Labels
- Cerpen (4)
- Coretankuh (7)
- Diary Sepi (16)
- Essai (3)
- Kontemplasi (2)
- Menenun Jalinan Cinta (3)
- Refleksi dan Inspirasi (4)
Sinuba Sinukarsa
Blog Archive
Powered by Blogger.
Popular Posts
Friday, June 25, 2010
Abang, Ijinkan Dinda Nonton Bola
6:42 PM | Diposkan oleh
Salman
Assalamu’alaykum wr. wb.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Keseluruhan
puja-puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga keselamatan dan
kesejahteraan dilimpahkan atas Nabi Muhammad, utusan-Nya yang mulia
Abang Yasir yang Dinda cintai,
Maafin Dinda ya Bang! Secara dulu sewaktu ta’aruf Dinda tidak memberitahu
Abang tentang hobi Dinda ini. Ya, baiklah. Sekarang Dinda akan menjelaskan. Hobi
Dinda adalah menonton pertandingan sepak bola. Awalnya Dinda suka nonton bola
Cuma karena ngikut temen. Sewaktu Dinda masuk SMA, televisi sering menyiarkan
pertandingan sepak bola luar negeri, terutama Liga Italia dan Liga Inggris.
Wuih, seru banget!
Bang, dulu dengan hobi Dinda nonton bola, paling tidak ada yang menemani
Bapak nonton. Penghuni rumah lainnya gak ada yang suka nonton. Biasanya kami
berdua akan bersorak-sorak ramai dan saling adu komentar. Pokoknya seru! dan
yang pasti “I Love You Daddy” ( Eh iya, kalau diperhatiin bapak kan mirip David
Beckham, iya kan bang!) hihihi...
Lantas saat Dinda “jadi akhwat” berjilbab dan kuliah, hobi itu tidak bisa Dinda
tinggalkan . Apalagi banyak muslimah lain yang punya hobi sama. Jadi Dinda
pikir hobi Dinda ini tidak menyebabkan keislaman dan kemuslimahan Dinda
“dianulir” dan menjatuhkan studi Dinda.
Abang Yasir yang Dinda cintai
Sekarang pun Dinda masih hobi menonton bola, walau sudah tidak seperti dulu.
Katanya sih menyia-nyiakan waktu dan biaya. Karena dulu Dinda bela-belain beli
tabloid olahraga dan majalah untuk menambah wawasan persepakbolaan. Seiring
berjalannya waktu, sekarang Dinda udah jarang nonton bola, mungkin karena
kesibukan dan juga karena harga tabloid yang semakin mahal sehingga jarang
membelinya.
Abang Yasir,
kalau dipikir-pikir sepak bola itu juga mirip proses kehidupan di dunia lho. Seperti pemain bola kita sudah tahu,
bagaimana menggiring bola kehidupan kita agar selamat sampai gawang tujuan. Lawan
atau rintangan hidup sebagai ujian dan cobaan harus terus kita hadapi dengan
cerdik. Jangan bermain curang dan kasar (Ingat Materazzi dan Zidane di final
Piala Dunia 2006?), sebab Islam mengajarkan kejujuran dan kelembutan.
Namun jangan pula cengeng. Kalau kita terjatuh karena dijegal lawan,
bangkit lagi! Kejarlah bola kembali, walau harus jatuh bangun. Tapi itu bukan
ebrarti menyerang membabi buta. Bagaimana pun kita harus punya taktik dan
strategi serta kemampuan membaca permainan lawan agar dapat menguasai lapangan.
Konsistenlah dengan posisi masing-masing dan laksanakan tugas dengan istiqamah
supaya tercipta kesatuan yang solid.
Kemudian di atas segalanya, ada Wasit atau Hakim yang Maha Bijaksana
yang menentukan semuanya. Pluit-Nya yang sesekali berbunyi, semoga hanya berisi
“kartu kuning” atau peringatan, bukan kartu merah.
Abang Yasir yang amat Dinda sayangi,
Hampir lupa, nanti
malam pertandingan Brazil vs Portugal, temenin Dinda nonton yah bang!! Tapi
sayang, si ganteng Kaka’ kena kartu merah. “I Love You Bang” ( Eh Iya, Abang
makin ganteng kalo pake baju bola, mirip Kaka’...hihihi...)
Semoga kasih
sayang Allah tercurah pada kita sekalian. Amin.
