Laman

Saturday, October 16, 2010

Cinta dalam sepotong cerita



Wajah sejuknya muncul kembali, kali ini tepat seusai sholat subuh ia akan membuka laptopnya. Melanjutkan laporan pekerjaan yang belum terselesaikan. Sejak pergi meninggalkan pulau kelahirannya, kesendirian, kesepian dan kerinduan terus membuncah dalam dirinya. Inilah hal terberat yang di alami Kyo Samurai. Kerinduan tak terkira pada ibu, kakak, keluarga, sahabat, dan terlebih pada dia…Mio.

“Salman Al-Farisi, seorang yang merantau ke berbagai penjuru demi mencari kebenaran sejati, jatuh cinta. Laki-laki yang sangat disayangi dan dihormati oleh Rasulullah ini terpikat dengan seorang muslimah Anshar. Tentu bukan memikat sebagaimana terpikatnya sebagian besar kisah cinta yang pernah aku saksikan, melainkan sebuah pilihan suci, dengan akal sehat dan perasahaan halus, dan jauh dari kesesatan.

Kegelisahan ini dengan gugup disampaikan pada Abu Darda’, seorang sahabat Anshor yang oleh Rasul dipersaudarakan dengannya.”

Kisah Salman terlintas di benak Samurai. Selama ini yang ada dipikirkannya ketika mendengarkan nama Salman adalah seorang pahlawan perang khandaq dengan ide pembuatan parit briliannya, seorang engineer sejati. Namun yang sekarang terbayang adalah cinta. Mio-lah awal kisah cinta itu muncul. Mio Muwaffaqah, muslimah yang telah dikaguminya sejak lama, seorang wanita yang tidak bisa menghilang dari hatinya bahkan setelah lama tak berjumpa. Selalu ia doakan. Samuarai pun sadar ia tidak bisa berharap banyak terhadapnya, sebagaimana perasaan Salman ketika ia jatuh cinta kepada gadis yang ia sendiri tidak tahu perasaaanya dan kepada siapa ia mencintai

“Saya adalah Abu Darda’ bersama saudara saya Salman Al Farisi, seorang Persia. Salman mempunyai kedudukan utama din sisi Rasulullah SAW, Salman telah dimuliakan Allah dengan Islam dan ia telah memuliakan Islam dengan amal dan jihad. Saya bermaksud mewakili Salman untuk melamar putri anda. Abu Darda’ memperkenalkan diri dan menyatakan niat kedatangan mereka dengan tegas
.
Ayahanda sang gadis menjawab, “Sungguh kehormatan bagi kami menerima tamu sahabat utama Rasul dan mendapat tawaran bermenantukan seorang yang mulia namun saya tidak bisa menjawab, semuanya saya serahkan pada puteri saya”
Dari balik tirai, sang gadis bergetar, namun Salman tak kalah, hatinya berdebar. Sang ibu mewakili puterinya berbicara, “Maafkan keterusterangan ini, puteri saya menolak pinangan Salman, namun dengan mengharap Ridho Allah, apabila Abu Darda’ datang dengan perihal yang sama maka puteri saya akan mengiyakan”
Jgerrr!

Keterkejutan besar, bagaimana mungkin sang puteri lebih tertarik dengan pengantar daripada pelamar. Terjadi pertempuran dalam diri Salman, cinta melawan persaudaraan. Namun itu tidak lama bagi orang semulia Salman. “Allahu Akbar!” seru Salman. Dengan segala keikhlasan Salman berkata, “Mahar dan semua persiapan untuk meminangmu aku berikan pada Abu Darda’ dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”. Subhanallah…”

Ia katupkan matanya rapat-rapat agar tak ada air mata yang jatuh. Timbul pertanyaan dalam hatinya, benarkah cinta tak harus memiliki? Kisah cintanya dengan Mio memang tidak bisa disamakan dengan kisah Salman. Satu hal yang sekarang bersarang dibenaknya, ikhlas dan keikhlasan. Ia ambil tas berisi charger laptopnya. Map warna merah masih berada didalamnya. Bukan mapnya, tetapi biodata lengkap Mio. Sekuat tenaga ia gigit bibirnya, menahan tangis agar tak meledak.

Belon selesai…..

Aku ingin dicinta seperti Sarah mencintai Ibrahim

Aku pernah membaca tentang laki-laki yang paling jujur disebuah majalah. Kemudian aku berpikir, dan kira-kira siapakah laki-laki yang paling setia di muka bumi ini? Tentu saja bukan aku, belum banyak ujian yang aku lewati dalam masalah pernikahan karena aku sendiri juga masih jomblo.

