Labels
- Cerpen (4)
- Coretankuh (7)
- Diary Sepi (16)
- Essai (3)
- Kontemplasi (2)
- Menenun Jalinan Cinta (3)
- Refleksi dan Inspirasi (4)
Sinuba Sinukarsa
Blog Archive
Powered by Blogger.
Popular Posts
Saturday, October 16, 2010
Aku ingin dicinta seperti Sarah mencintai Ibrahim
1:39 AM | Diposkan oleh
Salman
Aku pernah
membaca tentang laki-laki yang paling jujur disebuah majalah. Kemudian aku
berpikir, dan kira-kira siapakah laki-laki yang paling setia di muka bumi ini?
Tentu saja bukan aku, belum banyak ujian yang aku lewati dalam masalah
pernikahan karena aku sendiri juga masih jomblo.
Tapi, ada satu
nama sebagai laki-laki yang paling setia yakni Ibrahim alaihi salam. Nama yang
selalu mengiringi Muhammad SAW dalam setiap shalawat yang kita baca. Ibrahim
adalah contoh nyata tentang cinta dan kesetiaan.
Dipilihnya Sarah
sebagai seorang istri merupakan atas pertimbangan dakwah. Seorang wanita yang
kadar cintanya kepada Allah sebanding dengan yang dimiliki Ibrahim. Dipilihnya
dia, kelak menjadi seorang pendamping untuk memudahkan jalannya meraih cinta
Allah. Seseorang yang meringankan setiap jejak langkahnya untuk menuju cinta
Nya. Maka atas cinta Allah lah Ibrahim memilih Sarah sebagai istrinya.
Setelah lama
menikah, ujian, tantangan dan cobaan datang begitu beratnya. Hingga usianya
uzur, mereka juga belum dikaruniai anak sebagai penerus risalahnya kelak. Seorang
anak yang kelak akan meneruskan dakwahnya dan menggantikan peran untuk
meneruskan amanah Allah. Seorang yang sangat dinanti-nanti kehadirannya, hal
ini merupakan ujian terberat dari Allah, dan apakah Ibrahim tetap mencintai Nya
dan apakah Sarah tetap teguh pada cintanya.
Tak seperti
lelaki jaman sekarang serta merta memvonis untuk menikah lagi bahkan
menceriakan istrinya karena dianggap tak mampu memberikan keturunan, namun
Ibrahim tak demikian. Di tengah puncaknya kerinduan akan hadirnya seorang
penerus dakwah, ia mendapatkan tawaran yang tak pernah disangkanya dari
istrinya Sarah. Sarah meminta Ibrahim untuk menikahi Hajar, seorang wanita yang
telah dipilihkan Sarah yang diyakini mampu memberikan keturunan.
Lantas, apakah
Sarah tak lagi mencintai Ibrahim? Jangan salah, cinta Sarah yang hakiki adalah
kepada dzat yang telah menganugerahkan cinta. Sarah yakin, bahwa apa yang
dilakukan kepada suaminya adalah sesuatu yang benar, membantu suaminya
memperoleh pengemban risalah selanjutnya. Dan Maha Benar Allah yang telah
menciptakan wanita semulia Sarah, Maha Kuasa Allah yang telah memilihkan Sarah
untuk Ibrahim yang mulia, dan Maha Suci Allah yang telah mengirimkan Hajar di
tengah kelurga yang cintanya kepada Allah tak akan pernah tersaingi. Maka Allah
pun menghadiahi buah cinta itu berupa Ismail.
Selasaikah
episode cinta itu? Belum, ditengah kebahagiaan dengan hadirnya Ismail sebagai
buah cintanya. Ujian cinta itu berlanjut kepada Ibunda Hajar, ibu dari Ismail
itu harus rela ditinggalkan suaminya untuk melakukan perjalanan dakwah yang
begitu lama. Ibrahim pun tak kalah berat ujiannya, harus meninggalkan Ismail
yang telah dinanti begitu lama. Atas nama cinta pula, Ibrahim menyerahkan
keselamatan, keamanan, rezeki dan keberlangsungan hidup Hajar dan Ismail di
tangan Allah.
Ibunda Hajar pun
harus berlari menempuh jarak yang teramat jauh antara Shofa dan Marwah untuk
mendapatkan air bagi Ismail kecil yang sedang kehausan. Bahkan Allah pun
mewajibkan bagi setiap manusia yang pergi haji untuk ikut merasakan perjuangan
Ibunda Hajar, seorang ibu dari manusia yang kelak dikenal sebagai manusia
paling sabar di dunia.
Hingga Allah
membalaskan cinta Hajar atas perjuangannya melalui hentakan kaki mungil Ismail
ke muka bumi berupa mata air zam-zam yang tidak akan pernah kering hingga kini.
Ibrahim kembali
kepada keluarga tercintanya, tapi ujian baru pun sudah menanti. Belum puas
Ibrahim menghabiskan rasa rindu kepada anaknya yang sudah mulai tumbuh besar
dan menyenangkan itu. Belum puas Ibrahim meluapkan cintanya kepada anaknya
Ismail, Allah menurunkan perintah yang teramat berat, perintah yang belum
pernah terbayangkan sebelumnya, perintah jikalau bukan Ibrahim yang menerimanya
pastilah dianggap bisikan setan, perintah yang jelas menguji keimanan Ibrahim
untuk cenderung kemanakah cintanya, Ismail ataukah Allah?
Atas nama cinta
pula, Ibrahim menceritakan tentang perintahniya itu kepada anaknya Ismail. Anak
kecil yang digambarkan Al qur’an sebagai anak yang baru berusaha berjalan
menyusul ayahnya itu ternyata tak sedikitpun memiliki keraguan atas apa yang
diucapkan oleh ayahnya. Ismail pun begitu ikhlas melakukan perintah Allah yang
tak secara langsung didengarnya melainkan melalui ucapan ayahnya. Disinilah
terlukiskan secara jelas sebuah nilai kepercayaan seorang anak terhadap
ayahnya.
Sejuta setan
mengganggu, sejuta iblis menghasut, sejuta jin menggoda, mencoba meruntuhkan
cinta Ibrahim, Ismail dan Hajar. Tapi keluarga Ibrahim adalah keluarga dengan
tradisi kemenangan untuk setiap ujian, keyakinan dan cintanya yang teramat
tinggi kepada Allah yang menjadikan semuanya begitu berbeda. Keluarga Ibrahim,
keluarga tangguh yang mampu menghalau semua godaan, hasutan dan gangguan. Mereka
melempari setan dengan batu-batu kerikil, yang kemudian Allah mengabadikannya
dalam ibadah jumrah. Bismillaahi Allaahu Akbar!
Dan,
Berdoalah
Agar dicintai
seperti Sarah mencintai Ibrahim
Seperti Hajar
mencintai Ibrahim
Seperti Ismail
mencintai Ayahnya
Agar mampu mencinta seperti Ibrahim mencintai
Allah
Seperti Ibrahim
yang setia kepada Sarah
Seperti Ibrahim
yang cinta kepada Hajar
Seperti cinta
Ibrahim kepada Ismail
Dan, memiliki
keihklasan seperti Ismail
Solo Spirit of Java, 11/10/2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




0 komentar:
Post a Comment