Wassalamu’alaykum
Dinda
Tuesday, June 15, 2010
Bukan Dua kaki
9:50 PM | Diposkan oleh
Salman
Angin di
perbatasan Erez mendadak hilang yang sepintas tadi berdesir meninggi. Bahkan
langitnya yang tampak indah seperti retak mendadak : meratap, meminta agar
lelaki itu tidak meneruskan ambisinya lagi. Ambisi Netayahu, pemimpin tertinggi
Israel yang
terus berambisi meluaskan wilayahnya menguasai Gaza .
“Aku dengar
besok Haneya hendak ke Jabaliya?” tanya Edna. Lelaki pasukan Netayahu dengan
Uzi di tangannya itu meneliti sekeliling daerah pos Penjagaan Erez. Wajahnya
tampak mulai lelah hampir setengah hari berjaga. “Apa saja yang hendak
dilakukan Haneya?” matanya sesekali melempar pandangannya ke daerah bekas-bekas
pemukiman Yahudi yang telah dikosongkan.
Inilah yang
ditakutkan oleh para tentara Israel .
Kemenangan Hamas dalam pemilu telah membakar semangat Palestina. Penderitaan
telah membuat Palestina pandai memilih ibu. Penindasan, aneksasi, embargo, dan
tindakan brutal Israel ,
telah mengajari Palestina untuk memilih satu jalan : Jihad!
***
“Semalaman ia
nyaris tak tidur, sampai tengah malam ia masih membaca Al Qur’an. Dia sedang
asyik sholat malam, tatkala saya terjaga. Dia membaca ayat-ayat Nun sambil menangis”
ujar perempuan yang tak lain adalah istrinya.
Usai subuh Yasir,
lelaki 25 tahun itu kembali membaca Al Qur’an. Ayat-ayat jihad kembali
dibacanya dengan nada bergetar, sesekali ia berhenti menahan isak tangis.
Menjelang pukul
06.00 waktu Palestina, ia merapikan pakaiannya. Sejurus kemudian ia bergegas
untuk menemui istrinya.
Kepada istrinya,
dia berkata, “hari ini akan ada acara wisuda para hufadz di Gaza, ada sekitar
2740 hufadz yang hendak di lantik oleh Haneya. Dan aku hendak membersamai Haneya
disana. Boleh jadi ini adalah saat terpenting dalam proses perjalanan
pembebasan Palestina.” Ucapnya dengan mata berbinar.
“Semoga Allah
selalu melindungimu dan merahmatimu”, Yasir mengamini doa istrinya, lantas diam
tak berkata apa-apa. Istrinya memeluk erat Yasir yang masih berdiri tegap. Lalu
Yasir melepaskan pelukan hangat sang istri, mengecup keningnya dan bergegas
untuk berangkat.
Beberapa jam
kemudian, pukul sebelas waktu setempat. Suasana kota
Gaza seperti biasanya. Semrawut,
hiruk pikuk, berdebu dan selalu dihantui rasa takut setiap saat Israel
melancarkan serangan baik lewat udara, darat dan laut. Siang yang panas. Yasir
bergegas pulang ke rumah yang berada di pinggiran kota
Gaza . Dari kejauhan telah nampak
pintu perlintasan Erez yang dijaga ketat oleh tentara Israel .
Dan bekas-bekas pemukiman Yahudi yang telah dikosongkan juga terlihat,
terhalang oleh gundukan-gundukan pasir yang seolah membatasi pemukiman itu
dengan warga Palestina lainnya.
Yasir Al Akhras,
pemuda yang telah menjadi hafidz sejak usia 15 tahun semakin aktif dalam perjuangan
kemerdekaan Palestina, juga turut serta berkampanye untuk memenangkan Hamas
dalam Pemilu. Sudah tak terhitung aksinya, bagaimana dengan gagah berani dia
melempari tank-tank Israel
dengan batu, bersama teman-teman seperjuangnnya berlari menghindari gas-gas air
mata dan peluru karet. Tak ada rasa takut karena telah tertanam dalam dada :
kami cinta syahid, dan siap mati demi syahid.
“Beberapa
gundukan lagi aku sudah akan sampai di rumah dan segera bertemu dengan istriku”,
bisik Yasir dalam hati. Issa farah, istri Yasir yang baru dinikahinya satu
pekan sebelum Ramadhan adalah putri dari salah satu pemimpin tertinggi Hamas
yang telah gugur dalam penyerangan markaz tentara Israel .
