshi Matsuoka]
Apakah sama antara diam dan bergerak? Dipandang secara kasat, tentulah itu dua aktivitas yang jauh berbeda. Diam tak bergerak, dan bergerak tidak diam. Namun menelisik ke dalam esensi tindakannya, kita akan menemukan perbedaan yang sangat fundamental; manakah yang lebih baik antara diam dan bergerak. Diam lebih buruk dari bergerak? Belum tentu! Ataukah diam lebih baik dari bergerak? Tidak ada jaminan. Yang menentukan mana yang lebih baik adalah motivasi dan esensi dari masing-masing aktivitas tersebut; apakah diam ataukah bergerak.
Takeshi Matsuoka, seorang penganut zen dan penulis buku best seller Samurai [Kastil Awan Burung Gereja dan Jembatan Musim Gugur], menuliskan bahwa saat seorang Samurai bertugas ‘menunggu,’ maka samurai tersebut harus diam seperti batu; sabar, kokoh, tak tergoda bisikan apa pun. Pada saat menyerbu, dia pun harus bergerak seperti batu yang diluncurkan dari puncak gunung; tak peduli dengan halangan, meluncur dengan segala kekuatan, tak bisa dibelokkan.
Esensi kedua aktivitas yang ‘terlihat’ berbeda itu menjadi sama: komitmen, continuity, dan keseriusan. Faktanya, apabila ketiga hal tersebut telah melekat pada diri seseorang maka yakinlah bahwa saat diamnya bukanlah menyerah, dan saat bergeraknya bukanlah salah kaprah atau salah arah! Diam atau bergeraknya adalah sebuah tindakan yang telah direncanakan, memiliki esensi dan kekuatan.
Kedatanganku yang belum sempat satu tahun, tapi menyaksikan pertumbuhanmu selama dua sampai tiga tahun, saya seperti menyaksikan kesabaran batu-batu yang meluncur dari puncak gunung! Siapa yang menyangka batu-batu kecil yang tampak tak memiliki kekuatan itu mampu bertahan dan menembus segala hambatan. Entah berawal dari mana, kota pinggiran itu telah melahirkan samurai-samurai wanita, maklum karena kesembilan kau adalah wanita. Seperti sekelompok samurai yang mendapat perintah untuk ‘menyerbu’ kau bergerak laksana batu yang diluncurkan dari puncak gunung! Tak terbilang hambatan telah dilampaui, tak terhitung halangan telah ditembus sehingga mampu ‘tiba’ sekarang ini prestasi-perstasi yang begitu mencengangkan.
Kawan, sebenarnya begitu banyak hal yang ingin kutulis, namun ada sebuah keterbatasan. Melihat perjalananmu, kau telah mampu menaklukan segala kelemahan dan memperbaiki segala kekurangan. Bahkan saat kami dalam keadaan diam, kau lebih memilih untuk senatiasa tetap bergerak dari pencapaian satu ke pencapaian berikutnya. Dan, nyatalah bahwa “ setiap yang mencari pastilah akan bertemu”.
Kawan, ada ‘keajaiban’ dalam fenomena pengabulan doa, dimana Allah menggerakan begitu banyak tangan diluar tangan-tangan kita, sehingga setiap yang mencari pasti akan bertemu. Menelisik spiritmu, yakni sebuah cita-cita untuk selalu menjadi lebih baik, serta menularkannya kepada yang lainnya sebagai bentuk upaya penegakan nilai-nilai moral remaja di tengah-tengah arus budaya hedonis. Demi cita-cita mulia itu, kau rela meluangkan waktu disela-sela rutinitas sekolahmu, memeras tenaga dan pikiran bahkan tak jarang mengorbankan hartanya demi pembiayaan sebuah kegiatan.
Pernah aku mencoba mereka-reka dalam acara training motivasi bersamamu. Dalam hati aku menciptakan sebuah dialog-dialog. Mungkin suatu saat akan ada seseorang bertanya, “ berapa bayaran/ gaji yang kau terima dalam training ini?”
Kawan, saya katakan bahwa kita telah membukukan keuntungan yang tak terhitung jumlahnya, dan memperoleh gaji yang besarnya tak tertandingi oleh gaji perusahaan manapun!
Siapakah mereka? Mereka adalah anak-anak muda kisaran 17 tahunan, yang mengorbankan masa mudanya untuk sebuah aktivitas perbaikan. Saat anak muda seusia mereka menikmati minggu dengan nongkrong dan duduk santai, mereka berkutat dengan kajian. Sepulang sekolah saat teman-teman mereka pulang dengan cewek atau cowoknya, mereka berjibaku dalam lingkaran cahaya di atmosfer cinta dalam mentoringnya. Dan dedikasi yang luar biasa itu, mereka tak pernah redup dalam semangat. Ketika harus hadir rapat, walau berjalan ataupun bersepeda menghabiskan puluhan kilo. Bahkan tak jarang harus merogoh kocek lebih dalam untuk menutup kekurangan biaya kegiatan. Mereka cukupkan dengan pahala yang telah dijanjikan Allah kepada para penebar kebaikan.
