Laman

Friday, June 25, 2010

Abang, Ijinkan Dinda Nonton Bola



Assalamu’alaykum wr. wb. 

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Keseluruhan puja-puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga keselamatan dan kesejahteraan dilimpahkan atas Nabi Muhammad, utusan-Nya yang mulia

Abang Yasir yang Dinda cintai,

Maafin Dinda ya Bang! Secara dulu sewaktu ta’aruf Dinda tidak memberitahu Abang tentang hobi Dinda ini. Ya, baiklah. Sekarang Dinda akan menjelaskan. Hobi Dinda adalah menonton pertandingan sepak bola. Awalnya Dinda suka nonton bola Cuma karena ngikut temen. Sewaktu Dinda masuk SMA, televisi sering menyiarkan pertandingan sepak bola luar negeri, terutama Liga Italia dan Liga Inggris. Wuih, seru banget!

Pokoknya tidak ada pertandingan yang terlewatkan. Tidak peduli besok ada ulangan atau tidak. Yang jelas, besok di kelas pasti ada diskusi hangat seputar pertandingan semalam. Yang tidak nonton, dijamin menyesal. Yang pasti, kelas akan ramai dengan obrolan pertandingan semalam, apalagi kalau pertandingannya ‘Derby Della Madonnina...’lebih seru lagi bang!!. Bakalan ngerumpi seharian siapa yang menang, siapa yang yang dapat kartu merah. Oh iya bang, tim favorit Dinda itu Inter Milan. Dulu sampai hafal para pemainya sampai dengan posisinya


Bang, dulu dengan hobi Dinda nonton bola, paling tidak ada yang menemani Bapak nonton. Penghuni rumah lainnya gak ada yang suka nonton. Biasanya kami berdua akan bersorak-sorak ramai dan saling adu komentar. Pokoknya seru! dan yang pasti “I Love You Daddy” ( Eh iya, kalau diperhatiin bapak kan mirip David Beckham, iya kan bang!) hihihi...


Lantas saat Dinda “jadi akhwat” berjilbab dan kuliah, hobi itu tidak bisa Dinda tinggalkan . Apalagi banyak muslimah lain yang punya hobi sama. Jadi Dinda pikir hobi Dinda ini tidak menyebabkan keislaman dan kemuslimahan Dinda “dianulir” dan menjatuhkan studi Dinda.
 



 
 

Abang Yasir yang Dinda cintai

Sekarang pun Dinda masih hobi menonton bola, walau sudah tidak seperti dulu. Katanya sih menyia-nyiakan waktu dan biaya. Karena dulu Dinda bela-belain beli tabloid olahraga dan majalah untuk menambah wawasan persepakbolaan. Seiring berjalannya waktu, sekarang Dinda udah jarang nonton bola, mungkin karena kesibukan dan juga karena harga tabloid yang semakin mahal sehingga jarang membelinya.

Alasan lainnya, karena pemain sepak bola sekarang banyak yang keren-keren. Siapa yang tahan sama si imut Fabregas? Si ganteng Casillas? Atau tatapan maut Kaka’...? Terus terang, Dinda takut tergoda. (Jangan marah ya, cuma becanda kok. Lagian, mereka bukan muslim, dan Dinda juga sudah menjadi istri abang) 


Abang Yasir, kalau dipikir-pikir sepak bola itu juga mirip proses kehidupan di dunia lho. Seperti pemain bola kita sudah tahu, bagaimana menggiring bola kehidupan kita agar selamat sampai gawang tujuan. Lawan atau rintangan hidup sebagai ujian dan cobaan harus terus kita hadapi dengan cerdik. Jangan bermain curang dan kasar (Ingat Materazzi dan Zidane di final Piala Dunia 2006?), sebab Islam mengajarkan kejujuran dan kelembutan. 


Namun jangan pula cengeng. Kalau kita terjatuh karena dijegal lawan, bangkit lagi! Kejarlah bola kembali, walau harus jatuh bangun. Tapi itu bukan ebrarti menyerang membabi buta. Bagaimana pun kita harus punya taktik dan strategi serta kemampuan membaca permainan lawan agar dapat menguasai lapangan. Konsistenlah dengan posisi masing-masing dan laksanakan tugas dengan istiqamah supaya tercipta kesatuan yang solid. 

Kemudian di atas segalanya, ada Wasit atau Hakim yang Maha Bijaksana yang menentukan semuanya. Pluit-Nya yang sesekali berbunyi, semoga hanya berisi “kartu kuning” atau peringatan, bukan kartu merah.