Perempuan 23 tahun yang terlahir di kamp Dheishes itu mengerti benar hakekat
pernikahan di Palestina. Apalagi menikah dengan pemuda pejuang seperti Yasir
yang sewaktu-waktu bisa saja mendapat panggilan untuk melakukan bom syahid.
Namun tiba-tiba
suara pesawat mendekat seperti bumi yang hendak kiamat. Membuyarkan lamunan
Yasir. Sontak, mendongak ke atas. Sesuatu yang bersinar terang melesat dengan
cepatnya menuju pemukimam yang tak jauh dari gundukan pasir dimana Yasir
berdiri. Sinar itu makin terang, membutakan mata lalu diiringi suara runtuhan bangunan.
“Itu pemukimanku..!!
tempat tinggalku…! Farah!”, teriak Yasir.
Suara-suara
ledakan terus membahana beberapa saat. Membakar pemukiman-pemukiman warga
Palestina. Yasir hanya bisa terdiam sambil melihat pesawat-pesawat Zionis itu
meninggalkan tempat. Serangan itu memang tertuju ke rumah Yasir dan beberapa
tetangganya, serangan yang diarahkan kepada para aktivis Hamas. Suara sirine
ambulans beberapa saat mulai berdatangan.
“Aku tak punya
lagi waktu untuk berlama-lama!! Tinggal satu gundukan lagi akan sampai di
pemukiman dan rumahku”, kata Yasir pelan sambil mempercepat langkahnya. Dia
bergegas semakin mempercepat langkahnya, berlari sekencang-kencangnya melalui
gundukan pasir. Tiba-tiba, suara pesawat kembali melintas diatas kepalanya. Dan
kemudian…
BLARRRR!!!!
Sebuah bom jatuh
dan meledak tidak jauh dari Yasir berpijak. “Allahu Akbar…Allahu Akbar…” terdengar lirih suara takbir Yasir
meski perlahan. Suaranya kian meredup, diikuti pandangannya yang semakin kabur.
Hanya pasir-pasir dan pasir yang bisa dilihat, kemudian gelap.
***
Senja
di Jabaliya seusai Ramadhan
Desauan angin
gurun ini bagaikan denting dawai - dawai lara. Begitu pilu dan mencekam.
Bersimfonikan lagu kematian. Sesekali di selingi gelegar besar yang
menggetarkan bumi. Lalu asap hitam mengepul tinggi dan puing-puing pun gugur
berserak.
Jabaliya retak.
Hancur berkeping terserak. Ia ditangisi sendu seluruh alam. Meraung-raung mobil
ambulan tak berhenti lalu lalang penuh korban luka, tak jarang berisi
mayat-mayat tak utuh dan terbelah.
Jabaliya berubah
menjadi begitu pengap, amis dan banjir merah darah. Hari demi hari selalu jatuh
korban di tanahnya. Dan malaikat hilir mudik untuk menjemput jiwa-jiwa perkasa.
Entah sampai kapan?
“Tenanglah sayangku,
kau akan segera mendapat perawatan” kata Farah kepada Yasir, suaminya. Sementara
Farah semakin merapatkan pelukannya di dada Yasir. Matanya basah. Menatap suaminya
yang berada di depannya. Wajahnya babak belur, kumal penuh debu dan darah. Tetapi
yang lebih menyayat hati perempuan itu, adalah kedua kaki Yasir tersebut. Kedua
kakinya harus diamputasi akibat luka bakar yang sangat parah, luka bakar serius
sampai ke tulang yang ia prediksi berasal dari senjata kimia.
Sementara diluar
sana serdadu Israel
sedang haus darah. Memburu siapa saja yang hendak dijadikan mangsa. Bagai
serigala lapar mereka menembaki siapa saja yang mereka temui. Sejuta tangis
pecah. Satu per satu rumah dan bangunan luluh lantak. Lantas bagaimana dengan
dunia? Ya, dunia hanya bisa bercerita tentang mereka, mengirimkan sejuta
simpati dan tak bisa menghentikan kekejaman Israel .
Prosesi amputasi
kedua kaki Yasir telah selesai. Farah mendorong kursi rodanya menuju sebuah
ruangan untuk perawatan selanjutnya. Nampak tak ada wajah kesedihan terlihat di
wajah Yasir. Dia begitu tegar dengan apa yang telah terjadi. Yasir meletakan
tangannya diatas tangan Farah.