Adakah yang mampu memberi yang lebih baik daripada itu?
Kawan, aku kabarkan kepadamu bahwa kita masih terus untuk berproses. Kita masih akan menjadi saksi kesabaran batu-batu itu meluncur sepanjang arus. Dia akan terus meluncur… menembus batasnya! Dia bergerak dari satu pencapaian ke pencapaian berikutnya. Seperti manzilah-manzilah kejayaan yang ditinggalkan… jejak-jejak yang tertulis oleh malaikat berbaris-baris!
Masih banyak tahun-tahun didepan sana! Ada dua hal yang tetap membuat kita bertahan : kebersamaan dalam jama’ah dan cita-cita yang tak ada padamnya. Dan kita memiliki keduanya, maka yakinlah, Allah kita Maha Kaya, dan akan mencukupkan setiap kekurangan daripadanya.
Ikapti, Sofistika Carevy Ediwindra, Fera Agustia Rahmawati, Latifah, Lusi, Amaliasari, Siti Maryam, Yiyin, Sylvia !! Menatapmu, aku luruh dalam BANGGA!
[Candra Yusgianto]
Depan Mushola Al Amin, Bumi Perkemahan Munjul Luhur.
Apakah sama antara diam dan bergerak? Dipandang secara kasat, tentulah itu dua aktivitas yang jauh berbeda. Diam tak bergerak, dan bergerak tidak diam. Namun menelisik ke dalam esensi tindakannya, kita akan menemukan perbedaan yang sangat fundamental; manakah yang lebih baik antara diam dan bergerak. Diam lebih buruk dari bergerak? Belum tentu! Ataukah diam lebih baik dari bergerak? Tidak ada jaminan. Yang menentukan mana yang lebih baik adalah motivasi dan esensi dari masing-masing aktivitas tersebut; apakah diam ataukah bergerak.
Takeshi Matsuoka, seorang penganut zen dan penulis buku best seller Samurai [Kastil Awan Burung Gereja dan Jembatan Musim Gugur], menuliskan bahwa saat seorang Samurai bertugas ‘menunggu,’ maka samurai tersebut harus diam seperti batu; sabar, kokoh, tak tergoda bisikan apa pun. Pada saat menyerbu, dia pun harus bergerak seperti batu yang diluncurkan dari puncak gunung; tak peduli dengan halangan, meluncur dengan segala kekuatan, tak bisa dibelokkan.
Esensi kedua aktivitas yang ‘terlihat’ berbeda itu menjadi sama: komitmen, continuity, dan keseriusan. Faktanya, apabila ketiga hal tersebut telah melekat pada diri seseorang maka yakinlah bahwa saat diamnya bukanlah menyerah, dan saat bergeraknya bukanlah salah kaprah atau salah arah! Diam atau bergeraknya adalah sebuah tindakan yang telah direncanakan, memiliki esensi dan kekuatan.
Kedatanganku yang belum sempat satu tahun, tapi menyaksikan pertumbuhanmu selama dua sampai tiga tahun, saya seperti menyaksikan kesabaran batu-batu yang meluncur dari puncak gunung! Siapa yang menyangka batu-batu kecil yang tampak tak memiliki kekuatan itu mampu bertahan dan menembus segala hambatan. Entah berawal dari mana, kota pinggiran itu telah melahirkan samurai-samurai wanita, maklum karena kesembilan kau adalah wanita. Seperti sekelompok samurai yang mendapat perintah untuk ‘menyerbu’ kau bergerak laksana batu yang diluncurkan dari puncak gunung! Tak terbilang hambatan telah dilampaui, tak terhitung halangan telah ditembus sehingga mampu ‘tiba’ sekarang ini prestasi-perstasi yang begitu mencengangkan.
Kawan, sebenarnya begitu banyak hal yang ingin kutulis, namun ada sebuah keterbatasan. Melihat perjalananmu, kau telah mampu menaklukan segala kelemahan dan memperbaiki segala kekurangan. Bahkan saat kami dalam keadaan diam, kau lebih memilih untuk senatiasa tetap bergerak dari pencapaian satu ke pencapaian berikutnya. Dan, nyatalah bahwa “ setiap yang mencari pastilah akan bertemu”.
Kawan, ada ‘keajaiban’ dalam fenomena pengabulan doa, dimana Allah menggerakan begitu banyak tangan diluar tangan-tangan kita, sehingga setiap yang mencari pasti akan bertemu. Menelisik spiritmu, yakni sebuah cita-cita untuk selalu menjadi lebih baik, serta menularkannya kepada yang lainnya sebagai bentuk upaya penegakan nilai-nilai moral remaja di tengah-tengah arus budaya hedonis. Demi cita-cita mulia itu, kau rela meluangkan waktu disela-sela rutinitas sekolahmu, memeras tenaga dan pikiran bahkan tak jarang mengorbankan hartanya demi pembiayaan sebuah kegiatan.