Tapi, ada satu nama sebagai laki-laki yang paling setia yakni Ibrahim alaihi salam. Nama yang selalu mengiringi Muhammad SAW dalam setiap shalawat yang kita baca. Ibrahim adalah contoh nyata tentang cinta dan kesetiaan.

Dipilihnya Sarah sebagai seorang istri merupakan atas pertimbangan dakwah. Seorang wanita yang kadar cintanya kepada Allah sebanding dengan yang dimiliki Ibrahim. Dipilihnya dia, kelak menjadi seorang pendamping untuk memudahkan jalannya meraih cinta Allah. Seseorang yang meringankan setiap jejak langkahnya untuk menuju cinta Nya. Maka atas cinta Allah lah Ibrahim memilih Sarah sebagai istrinya.

Setelah lama menikah, ujian, tantangan dan cobaan datang begitu beratnya. Hingga usianya uzur, mereka juga belum dikaruniai anak sebagai penerus risalahnya kelak. Seorang anak yang kelak akan meneruskan dakwahnya dan menggantikan peran untuk meneruskan amanah Allah. Seorang yang sangat dinanti-nanti kehadirannya, hal ini merupakan ujian terberat dari Allah, dan apakah Ibrahim tetap mencintai Nya dan apakah Sarah tetap teguh pada cintanya.

Tak seperti lelaki jaman sekarang serta merta memvonis untuk menikah lagi bahkan menceriakan istrinya karena dianggap tak mampu memberikan keturunan, namun Ibrahim tak demikian. Di tengah puncaknya kerinduan akan hadirnya seorang penerus dakwah, ia mendapatkan tawaran yang tak pernah disangkanya dari istrinya Sarah. Sarah meminta Ibrahim untuk menikahi Hajar, seorang wanita yang telah dipilihkan Sarah yang diyakini mampu memberikan keturunan.

Lantas, apakah Sarah tak lagi mencintai Ibrahim? Jangan salah, cinta Sarah yang hakiki adalah kepada dzat yang telah menganugerahkan cinta. Sarah yakin, bahwa apa yang dilakukan kepada suaminya adalah sesuatu yang benar, membantu suaminya memperoleh pengemban risalah selanjutnya. Dan Maha Benar Allah yang telah menciptakan wanita semulia Sarah, Maha Kuasa Allah yang telah memilihkan Sarah untuk Ibrahim yang mulia, dan Maha Suci Allah yang telah mengirimkan Hajar di tengah kelurga yang cintanya kepada Allah tak akan pernah tersaingi. Maka Allah pun menghadiahi buah cinta itu berupa Ismail.

Selasaikah episode cinta itu? Belum, ditengah kebahagiaan dengan hadirnya Ismail sebagai buah cintanya. Ujian cinta itu berlanjut kepada Ibunda Hajar, ibu dari Ismail itu harus rela ditinggalkan suaminya untuk melakukan perjalanan dakwah yang begitu lama. Ibrahim pun tak kalah berat ujiannya, harus meninggalkan Ismail yang telah dinanti begitu lama. Atas nama cinta pula, Ibrahim menyerahkan keselamatan, keamanan, rezeki dan keberlangsungan hidup Hajar dan Ismail di tangan Allah.

Ibunda Hajar pun harus berlari menempuh jarak yang teramat jauh antara Shofa dan Marwah untuk mendapatkan air bagi Ismail kecil yang sedang kehausan. Bahkan Allah pun mewajibkan bagi setiap manusia yang pergi haji untuk ikut merasakan perjuangan Ibunda Hajar, seorang ibu dari manusia yang kelak dikenal sebagai manusia paling sabar di dunia.

Hingga Allah membalaskan cinta Hajar atas perjuangannya melalui hentakan kaki mungil Ismail ke muka bumi berupa mata air zam-zam yang tidak akan pernah kering hingga kini.

Ibrahim kembali kepada keluarga tercintanya, tapi ujian baru pun sudah menanti. Belum puas Ibrahim menghabiskan rasa rindu kepada anaknya yang sudah mulai tumbuh besar dan menyenangkan itu. Belum puas Ibrahim meluapkan cintanya kepada anaknya Ismail, Allah menurunkan perintah yang teramat berat, perintah yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, perintah jikalau bukan Ibrahim yang menerimanya pastilah dianggap bisikan setan, perintah yang jelas menguji keimanan Ibrahim untuk cenderung kemanakah cintanya, Ismail ataukah Allah?