Abang Yasir yang amat Dinda sayangi,

Cukup kiranya penjelasan Dinda ini. Dinda berjanji akan membatasi diri terhadap berbagai hal yang kurang berguna. Bukan karena Abang semata, tapi di atas segalanya karena mengharap keridhaan Allah saja. Tapi tolong izinkan Dinda sekali-sekali menonton sepak bola, khususnya kalau Robin van Persie yang main. Abang tidak usah cemburu, walau—katanya sih—dia Muslim, tapi sudah punya Istri kok.


Hampir lupa, nanti malam pertandingan Brazil vs Portugal, temenin Dinda nonton yah bang!! Tapi sayang, si ganteng Kaka’ kena kartu merah. “I Love You Bang” ( Eh Iya, Abang makin ganteng kalo pake baju bola, mirip Kaka’...hihihi...)

Semoga kasih sayang Allah tercurah pada kita sekalian. Amin.

Wassalamu’alaykum

Dinda


Tuesday, June 15, 2010

Bukan Dua kaki



Angin di perbatasan Erez mendadak hilang yang sepintas tadi berdesir meninggi. Bahkan langitnya yang tampak indah seperti retak mendadak : meratap, meminta agar lelaki itu tidak meneruskan ambisinya lagi. Ambisi Netayahu, pemimpin tertinggi Israel yang terus berambisi meluaskan wilayahnya menguasai Gaza.

“Aku dengar besok Haneya hendak ke Jabaliya?” tanya Edna. Lelaki pasukan Netayahu dengan Uzi di tangannya itu meneliti sekeliling daerah pos Penjagaan Erez. Wajahnya tampak mulai lelah hampir setengah hari berjaga. “Apa saja yang hendak dilakukan Haneya?” matanya sesekali melempar pandangannya ke daerah bekas-bekas pemukiman Yahudi yang telah dikosongkan.

Inilah yang ditakutkan oleh para tentara Israel. Kemenangan Hamas dalam pemilu telah membakar semangat Palestina. Penderitaan telah membuat Palestina pandai memilih ibu. Penindasan, aneksasi, embargo, dan tindakan brutal Israel, telah mengajari Palestina untuk memilih satu jalan : Jihad!

Para petinggi Israel pun sekarang di hantui ketakutan. Apalagi terdengar kabar tentang akan lahirnya 2740 yang akan menjadi pemuda gagah. Semakin frustasi. Seakan Palestina memiliki pilar-pilar yang tak akan pernah lapuk. Gaza, tak mudah membongkar pintu-pintunya, seperti memiliki banyak gembok. Dan masing-masing gembok itu lebih kuat dari gembok sebelumnya.

***


“Semalaman ia nyaris tak tidur, sampai tengah malam ia masih membaca Al Qur’an. Dia sedang asyik sholat malam, tatkala saya terjaga. Dia membaca ayat-ayat Nun sambil menangis” ujar perempuan yang tak lain adalah istrinya.

Usai subuh Yasir, lelaki 25 tahun itu kembali membaca Al Qur’an. Ayat-ayat jihad kembali dibacanya dengan nada bergetar, sesekali ia berhenti menahan isak tangis.

Menjelang pukul 06.00 waktu Palestina, ia merapikan pakaiannya. Sejurus kemudian ia bergegas untuk menemui istrinya.

Kepada istrinya, dia berkata, “hari ini akan ada acara wisuda para hufadz di Gaza, ada sekitar 2740 hufadz yang hendak di lantik oleh Haneya. Dan aku hendak membersamai Haneya disana. Boleh jadi ini adalah saat terpenting dalam proses perjalanan pembebasan Palestina.” Ucapnya dengan mata berbinar.

“Semoga Allah selalu melindungimu dan merahmatimu”, Yasir mengamini doa istrinya, lantas diam tak berkata apa-apa. Istrinya memeluk erat Yasir yang masih berdiri tegap. Lalu Yasir melepaskan pelukan hangat sang istri, mengecup keningnya dan bergegas untuk berangkat.

Beberapa jam kemudian, pukul sebelas waktu setempat. Suasana kota Gaza seperti biasanya. Semrawut, hiruk pikuk, berdebu dan selalu dihantui rasa takut setiap saat Israel melancarkan serangan baik lewat udara, darat dan laut. Siang yang panas. Yasir bergegas pulang ke rumah yang berada di pinggiran kota Gaza. Dari kejauhan telah nampak pintu perlintasan Erez yang dijaga ketat oleh tentara Israel. Dan bekas-bekas pemukiman Yahudi yang telah dikosongkan juga terlihat, terhalang oleh gundukan-gundukan pasir yang seolah membatasi pemukiman itu dengan warga Palestina lainnya.