Pernah aku mencoba mereka-reka dalam acara training motivasi bersamamu. Dalam hati aku menciptakan sebuah dialog-dialog. Mungkin suatu saat akan ada seseorang bertanya, “ berapa bayaran/ gaji yang kau terima dalam training ini?”
Kawan, saya katakan bahwa kita telah membukukan keuntungan yang tak terhitung jumlahnya, dan memperoleh gaji yang besarnya tak tertandingi oleh gaji perusahaan manapun!
Siapakah mereka? Mereka adalah anak-anak muda kisaran 17 tahunan, yang mengorbankan masa mudanya untuk sebuah aktivitas perbaikan. Saat anak muda seusia mereka menikmati minggu dengan nongkrong dan duduk santai, mereka berkutat dengan kajian. Sepulang sekolah saat teman-teman mereka pulang dengan cewek atau cowoknya, mereka berjibaku dalam lingkaran cahaya di atmosfer cinta dalam mentoringnya. Dan dedikasi yang luar biasa itu, mereka tak pernah redup dalam semangat. Ketika harus hadir rapat, walau berjalan ataupun bersepeda menghabiskan puluhan kilo. Bahkan tak jarang harus merogoh kocek lebih dalam untuk menutup kekurangan biaya kegiatan. Mereka cukupkan dengan pahala yang telah dijanjikan Allah kepada para penebar kebaikan.
Adakah yang mampu memberi yang lebih baik daripada itu?
Kawan, aku kabarkan kepadamu bahwa kita masih terus untuk berproses. Kita masih akan menjadi saksi kesabaran batu-batu itu meluncur sepanjang arus. Dia akan terus meluncur… menembus batasnya! Dia bergerak dari satu pencapaian ke pencapaian berikutnya. Seperti manzilah-manzilah kejayaan yang ditinggalkan… jejak-jejak yang tertulis oleh malaikat berbaris-baris!
Masih banyak tahun-tahun didepan sana! Ada dua hal yang tetap membuat kita bertahan : kebersamaan dalam jama’ah dan cita-cita yang tak ada padamnya. Dan kita memiliki keduanya, maka yakinlah, Allah kita Maha Kaya, dan akan mencukupkan setiap kekurangan daripadanya.
Ikapti, Sofistika Carevy Ediwindra, Fera Agustia Rahmawati, Latifah, Lusi, Amaliasari, Siti Maryam, Yiyin, Sylvia !! Menatapmu, aku luruh dalam BANGGA!
[Candra Yusgianto]
Depan Mushola Al Amin, Bumi Perkemahan Munjul Luhur.
Monday, April 12, 2010
MEMBERI MAKNA-MAKNA
9:08 AM | Diposkan oleh
Salman
Alangkah bahagianya seorang laki-laki yang memiliki istri sebait puisi
Jika kata-kata itu saya kirimkan ke ponsel Anda, apa yang Anda pikirkan? Jika Anda seorang perempuan dan Anda seorang yang cukup sensitif terhadap kata-kata indah, mungkin Anda akan Gede Rasa dan mengira seseorang (yang Anda asumsikan laki-laki karena ia berbicara tentang istri) yang menuliskan itu bermaksud mengatakan bahwa: ia menginginkan seorang istri dan istrinya haruslah indah dan dalam seperti makna sebait puisi, dan mungkin ia adalah Anda (sebab kalimat itu muncul di ponsel Anda, bukan?). Tetapi jika Anda seorang perempuan yang tidak mengerti puisi dan menganggap dunia imajinatif dan kata-kata romantis adalah wasting time, mungkin Anda akan langsung menghapus kalimat itu, mungkin sambil sedikit menggerutu.
Nah, bagaimana jika Anda adalah seorang pria lajang yang belum menikah, mungkin Anda akan berpikir hal yang sama dengan si penulis kalimat, atau sebaliknya bertanya mengapa harus puisi? Mengapa bukan seindah taman surga, atau secantik bidadari? Karena Anda tidak mengerti puisi. Tetapi satu pertanyaan menggelitik, tepat jugakah perumpamaan seindah taman surga atau secantik bidadari, karena sesungguhnya Anda belum pernah melihat kedua-duanya? Tahukah Anda, betapa kata-kata, kalimat-kalimat, sesungguhnya begitu tulus, jernih, murni dan netral, lalu kitalah yang memberikan makna-makna, tafsiran-tafsiran sesuai pengalaman kita, sesuai cara pandang subyektif kita, sikap dan nilai-nilai pribadi kita, sesuai konteks fisiologis dan psikologis kita, bahkan sesuai dengan gender kita. Begitulah kehidupan kita sehari-hari, dalam hitungan waktu dan ukuran ruang, kita sibuk memaknai kata-kata, kalimat-kalimat sesuai dengan diri kita sendiri.