Atas nama cinta pula, Ibrahim menceritakan tentang perintahniya itu kepada anaknya Ismail. Anak kecil yang digambarkan Al qur’an sebagai anak yang baru berusaha berjalan menyusul ayahnya itu ternyata tak sedikitpun memiliki keraguan atas apa yang diucapkan oleh ayahnya. Ismail pun begitu ikhlas melakukan perintah Allah yang tak secara langsung didengarnya melainkan melalui ucapan ayahnya. Disinilah terlukiskan secara jelas sebuah nilai kepercayaan seorang anak terhadap ayahnya.

Sejuta setan mengganggu, sejuta iblis menghasut, sejuta jin menggoda, mencoba meruntuhkan cinta Ibrahim, Ismail dan Hajar. Tapi keluarga Ibrahim adalah keluarga dengan tradisi kemenangan untuk setiap ujian, keyakinan dan cintanya yang teramat tinggi kepada Allah yang menjadikan semuanya begitu berbeda. Keluarga Ibrahim, keluarga tangguh yang mampu menghalau semua godaan, hasutan dan gangguan. Mereka melempari setan dengan batu-batu kerikil, yang kemudian Allah mengabadikannya dalam ibadah jumrah. Bismillaahi Allaahu Akbar!

Dan,
Berdoalah
Agar dicintai seperti Sarah mencintai Ibrahim
Seperti Hajar mencintai Ibrahim
Seperti Ismail mencintai Ayahnya

Agar  mampu mencinta seperti Ibrahim mencintai Allah
Seperti Ibrahim yang setia kepada Sarah
Seperti Ibrahim yang cinta kepada Hajar
Seperti cinta Ibrahim kepada Ismail

Dan, memiliki keihklasan seperti Ismail



Solo Spirit of Java, 11/10/2009

ALLAH MEMANG SENGAJA



Aku suka sekali yang namanya nonton film. Film-film kolosal telah menjad film favorit. Tetapi juga aku tidak selalu suka seluruh bagian ceritanya. Kadang bagian-bagian yang menjemukan, aku lompati atau aku percepat dengan memencet tombol FAST FORWARD pada DVD playernya. Dan terkadang juga, bagian atau cerita-cerita yang menarik aku ulang-ulang sampai beberapa kali memakai tombol REWIND. Apalagi bila film itu tidak menarik sama sekali, aku hanya menontonnya sekilas-sekilas saja, menonton bagian-bagian yang paling menarik, jadi film berdurasi 90 menit bisa selasai selama 15 menit.

Kawan…apakah saat Allah menciptakan DVD yang bernama kehidupan ini, entah…apakah Allah lupa melengkapinya dengan tombol paling favorit, yang sering kugunakan untuk meonton DVD. Dua tombol…REWIND dan FAST FORWARD.

Kawan…hidup itu tak ubahnya film, ada bagian yang ceritanya tidak aku sukai dan ada bagian yang justru sangat aku nikmati. Saat aku menemukan bagian yang menjemukan, aku pencet tombol FAST FORWARD sampai aku temukan bagian yang menarik lalu kembali aku memencet tombol PLAY normal. Jika aku tidak menemukan, sampai film itu selesai, aku pencet tombol REWIND, mengulangi kembali bagian-bagian yang paling berkesan.

Saat ini aku terjebak dalam ritme hidup yang monoton, menjemukan dan tidak menarik….bahkan sangat buruk. Aku ingin melompati bagian ini dengan tombol fast forward. Barangkali didepan sana ada sepotong bagian hidupku yang indah, menyenangkan, lebih dinamis! Mungkin dimasa datang segala yang kuinginkan bias tercapai. Hidup dalam ketenangan, kenyamanan, kabahagiaan! Menjadi pangeran kecil menghuni istana mungil, berdamping putri cantik serupa peri…

Tapi bagaimana melompati bagian buruk dari hidup ini? Alih-alih melompat tapi film justru menjadi lebih lambat. Detik demi detik berlalu seperti kuhitung. Sedetik serasa seharian. Semenit…dihitung dengan perbandingan konstan matematika, rasanya seperti 60 hari. Satu jam yang berarti 60 menit rasaniya sudah bagaikan 360 hari.

Jika aku ingin kembali mengulang bagian hidupku yang paling bahagia yang pernah kulalui, tak ada tombol rewind untuk mengulanginya, tak ada yang bisa kulakukan. Yang paling menyebalkan lagi….kenapa ketika menjalankan bagian yang paling tidak menarik, kepingan DVD berputar begitu lambat dan tersendat-sendat kadang-kadang ngadat. Dan mengapa justru disaat-saat indah, semua berjalan begitu lancar.

Kawan….Allah memang Maha Adil. Aku yakin Allah tak lupa, tapi memang sengaja tidak memasang dua tombol itu, entah apa maksudnya.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar “ ( QS  Al Baqarah : 155 )


________________________
Kota Perwira, Maret 2010