Yasir Al Akhras, pemuda yang telah menjadi hafidz sejak usia 15 tahun semakin aktif dalam perjuangan kemerdekaan Palestina, juga turut serta berkampanye untuk memenangkan Hamas dalam Pemilu. Sudah tak terhitung aksinya, bagaimana dengan gagah berani dia melempari tank-tank Israel dengan batu, bersama teman-teman seperjuangnnya berlari menghindari gas-gas air mata dan peluru karet. Tak ada rasa takut karena telah tertanam dalam dada : kami cinta syahid, dan siap mati demi syahid.

“Beberapa gundukan lagi aku sudah akan sampai di rumah dan segera bertemu dengan istriku”, bisik Yasir dalam hati. Issa farah, istri Yasir yang baru dinikahinya satu pekan sebelum Ramadhan adalah putri dari salah satu pemimpin tertinggi Hamas yang telah gugur dalam penyerangan markaz tentara Israel. Perempuan 23 tahun yang terlahir di kamp Dheishes itu mengerti benar hakekat pernikahan di Palestina. Apalagi menikah dengan pemuda pejuang seperti Yasir yang sewaktu-waktu bisa saja mendapat panggilan untuk melakukan bom syahid.

Namun tiba-tiba suara pesawat mendekat seperti bumi yang hendak kiamat. Membuyarkan lamunan Yasir. Sontak, mendongak ke atas. Sesuatu yang bersinar terang melesat dengan cepatnya menuju pemukimam yang tak jauh dari gundukan pasir dimana Yasir berdiri. Sinar itu makin terang, membutakan mata lalu diiringi suara runtuhan bangunan.

“Itu pemukimanku..!! tempat tinggalku…! Farah!”, teriak Yasir.

Suara-suara ledakan terus membahana beberapa saat. Membakar pemukiman-pemukiman warga Palestina. Yasir hanya bisa terdiam sambil melihat pesawat-pesawat Zionis itu meninggalkan tempat. Serangan itu memang tertuju ke rumah Yasir dan beberapa tetangganya, serangan yang diarahkan kepada para aktivis Hamas. Suara sirine ambulans beberapa saat mulai berdatangan.

“Aku tak punya lagi waktu untuk berlama-lama!! Tinggal satu gundukan lagi akan sampai di pemukiman dan rumahku”, kata Yasir pelan sambil mempercepat langkahnya. Dia bergegas semakin mempercepat langkahnya, berlari sekencang-kencangnya melalui gundukan pasir. Tiba-tiba, suara pesawat kembali melintas diatas kepalanya. Dan kemudian…

BLARRRR!!!!

Sebuah bom jatuh dan meledak tidak jauh dari Yasir berpijak. “Allahu Akbar…Allahu Akbar…” terdengar lirih suara takbir Yasir meski perlahan. Suaranya kian meredup, diikuti pandangannya yang semakin kabur. Hanya pasir-pasir dan pasir yang bisa dilihat, kemudian gelap.

***



Senja di Jabaliya seusai Ramadhan

Desauan angin gurun ini bagaikan denting dawai - dawai lara. Begitu pilu dan mencekam. Bersimfonikan lagu kematian. Sesekali di selingi gelegar besar yang menggetarkan bumi. Lalu asap hitam mengepul tinggi dan puing-puing pun gugur berserak.

Jabaliya retak. Hancur berkeping terserak. Ia ditangisi sendu seluruh alam. Meraung-raung mobil ambulan tak berhenti lalu lalang penuh korban luka, tak jarang berisi mayat-mayat tak utuh dan terbelah.

Jabaliya berubah menjadi begitu pengap, amis dan banjir merah darah. Hari demi hari selalu jatuh korban di tanahnya. Dan malaikat hilir mudik untuk menjemput jiwa-jiwa perkasa. Entah sampai kapan?

“Tenanglah sayangku, kau akan segera mendapat perawatan” kata Farah kepada Yasir, suaminya. Sementara Farah semakin merapatkan pelukannya di dada Yasir. Matanya basah. Menatap suaminya yang berada di depannya. Wajahnya babak belur, kumal penuh debu dan darah. Tetapi yang lebih menyayat hati perempuan itu, adalah kedua kaki Yasir tersebut. Kedua kakinya harus diamputasi akibat luka bakar yang sangat parah, luka bakar serius sampai ke tulang yang ia prediksi berasal dari senjata kimia.