Saya menjadi teringat dengan kata-kata seorang filosof eksistensialis, Kierkeegard, ia mengatakan, ”Bukan individu yang melahirkan kata-kata, tetapi kata-katalah yang melahirkan individu”. Saya rasa ada benarnya juga, karena kata-kata yang kita maknai secara pribadi itulah yang kemudian membentuk kita.
Lalu dalam konteks kehidupan kita sebagai da’i, alangkah sering segala pemaknaan itu kita lakukan dan acapkali jika kita tidak menjaga jarak yang obyektif terhadapnya maka kita akan terpuruk pada prasangka, terjerumus pada ketakutan, kekhawatiran, terjerat pada kesedihan, sebab kita membiarkan kata-kata meringkus kita menjadi kerdil dan sempit.
Tadi malam beberapa sms masuk ke ponsel saya, menanggapi beberapa ketidaksetujuan karena saya dianggap telah mengambil beberapa keputusan sendiri tanpa adanya koordinasi. Bagi saya kata-kata itu adalah sebuah kebahagiaan, ternyata masih begitu banyak orang yang mencintai saya. Masih ada perhatian bahwa seolah-olah mereka hendak mengatakan “ kami masih bersama Anda, janganlah kau berjalan sendirian”.
Kawan, pernahkah kau mendengar kata-kata yang tidak enak didengar? Mungkin yang telah mempunyai anak sering mendengar kata-kata dari anaknya, “uh, ummi nakal, aku tidak sayang ummi”, lantas kita menjadi sedih dan kecewa, karena kita memaknainya dengan penolakan, ketidakcintaan dan mungkin kebencian. Kita lupa bahwa si anak memiliki konteks fisiologis, psikologis, dan cara berpikir sendiri yang tidak bisa dilepaskan dari ruang dan waktu.
Sebaliknya, jika kita cukup cerdas, boleh jadi kita akan menggunakan keajaiban pemaknaan kata-kata itu sebagai sarana diplomasi dan perang pemikiran. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW ketika ia ditanya oleh seorang kafir, ”Min aina anta?” Rasulullah menjawab, ”Min maa’”. Jawaban yang cerdik dan genial bukan? Seberapa luas pemaknaan maa’ (air) dibanding jika Rasul menjawabnya dengan menyebut nama kota . Maa’ bisa berarti air, bisa berarti nama kota yang terkenal banyak air (Irak), atau Maa’ bisa berarti air kehidupan, sebab Rasulullah adalah manusia yang tercipta dari air laki-laki dan wanita.
Saya jadi teringat lagi kepada Diogenes seorang tokoh dari kaum sinis dan stoik yang hidup di dalam tong bersama sebuah tongkat dan sepotong roti, pada suatu hari saat ia sedang berjemur sinar matahari saat Alexander Agung datang mengunjunginya dan bertanya kepadanya tentang apa-apa yang diperlukannya, ia menjawab, ”Bergeserlah sedikit, Anda menghalangi sinar matahari”. Haha. Kebahagiaan begitu sulit dicuri darinya, bukan? Sebagaimana sulitnya mencuri kebahagiaan milik Ibnu Taimiyah yang ketika ia dipenjara ia berkata, ”Apa yang bisa raja-raja diambil dariku? Sesungguhnya tamanku ada di dalam hatiku”.
Demikianlah kita, disebabkan kedangkalan kita terhadap makna-makna, kita sering memberikan tafsir secara harafiah, profan dan meringkus potensi positif kita sendiri. Boleh jadi, pandangan untuk mencapai kondisi jiwa yang sehat ala para psikolog timur ada benarnya, ”Bersikaplah netral terhadap apa saja yang muncul dan hilanglah dalam arus kesadaran”.
Tuesday, April 6, 2010
Mencari Ibu Untuk Anak Kita...!!
3:01 PM | Diposkan oleh
Salman
Ia adalah warna tinta kehidupan yang akan mewarnai jiwa anak kita kelak.....
Suatu Hari Imam Syafi'i di tanya muridnya
"sejak kapan engkau wahai guruku..mendidik putramu.." ujar murid itu.
"Sejak aku belum menikah...aku mencarikan wanita yang baik, untuk tempat lahirnya anakku kelak..
Ia memang bukan Khadijah..
atau 'Aisyah
Ia wanita zaman ini
tapi ia punya nurani
untuk meneladani keduanya...
Sahabat,
Ia menutup auratnya
dengan busana paling indah di jagad ini
karena ia tahu hanya suaminya saja kelak mahkota itu ia persembahkan....
Ia menudukkan pandangannya, menjaga nada suaranya
karena ia tahu...
ada celah setan disana
untuk menggodanya...