“Farah, aku
cinta kau karena Allah”, Yasir bicara sambil menyentuh dagu Farah, mengangkat
wajahnya. Mereka saling bertatapan.
“Sudahlah…jangan
kau terus meneteskan air mata”, Yasir menghapus butiran-butiran air mata yang mengalir
membasahi pipi Farah.
“ Palestina
tidak akan menangis. Palestina telah lelah menangis. Nyatanya menangis tidak
akan mengubah apa-apa. Hanya jihad yang akan mengubah nasib. Bukankah Ahmad
Yasin telah mengajarkan walau di kursi roda!”, Farah menatap lekat-lekat
matanya diiringi takbir dalam hatinya.
______________
Note :
Hufadz : Para penghafal Al Qur’an
Perbatasan Erez : Pintu perbatasan yang letaknya di sebelah utara Gaza .
Jabaliya : Kota yang terletak di bagian utara Gaza City , tak jauh dari
Perbatasan Erez
Wednesday, June 9, 2010
THOUGH THE LIGHT’S GONE OUT…
12:41 AM | Diposkan oleh
Salman
Kita pasti pernah mendapat cobaan
yang berat, sehingga kata D’masiv seakan hidup ini tak ada artinya. Kawan,
pernahkah kau membaca puisinya Chairil Anwar? Aku sangat menyukainya. Aku
pernah membaca karyanya dari buku-buku yang aku pinjam di perpustakaan. Sungguh
sebuah kemewahan yang mahal bisa membacanya, menurutku. Namun ada suatu bagian
yang aku tidak sepakat dengan puisi Chairil. ‘ Derai-Derai Cemara’, tidak
seluruhnya, hanya beberapa bagian saja. Bukan karena tidak indah, tapi aku
tidak sependapat dengan isi puisinya. Begini kata Chairil :
Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah
Hanya pada bagian ‘Hidup hanya menunda
kekalahan…Sebelum pada akhirnya kita menyerah’, memang sah-sah saja berkata
demikian. Seperti juga aku, sah-sah juga untuk tidak sependapat dengan hal
tersebut. Aku tidak setuju. Aku yakin, kawan-kawan pun begitu?
Setiap kita pasti pernah bertatap
muka dengan masalah dalam hidup, pernah juga hidup terasa cerah tanpa masalah.
Saat masalah datang membelit, bahkan dada terasa sesak karena saking kuatnya
belitan itu, sampai-sampai susah bernafas. Kabut gelap menghalangi pandangan,
susah untuk di tembus ke depan hingga beberapa cm. Seperti itulah kawan, seperti
kau berjalan dalam kabut tebal, pernahkah?
Kita tak tahu ada lubang disana
apalagi yang datang menyambut. Lubang-lubang itu telah membuat kita terperosok,
jatuh, luka-luka, memar, ngilu…dan sayangnya kita tak membawa betadin. Nggak
bawa perban atau obat luka apapun.
Begitulah…
Tapi kawan…., dalam kondisi
begini aku harus terus berjalan. Tak peduli dengan kondisi apapun atau mungkin
di depan sana ada perangkap yang
akan menjebakku. Sebab kalau aku diam, berarti aku mati. Tulangku terasa ngilu karena
luka-luka, tak tahan aku! Mungkin karena
kebanyakan kopi sehingga tulangku kurang zat besi.
Jika ada jurang di depan sana ….aku
bisa terperosok lebih dalam lagi. Mungkin pula aku bisa jatuh terbentur batu
kali…lalu mati! Mungkin saja jurang itu landai, tanahnya tanah liat seperti
karet. Sehingga ketika aku jatuh pun tak apa-apa.
Jika ada perangkap kancil di
depan sana …aku juga bisa
terperangkap. Kakiku terjerat…terluka, pasti! Dan aku berharap pemilik parangkap
datang dan berteriak…woiii, ada seekor kancil ganteng masuk perangkap gue…!!!
Halah…jelek-jelek begini,
dibandingkan kancil seluruh dunia, masih gantengan gue!! Hehe…
Nah..jika pemilik parangkap
benar-benar datang, pasti, aku akan di lepas dari jerat itu. Dan akan di jual
ke pasar. Dan berharap, syukur-syukur ada artis cantik yang lagi nyari koleksi
untuk ngisi kandang rumahnya yang megah.