Sementara diluar sana serdadu Israel sedang haus darah. Memburu siapa saja yang hendak dijadikan mangsa. Bagai serigala lapar mereka menembaki siapa saja yang mereka temui. Sejuta tangis pecah. Satu per satu rumah dan bangunan luluh lantak. Lantas bagaimana dengan dunia? Ya, dunia hanya bisa bercerita tentang mereka, mengirimkan sejuta simpati dan tak bisa menghentikan kekejaman Israel.

Prosesi amputasi kedua kaki Yasir telah selesai. Farah mendorong kursi rodanya menuju sebuah ruangan untuk perawatan selanjutnya. Nampak tak ada wajah kesedihan terlihat di wajah Yasir. Dia begitu tegar dengan apa yang telah terjadi. Yasir meletakan tangannya diatas tangan Farah.

“Farah, aku cinta kau karena Allah”, Yasir bicara sambil menyentuh dagu Farah, mengangkat wajahnya. Mereka saling bertatapan.

“Sudahlah…jangan kau terus meneteskan air mata”, Yasir menghapus butiran-butiran air mata yang mengalir membasahi pipi Farah.

“ Palestina tidak akan menangis. Palestina telah lelah menangis. Nyatanya menangis tidak akan mengubah apa-apa. Hanya jihad yang akan mengubah nasib. Bukankah Ahmad Yasin telah mengajarkan walau di kursi roda!”, Farah menatap lekat-lekat matanya diiringi takbir dalam hatinya.

______________
Note :
Hufadz : Para penghafal Al Qur’an
Perbatasan Erez : Pintu perbatasan yang letaknya di sebelah utara Gaza.
Jabaliya : Kota yang terletak di bagian utara Gaza City, tak jauh dari Perbatasan Erez

Seusai Ramadhan 1429 H, Khaled Misyal, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz Al Qur’an. Anak-anak yang sudah hafal Al Qur’an 30 Juz ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. Jika dalam usia semuda itu mereka telah hafal Al Qur’an, bayangkan 20 tahun lagi mereka menjadi seperti apa? Demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi
Wednesday, June 9, 2010

THOUGH THE LIGHT’S GONE OUT…



Kita pasti pernah mendapat cobaan yang berat, sehingga kata D’masiv seakan hidup ini tak ada artinya. Kawan, pernahkah kau membaca puisinya Chairil Anwar? Aku sangat menyukainya. Aku pernah membaca karyanya dari buku-buku yang aku pinjam di perpustakaan. Sungguh sebuah kemewahan yang mahal bisa membacanya, menurutku. Namun ada suatu bagian yang aku tidak sepakat dengan puisi Chairil. ‘ Derai-Derai Cemara’, tidak seluruhnya, hanya beberapa bagian saja. Bukan karena tidak indah, tapi aku tidak sependapat dengan isi puisinya. Begini kata Chairil :

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Hanya pada bagian ‘Hidup hanya menunda kekalahan…Sebelum pada akhirnya kita menyerah’, memang sah-sah saja berkata demikian. Seperti juga aku, sah-sah juga untuk tidak sependapat dengan hal tersebut. Aku tidak setuju. Aku yakin, kawan-kawan pun begitu?

Setiap kita pasti pernah bertatap muka dengan masalah dalam hidup, pernah juga hidup terasa cerah tanpa masalah. Saat masalah datang membelit, bahkan dada terasa sesak karena saking kuatnya belitan itu, sampai-sampai susah bernafas. Kabut gelap menghalangi pandangan, susah untuk di tembus ke depan hingga beberapa cm. Seperti itulah kawan, seperti kau berjalan dalam kabut tebal, pernahkah?

Kita tak tahu ada lubang disana apalagi yang datang menyambut. Lubang-lubang itu telah membuat kita terperosok, jatuh, luka-luka, memar, ngilu…dan sayangnya kita tak membawa betadin. Nggak bawa perban atau obat luka apapun.

Begitulah…

Tapi kawan…., dalam kondisi begini aku harus terus berjalan. Tak peduli dengan kondisi apapun atau mungkin di depan sana ada perangkap yang akan menjebakku. Sebab kalau aku diam, berarti aku mati. Tulangku terasa ngilu karena luka-luka, tak tahan aku!  Mungkin karena kebanyakan kopi sehingga tulangku kurang zat besi.