Ia tak pernah memberatkan maharnya...
baginya
ketakwaan dan bimbingan suaminya kelak adalah segalanya....
Ia...
Ia...
Ia...
Kata Nabi saw....
"sebaik-baiknya perhiasan dunia..."
Berbahagialah engkau yang menemukannya....
^_^
Monday, April 5, 2010
Manusia Kampret
9:48 PM | Diposkan oleh
Salman
Tak ada alasan untuk gagal!! Yap, itulah ilmu baru yang saya dapat malam dulu bersama mas Didik Hermawan. Sebuah kelompok ditanya, siapa yang tidak bisa berenang? beberapa mengacungkan jari. Lalu mereka menjawab alasan kenapa tidak bisa berenang, takut, trauma, tidak ada fasilitas, dan lain-lain. Lalu ditanya lagi, siapa yang bisa berenang? sebagian mengacungkan jari. Kemudian pertanyaan kembali dilepaskan, apa mereka pernah mempunyai ketakutan yang sama sebelumnya dengan yang tidak bisa berenang? jawabnya, YA. Lantas kenapa ada yang bisa dan ada yang tidak bisa? ternyata perbedaannya adalah; meski dengan rasa takut yang sama, fasilitas seadanya yang serupa, kesulitan yang tidak berbeda, yang bisa berenang tetap mencoba dan berlatih sambil membawa mimpi yang dengannya derita bisa terlampaui.
'Tidaklah Allah membebani seorang kecuali sebatas kemampuannya" (QS. Al Baqoroh: 286).
'Tidaklah Allah membebani seorang kecuali sebatas kemampuannya" (QS. Al Baqoroh: 286).
Sebuah nasehat motivasi dari Sang Maha Kuasa.
Jangan jadi 'manusia kampret', bergantung terus sama orang lain. Sebuah pertanyaan besar, kita sering merasa diri kita tidak ternilai. Sebagian benar, tapi berapakah nilai kita sebenarnya? beberapa menggunakan kecukupan finansial dengan mengkalkulasikannya untuk beberapa hal sehingga dihasilkan pendapatan berupa uang yang mampu kita capai. Banyak dari kita yang cuma bernilai 2000, 3000, sampai 7000, itulah nilai kita sebenarnya, itupun bagi yang senang bekerja (walaupun bekerja itu tidaklah buruk ). Memang betul, kebanyakan kita masih menjadi 'manusia kampret' yang bergantung terus sama orang lain, tak mencoba untuk belajar mandiri. Dan, pertanyaannya: 'se-kampret apakah kita?'
Sunday, April 4, 2010
Kado Paling Istimewa
12:12 AM | Diposkan oleh
Salman
Sebuah UCAPAN akan terasa MEWAH sebelum diminta. Seorang istri menunggu begitu lama…sangsuami mengeluarkan kata I LOVE YOU.
“rasanya seperti penerjun saat melayang-layang di udara penuh kemenangan”, katanya.
Bila cinta mengapa kau tak katakan dari dulu saja? Lanjutnya.
“ saya memang sengaja tak ingin mengucap itu, saya lebih baik menunggu. Sebab, aku ingin melakukannya tanpa diminta. Dan, walaupun aku melakukannya baru pertama kali, tapi terasa sangat mewah dibandingkan aku melakukannya berulang-ulang setelah tahu bahwa kau memintanya”
Untuk tiga kata sederhana itu?
“ itu bukan sesuatu yang sederhana tetapi istimewa” jawabnya. Bangga.
Benarkah demikian?
Kawan, ucapan juga salah satu wujud dari perhatian, kasih sayang, jalinan persahabatan dan lebih tepatnya ikatan ukhuwah. Ucapan selamat, ucapan menanyakan kabar, ucapan penyemangat serupa belaian lembut tangan seorang ibu kepada anaknya. Oh..ternyata masih banyak yang mencintai saya, begitu banyak perhatian terhadap saya. Mungkin itulah ungkapan yang muncul.
Kemarin ketika saya mengikuti acara reses dewan, bertemu seorang teman. Dia bercerita, bahwa dia merasa sangat senang sekali, merasa mendapat lebih dari sekedar hadiah. Ucapan selamat atas kelahiran putranya datang dari salah satu aleg DPR RI kepadanya, dia tak begitu dekat mengenalnya, tetapi doa dan perhatiannya bagai sebuah kado yang MEWAH dan ISTIMEWA. Mungkin ini pernah diajarkan juga oleh seorang lelaki mulia, beliau adalah pemimpin negara, yang saat mengimami shalat atau memimpin perjalanan jauh sempat bertanya, “ Dimana si Fulan? Mengapa ia tak tampak? “ ah…indahnya sebuah bahasa CINTA.