Dan yang paling enak
adalah…berharap jalan di depan sana
seperti jalan lintasan busway. Lurus, mulus…ah, kayaknya berlebihan. Apakah aku
sudah buta, bagaimana ‘wajah’ jalan di negeri gemah ripah loh jinawi ini? Mungkin
teramat sulit menemukan jalan yang betul-betul layak. Sebab para wakil rakyat
adalah pribadi yang sederhana, qonaah, dan menerima apa adanya. Sampai rela
menerima keadaan wajah jalan yang penuh jerawat.
Kawan…jika aku jatuh nanti,
terluka parah atau bahkan mati…tunggulah sampai kabut usai! Lantas mintalah
bantuan ke tim SAR. Carilah aku sampai ketemu! Mungkin seperti Irving Fisher,
pendaki pertama Mount Everest yang jasadnya baru ketemu
100 tahun setelah meninggalnya. Jasadnya terlindung es, jauh dari bakteri
pengurai. Bangsa Seva menemukannya tak sengaja, selimut es yang menutupnya
terbuka…mungkin ini dampak dari Global Warming juga.
Aku harus tetap berjalan...
apapun yang kutemui di depan sana . Jadi
inget sama lagunya Peterpan. Lagunya yang easy listening, nggak nyangka, nih
anak bisa juga bikin syair keren ginih! Nih... aku kutip syairnya:
Ku terbiasa tersenyum tawa
walau hatiku menangis/ Kaulah cerita tertulis dengan pasti/ Selamanya dalam
pikiranku/ Peluk tubuhku untuk sejenak/ Dan biarkan kita memudar gelap hati/
Biarkan semua seperti seharusnya/ Tak kan pernah menjadi milikku/ Lupakan
semua, tinggalkan ini/ Ku kan tenang, dan kau kan pergi/ Berjalanlah walau
habis terang/ Ambil cahaya cintaku, terangi jalanmu/ Di antara beribu lainnya/
Kau tetap... kau tetap...
Kau tetap... benderang.
Tak usah bersedih atau kau harus
mengucurkan air mata. Nyatanya…menangis tak akan mengubah apa-apa, itu kata
orang-orang Palestina. Dan aku malu jika harus menangis, malu kepada relawan
yang akan pulang dari Gaza , mereka
telah berkontak fisik langsung dengan Israel Yahudi, sedang aku hanya masih
bisa melihat kekejamannya.
Kawan…saat ini aku berada diantara
para pendekar dari seantero Jawa Tengah. Dua hari bersama dakwah thulabiyah DPW
partai tertentu sejahtera membuat semangat ini bangkit kembali…semangat yang ikut
terpuruk pasca opname.
Kawan... berjanjilah... kau akan
tetap ‘berjalan’ walau habis terang! Walau tak ada lagi sinar matahari, cahaya
bulan, kerlip bintang, lampu neon jalanan, atau apapun... Berjanjilah kau akan
tetap berjalan walau jalanan di depan sana
gelap sempurna! Di ujung jalan itu kita tak pernah tahu... ada apa!
Wednesday, June 2, 2010
[bukan] Arsitek Kata-kata
10:04 PM | Diposkan oleh
Salman
setiap pagi aku duduk di gerbang memandang matahari
padahal aku tahu gerbang membuka menjelang petang
ada sebuah kertas di sampingku
tetapi mengapa aku menulis di saputangan?
sebaiknya kuikat rindu di luar pintu kamar
sebelum kau pikir aku lupa mematikan lampu
padahal aku tahu gerbang membuka menjelang petang
ada sebuah kertas di sampingku
tetapi mengapa aku menulis di saputangan?
sebaiknya kuikat rindu di luar pintu kamar
sebelum kau pikir aku lupa mematikan lampu
Aku yang notabene sebagai seorang
civil engineer nyatanya lebih lihai menyusun gubuk untuk berlindung dari terik
panas dan deras hujan. Atap rumbai sebagai peneduh. Sebelum zaman memproduksi
benda dengan kecanggihan teknologinya, dulu kita cukup nyaman berada pada rumah
berdinding bambu. Era yang maju tak pernah mundur, tak seperti jalannya
undur-undur. Menyeret langkah kaki ikuti tradisi, sama halnya puisi yang perlu
pondasi. Membebaskan kata dari perut bahasa. Seolah rumah dengan gambar
sketsanya. Kita membutuhkan perancang guna mewujudkan sebuah bangunan. Ah…rumit
ini kata, arsitek kata-kata bukan!! Apalagi….