Jika ada jurang di depan sana….aku bisa terperosok lebih dalam lagi. Mungkin pula aku bisa jatuh terbentur batu kali…lalu mati! Mungkin saja jurang itu landai, tanahnya tanah liat seperti karet. Sehingga ketika aku jatuh pun tak apa-apa.

Jika ada perangkap kancil di depan sana…aku juga bisa terperangkap. Kakiku terjerat…terluka, pasti! Dan aku berharap pemilik parangkap datang dan berteriak…woiii, ada seekor kancil ganteng masuk perangkap gue…!!!

Halah…jelek-jelek begini, dibandingkan kancil seluruh dunia, masih gantengan gue!! Hehe…

Nah..jika pemilik parangkap benar-benar datang, pasti, aku akan di lepas dari jerat itu. Dan akan di jual ke pasar. Dan berharap, syukur-syukur ada artis cantik yang lagi nyari koleksi untuk ngisi kandang rumahnya yang megah.

Dan yang paling enak adalah…berharap jalan di depan sana seperti jalan lintasan busway. Lurus, mulus…ah, kayaknya berlebihan. Apakah aku sudah buta, bagaimana ‘wajah’ jalan di negeri gemah ripah loh jinawi ini? Mungkin teramat sulit menemukan jalan yang betul-betul layak. Sebab para wakil rakyat adalah pribadi yang sederhana, qonaah, dan menerima apa adanya. Sampai rela menerima keadaan wajah jalan yang penuh jerawat.


 
Kawan…jika aku jatuh nanti, terluka parah atau bahkan mati…tunggulah sampai kabut usai! Lantas mintalah bantuan ke tim SAR. Carilah aku sampai ketemu! Mungkin seperti Irving Fisher, pendaki pertama Mount Everest yang jasadnya baru ketemu 100 tahun setelah meninggalnya. Jasadnya terlindung es, jauh dari bakteri pengurai. Bangsa Seva menemukannya tak sengaja, selimut es yang menutupnya terbuka…mungkin ini dampak dari Global Warming juga.

Aku harus tetap berjalan... apapun yang kutemui di depan sana. Jadi inget sama lagunya Peterpan. Lagunya yang easy listening, nggak nyangka, nih anak bisa juga bikin syair keren ginih! Nih... aku kutip syairnya:

Ku terbiasa tersenyum tawa walau hatiku menangis/ Kaulah cerita tertulis dengan pasti/ Selamanya dalam pikiranku/ Peluk tubuhku untuk sejenak/ Dan biarkan kita memudar gelap hati/ Biarkan semua seperti seharusnya/ Tak kan pernah menjadi milikku/ Lupakan semua, tinggalkan ini/ Ku kan tenang, dan kau kan pergi/ Berjalanlah walau habis terang/ Ambil cahaya cintaku, terangi jalanmu/ Di antara beribu lainnya/ Kau tetap... kau tetap...

Kau tetap... benderang.

Tak usah bersedih atau kau harus mengucurkan air mata. Nyatanya…menangis tak akan mengubah apa-apa, itu kata orang-orang Palestina. Dan aku malu jika harus menangis, malu kepada relawan yang akan pulang dari Gaza, mereka telah berkontak fisik langsung dengan Israel Yahudi, sedang aku hanya masih bisa melihat kekejamannya.

Kawan…saat ini aku berada diantara para pendekar dari seantero Jawa Tengah. Dua hari bersama dakwah thulabiyah DPW partai tertentu sejahtera membuat semangat ini bangkit kembali…semangat yang ikut terpuruk pasca opname.

Kawan... berjanjilah... kau akan tetap ‘berjalan’ walau habis terang! Walau tak ada lagi sinar matahari, cahaya bulan, kerlip bintang, lampu neon jalanan, atau apapun... Berjanjilah kau akan tetap berjalan walau jalanan di depan sana gelap sempurna! Di ujung jalan itu kita tak pernah tahu... ada apa!