Ucapan-ucapan itu, sungguh, merupakan ungkapan perhatian dan kasih sayang. Ia adalah bagian dari kekayaan hati manusia. Betapa sungguh, setiap menerima ucapan ulang tahun, doa pernikahan, ucapan kesuksesan, ucapan kelulusan, ucapan kesembuhan, dan lain-lain ada keterharuan yang menyemaraki dada. Bukan pada kadonya saya rasa, bukan pada ucapan ataupun doanya yang cenderung mengawang-awang. Tapi oleh sebuah sugesti bahwa saya masih menempati sebuah ruang di hati orang lain. Karenanya, selalu saja ada yang menyampaikan selamat itu tanpa terlebih dulu saya memberi kartu undangan pesta atau membuat woro-woro bahwa hari ini saya berulang tahun, hari ini saya sakit, besok lusa saya menikah, sebulan ini saya lagi tak bersemangat.
Dengan demikian, saya merasa ‘begitu berharga’ kendati saya tidak lantas menggeneralisir bahwa mereka yang tidak mengucapkan selamat itu lantas berarti tidak menghargai saya.
Ah, tapi tunggu…Apakah Tuhan hanya milik orang-orang yang menikah, orang-orang yang ulang tahun ataukah orang-orang yang diberi sebuah kesuksesan. Tentu saja tidak, Tuhan akan mengabulkan doa siapa saja, pada waktu kapan saja, dan itu adalah janji-Nya. Dia tidak perlu menunggu seseorang berulang tahun untuk menunjukkan cinta-Nya sebab cinta itu tak pernah kering.
Lantas, betapa kemudian saya teringat dengan sebuah tulisan Martha Bolton dalam buku I Love You... Still. Tulisnya:
“Kami mengemudi di Interstate 40, dan dalam perjalanan kami melihat pemandangan yang luar biasa. Tidak ada rambu-rambu untuk menasihatkan pengemudi berhenti dan menikmati pemandangan itu. Itu tidak diperlukan. Anda tidak bisa melewatkannya.
Sedikit lebih jauh, ketika akhirnya saya melihat tanda bertuliskan “Pemandangan Alam” dicetak di atasnya, pemandangannya tidak terlalu berbeda dengan yang kami lewati sejauh enam puluh mil. Namun, tetap saja pengemudi menepi; keluar dari mobil, membawa kamera di tangan dan dengan semangat memotret.
Saya tidak percaya bahwa mereka sungguh memerlukan tanda untuk menunjukkan keindahan yang sudah ada di hadapan mereka sepanjang jalan.” Dalam buku tersebut, Martha menyebutkan bahwa mengungkapkan cinta sesungguhnya tak memerlukan tanda apa pun. Banyak orang yang menjadi ‘bodoh’ dengan menganggap sebuah tanda sebagai tempat sakral.
Sebenarnya, seperti indahnya pemandangan sepanjang perjalanan yang dilalui oleh Martha, setiap jenak dalam hidup kita adalah momen yang tepat untuk berbagi doa dan mengungkapkan kasih sayang. Tidak ada bedanya antara hari ulang tahun, pernikahan dan lain sebagainya dengan hari biasa. Hanya saja, karena melihat sebuah tanda berupa ‘hari jadi’ tadi, lantas semua orang berhenti sejenak, menyempatkan diri mengucap selamat yang dilanjutkan doa.
Betapa rumitnya.
Namun, suatu saat saya merasa perlu berpikir sebaliknya. Bahwa, kadang-kadang saya pun merasa ‘canggung’ untuk mengucapkan ‘cinta’ kepada saudara, orang tua, sahabat... tanpa sebelumnya didahului oleh sebuah ‘tanda.’ Betapa saya merasa, tak ada angin, tak ada hujan, tak ada petir apalagi bom nuklir, tiba-tiba saya mengucapkan: “Semoga barakah umurmu, semoga semakin dewasa, semoga berbahagia, tercapai apa yang kaucita dan cintakan.” Bukannya mengamini, barangkali ‘seseorang’ yang saya hadiahi doa itu justru akan terbengong-bengong dan bertanya, “Candra, kamu kenapa? Kok, tiba-tiba error begitu?”
Bukan dalam arti saya tidak sependapat dengan Martha, atau juga Anda, bahwa setiap jeda dalam hidup kita adalah momen yang tepat untuk mengungkapkan kasih sayang dan saling mendoakan. Allah tidak pernah membedakan doa yang diucapkan pada hari ulang tahun, hari menikah, hari dimana mendapat sebuah nikmat dengan hari biasa. Namun, terkadang memang kita memerlukan ‘tanda kecil’ untuk merasa nyaman melakukan sesuatu. Jika belum menjadi kebiasaan bagi Anda untuk mendoakan orang yang Anda cintai, saya memahami. Anda bisa memanfaatkan momen-momen itu jika Anda memang canggung mengucapkan doa langsung di depan teman Anda sebagai ungkapan perhatian dan cinta.