Rasanya aku semakin senang
menjadi tukang bangunan, nyatanya
Begini, suatu negeri tak akan
bernilai seni tanpa adanya bangunan sejarah sebagai penanda peradaban. Nah,
bukankah itu yang ngebuat…Roma gemilang dengan taman yang digantung, Babilonia
namanya. India
elok karena Taj Mahalnya. Borobudur yang mashur,
parancis yang sexy dengan menara Eiffelnya. Amerika yang kokoh dengan patung
Libertynya. Cina mengusung sejarah dari Tembok Besarnya dan ketandusan Mesir
tandas oleh Piramidnya.
Sejarah peradaban tak akan di
kenang bila tak ada yang memprasastikan dalam sebuah tulisan. Di sinilah fungsi
huruf-huruf di letakkan pada tatanan ruangnya. Mengenang sejarah dari satu
tangan ke tangan lainnya. Cerita langsung dari orang ke orang takkan cukup
menyebarluaskan sejarah budaya nenek moyang. Karenanya kita mengabadikan sebuah
bangunan dalam dukumentansi gambar dan tulisan: terangkum menjadi lembaran
buku.
Kedua bahan itu telah terpegang oleh tangan anda sekarang. Pondasi kata dan ruang bangunan. Seorang tukang bangunan berseni bahasa tinggi. Sederhana dalam berucap, memakai kejujuran menyampaikan pendapat. Adalah sebuah ajimat dimana anda mampu menciptakan larik puisi pendek tentang beberapa nabi. Membacanya menjadi mengerti akan titah patah para pendahulu. Berbagai persyaratan yang kita ajukan pada tuhan, bahwa hidup itu bersyarat. Kita sendiri yang membuat.
Kedua bahan itu telah terpegang oleh tangan anda sekarang. Pondasi kata dan ruang bangunan. Seorang tukang bangunan berseni bahasa tinggi. Sederhana dalam berucap, memakai kejujuran menyampaikan pendapat. Adalah sebuah ajimat dimana anda mampu menciptakan larik puisi pendek tentang beberapa nabi. Membacanya menjadi mengerti akan titah patah para pendahulu. Berbagai persyaratan yang kita ajukan pada tuhan, bahwa hidup itu bersyarat. Kita sendiri yang membuat.
Penambahan angka pada celengan ajal kian hari menumpuk tinggi. Hingga masanya lapuk. Pecah memberai nisan di atas tanah merah. Kematian selalu lekat dengan kehidupan. Kita hidup untuk mati. Pada akhirnya nanti kita di bangunkan kembali untuk di adili.
Keadilan yang masih terus kita perjuangkan di setiap serpihan batu bata yang runtuh dengan sendirinya. Lantai marmer yang buram oleh debu menempel legam. Keadilan menjadi gamang: remang antara sisi gelap dan terang. Seperti di negeri ini atau sekarang yang sedang terjadi di belahan bumi Qudsi.. kira-kira desain bangunan anti mirkava perlu tidak?
Demi Buah Tin dan Zaitun! Demi
Bukit Suci Thur, dan negeri yang diberkahi ini....
Tanganku membingkai dua telapak mereka yang menyatu.
“Tetaplah pada jalan yang
dipilihkan Allah ini! Jangan hirau dengan embargo dan tekanan orang-orang yang
merasa dirinya kuat—padahal sesungguhnya mereka lemah—dan menganggap mampu
menggenggam dunia dengan tangannya. Palestina tidak akan menyerah karena lapar.
Palestina telah lama diajari cara menahan lapar. Ini masalah yang tidak
seberapa dibanding dengan kemerdekaan yang harus kalian perjuangkan. Palestina
tidak akan menangis. Palestina telah lelah menangis. Nyatanya, menangis itu
tidak mengubah apa-apa. Hanya jihad yang akan mengubah nasib. Tetaplah pada
jalan ini. Palestina lebih suka mati kelaparan daripada harus menyerah!”
Ini adalah jalan yang telah
dipilihkan! Tidak ada kesudahan yang buruk sepanjang Palestina tetap berada
pada titian ini. Barat hanya akan memilih salah satu; membiarkan Palestina
berdiri merdeka, atau terus memaksanya runtuh. Jika yang kedua mereka pilih,
maka runtuhlah demokrasi. Runtuhlah Barat. Runtuhlah kepercayaan dunia
kepadanya.
“Siapa lagi yang akan percaya, selain orang-orang yang
buta?”
Subscribe to:
Posts (Atom)