Salatiga, 5-6 Juni 2010
Wednesday, June 2, 2010

[bukan] Arsitek Kata-kata



setiap pagi aku duduk di gerbang memandang matahari
padahal aku tahu gerbang membuka menjelang petang

ada sebuah kertas di sampingku
tetapi mengapa aku menulis di saputangan?

sebaiknya kuikat rindu di luar pintu kamar
sebelum kau pikir aku lupa mematikan lampu

( Helena )
Aku yang notabene sebagai seorang civil engineer nyatanya lebih lihai menyusun gubuk untuk berlindung dari terik panas dan deras hujan. Atap rumbai sebagai peneduh. Sebelum zaman memproduksi benda dengan kecanggihan teknologinya, dulu kita cukup nyaman berada pada rumah berdinding bambu. Era yang maju tak pernah mundur, tak seperti jalannya undur-undur. Menyeret langkah kaki ikuti tradisi, sama halnya puisi yang perlu pondasi. Membebaskan kata dari perut bahasa. Seolah rumah dengan gambar sketsanya. Kita membutuhkan perancang guna mewujudkan sebuah bangunan. Ah…rumit ini kata, arsitek kata-kata bukan!! Apalagi….

Rasanya aku semakin senang menjadi tukang bangunan, nyatanya

Begini, suatu negeri tak akan bernilai seni tanpa adanya bangunan sejarah sebagai penanda peradaban. Nah, bukankah itu yang ngebuat…Roma gemilang dengan taman yang digantung, Babilonia namanya. India elok karena Taj Mahalnya. Borobudur yang mashur, parancis yang sexy dengan menara Eiffelnya. Amerika yang kokoh dengan patung Libertynya. Cina mengusung sejarah dari Tembok Besarnya dan ketandusan Mesir tandas oleh Piramidnya.

Sejarah peradaban tak akan di kenang bila tak ada yang memprasastikan dalam sebuah tulisan. Di sinilah fungsi huruf-huruf di letakkan pada tatanan ruangnya. Mengenang sejarah dari satu tangan ke tangan lainnya. Cerita langsung dari orang ke orang takkan cukup menyebarluaskan sejarah budaya nenek moyang. Karenanya kita mengabadikan sebuah bangunan dalam dukumentansi gambar dan tulisan: terangkum menjadi lembaran buku.

Kedua bahan itu telah terpegang oleh tangan anda sekarang. Pondasi kata dan ruang bangunan. Seorang tukang bangunan berseni bahasa tinggi. Sederhana dalam berucap, memakai kejujuran menyampaikan pendapat. Adalah sebuah ajimat dimana anda mampu menciptakan larik puisi pendek tentang beberapa nabi. Membacanya menjadi mengerti akan titah patah para pendahulu. Berbagai persyaratan yang kita ajukan pada tuhan,  bahwa hidup itu bersyarat. Kita sendiri yang membuat.

Penambahan angka pada celengan ajal kian hari menumpuk tinggi. Hingga masanya lapuk. Pecah memberai nisan di atas tanah merah. Kematian selalu lekat dengan kehidupan. Kita hidup untuk mati. Pada akhirnya nanti kita di bangunkan kembali untuk di adili.

Keadilan yang masih terus kita perjuangkan di setiap serpihan batu bata yang runtuh dengan sendirinya. Lantai marmer yang buram oleh debu menempel legam. Keadilan menjadi gamang: remang antara sisi gelap dan terang. Seperti di negeri ini atau sekarang yang sedang terjadi di belahan bumi Qudsi.. kira-kira desain bangunan anti mirkava perlu tidak?

Demi Buah Tin dan Zaitun! Demi Bukit Suci Thur, dan negeri yang diberkahi ini....

Tanganku membingkai dua telapak mereka yang menyatu.

“Tetaplah pada jalan yang dipilihkan Allah ini! Jangan hirau dengan embargo dan tekanan orang-orang yang merasa dirinya kuat—padahal sesungguhnya mereka lemah—dan menganggap mampu menggenggam dunia dengan tangannya. Palestina tidak akan menyerah karena lapar. Palestina telah lama diajari cara menahan lapar. Ini masalah yang tidak seberapa dibanding dengan kemerdekaan yang harus kalian perjuangkan. Palestina tidak akan menangis. Palestina telah lelah menangis. Nyatanya, menangis itu tidak mengubah apa-apa. Hanya jihad yang akan mengubah nasib. Tetaplah pada jalan ini. Palestina lebih suka mati kelaparan daripada harus menyerah!”

Ini adalah jalan yang telah dipilihkan! Tidak ada kesudahan yang buruk sepanjang Palestina tetap berada pada titian ini. Barat hanya akan memilih salah satu; membiarkan Palestina berdiri merdeka, atau terus memaksanya runtuh. Jika yang kedua mereka pilih, maka runtuhlah demokrasi. Runtuhlah Barat. Runtuhlah kepercayaan dunia kepadanya.

“Siapa lagi yang akan percaya, selain orang-orang yang buta?”

 ah...apakah ini mimpi setelah opname 2 hari?


02/06/2010