Seperti seorang lelaki kecil di hari ulang tahunnya yang kesepuluh mendapat hadiah yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Tidak kah kau ingin mengganti hadiahmu, Ayah, dengan sesuatau yang berbeda. Sebab aku ingin kejutan dan kebahagiaan”.
"Barangkali 'bahagia' hanya bisa diberikan oleh 'keterkejutan' atau sesuatu yang berbeda," kata ayahnya. "Tapi, jika hadiah itu sebuah doa, apakah kau akan meminta Ayah tidak lagi mendoakanmu, dan memberi sesuatu selain doa?" Ayahnya menjawab
Mungkin, seiring jalannya waktu, di lain kesempatan, Anda bisa bebas menghadiahi teman Anda doa kapan saja Anda mau. Anda kemudian akan mulai melihat ada begitu banyak waktu istimewa untuk orang yang Anda cintai dan kasihi. Lantas... pelan-pelan, semua waktu akan menjadi istimewa. Semua waktu akan menjadi pemberhentian yang tepat untuk mengucap doa. Anda tak perlu lagi repot menunggu tahun depan untuk sekadar menambahkan doa yang Anda rasa kurang lengkap pada sahabat Anda; kemarin!
Sebab, Tuhan bukan hanya milik orang-orang yang memiliki tanda. Doa adalah kado paling istimewa. Dan untuk saudara-saudara kita di PALESTINA, DOA adalah WEAPON OF UMMAH.
“rasanya seperti penerjun saat melayang-layang di udara penuh kemenangan”, katanya.
Bila cinta mengapa kau tak katakan dari dulu saja? Lanjutnya.
“ saya memang sengaja tak ingin mengucap itu, saya lebih baik menunggu. Sebab, aku ingin melakukannya tanpa diminta. Dan, walaupun aku melakukannya baru pertama kali, tapi terasa sangat mewah dibandingkan aku melakukannya berulang-ulang setelah tahu bahwa kau memintanya”
Untuk tiga kata sederhana itu?
“ itu bukan sesuatu yang sederhana tetapi istimewa” jawabnya. Bangga.
Benarkah demikian?
Kawan, ucapan juga salah satu wujud dari perhatian, kasih sayang, jalinan persahabatan dan lebih tepatnya ikatan ukhuwah. Ucapan selamat, ucapan menanyakan kabar, ucapan penyemangat serupa belaian lembut tangan seorang ibu kepada anaknya. Oh..ternyata masih banyak yang mencintai saya, begitu banyak perhatian terhadap saya. Mungkin itulah ungkapan yang muncul.
Kemarin ketika saya mengikuti acara reses dewan, bertemu seorang teman. Dia bercerita, bahwa dia merasa sangat senang sekali, merasa mendapat lebih dari sekedar hadiah. Ucapan selamat atas kelahiran putranya datang dari salah satu aleg DPR RI kepadanya, dia tak begitu dekat mengenalnya, tetapi doa dan perhatiannya bagai sebuah kado yang MEWAH dan ISTIMEWA. Mungkin ini pernah diajarkan juga oleh seorang lelaki mulia, beliau adalah pemimpin negara, yang saat mengimami shalat atau memimpin perjalanan jauh sempat bertanya, “ Dimana si Fulan? Mengapa ia tak tampak? “ ah…indahnya sebuah bahasa CINTA.
Ucapan-ucapan itu, sungguh, merupakan ungkapan perhatian dan kasih sayang. Ia adalah bagian dari kekayaan hati manusia. Betapa sungguh, setiap menerima ucapan ulang tahun, doa pernikahan, ucapan kesuksesan, ucapan kelulusan, ucapan kesembuhan, dan lain-lain ada keterharuan yang menyemaraki dada. Bukan pada kadonya saya rasa, bukan pada ucapan ataupun doanya yang cenderung mengawang-awang. Tapi oleh sebuah sugesti bahwa saya masih menempati sebuah ruang di hati orang lain. Karenanya, selalu saja ada yang menyampaikan selamat itu tanpa terlebih dulu saya memberi kartu undangan pesta atau membuat woro-woro bahwa hari ini saya berulang tahun, hari ini saya sakit, besok lusa saya menikah, sebulan ini saya lagi tak bersemangat.
Dengan demikian, saya merasa ‘begitu berharga’ kendati saya tidak lantas menggeneralisir bahwa mereka yang tidak mengucapkan selamat itu lantas berarti tidak menghargai saya.
Ah, tapi tunggu…Apakah Tuhan hanya milik orang-orang yang menikah, orang-orang yang ulang tahun ataukah orang-orang yang diberi sebuah kesuksesan. Tentu saja tidak, Tuhan akan mengabulkan doa siapa saja, pada waktu kapan saja, dan itu adalah janji-Nya. Dia tidak perlu menunggu seseorang berulang tahun untuk menunjukkan cinta-Nya sebab cinta itu tak pernah kering.
Lantas, betapa kemudian saya teringat dengan sebuah tulisan Martha Bolton dalam buku I Love You... Still. Tulisnya:
“Kami mengemudi di Interstate 40, dan dalam perjalanan kami melihat pemandangan yang luar biasa. Tidak ada rambu-rambu untuk menasihatkan pengemudi berhenti dan menikmati pemandangan itu. Itu tidak diperlukan. Anda tidak bisa melewatkannya.
Sedikit lebih jauh, ketika akhirnya saya melihat tanda bertuliskan “Pemandangan Alam” dicetak di atasnya, pemandangannya tidak terlalu berbeda dengan yang kami lewati sejauh enam puluh mil. Namun, tetap saja pengemudi menepi; keluar dari mobil, membawa kamera di tangan dan dengan semangat memotret.
Saya tidak percaya bahwa mereka sungguh memerlukan tanda untuk menunjukkan keindahan yang sudah ada di hadapan mereka sepanjang jalan.” Dalam buku tersebut, Martha menyebutkan bahwa mengungkapkan cinta sesungguhnya tak memerlukan tanda apa pun. Banyak orang yang menjadi ‘bodoh’ dengan menganggap sebuah tanda sebagai tempat sakral.
Sebenarnya, seperti indahnya pemandangan sepanjang perjalanan yang dilalui oleh Martha, setiap jenak dalam hidup kita adalah momen yang tepat untuk berbagi doa dan mengungkapkan kasih sayang. Tidak ada bedanya antara hari ulang tahun, pernikahan dan lain sebagainya dengan hari biasa. Hanya saja, karena melihat sebuah tanda berupa ‘hari jadi’ tadi, lantas semua orang berhenti sejenak, menyempatkan diri mengucap selamat yang dilanjutkan doa.
Betapa rumitnya.
Namun, suatu saat saya merasa perlu berpikir sebaliknya. Bahwa, kadang-kadang saya pun merasa ‘canggung’ untuk mengucapkan ‘cinta’ kepada saudara, orang tua, sahabat... tanpa sebelumnya didahului oleh sebuah ‘tanda.’ Betapa saya merasa, tak ada angin, tak ada hujan, tak ada petir apalagi bom nuklir, tiba-tiba saya mengucapkan: “Semoga barakah umurmu, semoga semakin dewasa, semoga berbahagia, tercapai apa yang kaucita dan cintakan.” Bukannya mengamini, barangkali ‘seseorang’ yang saya hadiahi doa itu justru akan terbengong-bengong dan bertanya, “Candra, kamu kenapa? Kok, tiba-tiba error begitu?”
Bukan dalam arti saya tidak sependapat dengan Martha, atau juga Anda, bahwa setiap jeda dalam hidup kita adalah momen yang tepat untuk mengungkapkan kasih sayang dan saling mendoakan. Allah tidak pernah membedakan doa yang diucapkan pada hari ulang tahun, hari menikah, hari dimana mendapat sebuah nikmat dengan hari biasa. Namun, terkadang memang kita memerlukan ‘tanda kecil’ untuk merasa nyaman melakukan sesuatu. Jika belum menjadi kebiasaan bagi Anda untuk mendoakan orang yang Anda cintai, saya memahami. Anda bisa memanfaatkan momen-momen itu jika Anda memang canggung mengucapkan doa langsung di depan teman Anda sebagai ungkapan perhatian dan cinta.
Seperti seorang lelaki kecil di hari ulang tahunnya yang kesepuluh mendapat hadiah yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Tidak kah kau ingin mengganti hadiahmu, Ayah, dengan sesuatau yang berbeda. Sebab aku ingin kejutan dan kebahagiaan”.
"Barangkali 'bahagia' hanya bisa diberikan oleh 'keterkejutan' atau sesuatu yang berbeda," kata ayahnya. "Tapi, jika hadiah itu sebuah doa, apakah kau akan meminta Ayah tidak lagi mendoakanmu, dan memberi sesuatu selain doa?" Ayahnya menjawab
Mungkin, seiring jalannya waktu, di lain kesempatan, Anda bisa bebas menghadiahi teman Anda doa kapan saja Anda mau. Anda kemudian akan mulai melihat ada begitu banyak waktu istimewa untuk orang yang Anda cintai dan kasihi. Lantas... pelan-pelan, semua waktu akan menjadi istimewa. Semua waktu akan menjadi pemberhentian yang tepat untuk mengucap doa. Anda tak perlu lagi repot menunggu tahun depan untuk sekadar menambahkan doa yang Anda rasa kurang lengkap pada sahabat Anda; kemarin!
Sebab, Tuhan bukan hanya milik orang-orang yang memiliki tanda. Doa adalah kado paling istimewa. Dan untuk saudara-saudara kita di PALESTINA, DOA adalah WEAPON OF UMMAH.
Sepulang Liqoat.
Subscribe to:
Posts (Atom)












