Laman

Saturday, October 16, 2010

Aku ingin dicinta seperti Sarah mencintai Ibrahim

Aku pernah membaca tentang laki-laki yang paling jujur disebuah majalah. Kemudian aku berpikir, dan kira-kira siapakah laki-laki yang paling setia di muka bumi ini? Tentu saja bukan aku, belum banyak ujian yang aku lewati dalam masalah pernikahan karena aku sendiri juga masih jomblo.

Tapi, ada satu nama sebagai laki-laki yang paling setia yakni Ibrahim alaihi salam. Nama yang selalu mengiringi Muhammad SAW dalam setiap shalawat yang kita baca. Ibrahim adalah contoh nyata tentang cinta dan kesetiaan.

Dipilihnya Sarah sebagai seorang istri merupakan atas pertimbangan dakwah. Seorang wanita yang kadar cintanya kepada Allah sebanding dengan yang dimiliki Ibrahim. Dipilihnya dia, kelak menjadi seorang pendamping untuk memudahkan jalannya meraih cinta Allah. Seseorang yang meringankan setiap jejak langkahnya untuk menuju cinta Nya. Maka atas cinta Allah lah Ibrahim memilih Sarah sebagai istrinya.

Setelah lama menikah, ujian, tantangan dan cobaan datang begitu beratnya. Hingga usianya uzur, mereka juga belum dikaruniai anak sebagai penerus risalahnya kelak. Seorang anak yang kelak akan meneruskan dakwahnya dan menggantikan peran untuk meneruskan amanah Allah. Seorang yang sangat dinanti-nanti kehadirannya, hal ini merupakan ujian terberat dari Allah, dan apakah Ibrahim tetap mencintai Nya dan apakah Sarah tetap teguh pada cintanya.

Tak seperti lelaki jaman sekarang serta merta memvonis untuk menikah lagi bahkan menceriakan istrinya karena dianggap tak mampu memberikan keturunan, namun Ibrahim tak demikian. Di tengah puncaknya kerinduan akan hadirnya seorang penerus dakwah, ia mendapatkan tawaran yang tak pernah disangkanya dari istrinya Sarah. Sarah meminta Ibrahim untuk menikahi Hajar, seorang wanita yang telah dipilihkan Sarah yang diyakini mampu memberikan keturunan.

Lantas, apakah Sarah tak lagi mencintai Ibrahim? Jangan salah, cinta Sarah yang hakiki adalah kepada dzat yang telah menganugerahkan cinta. Sarah yakin, bahwa apa yang dilakukan kepada suaminya adalah sesuatu yang benar, membantu suaminya memperoleh pengemban risalah selanjutnya. Dan Maha Benar Allah yang telah menciptakan wanita semulia Sarah, Maha Kuasa Allah yang telah memilihkan Sarah untuk Ibrahim yang mulia, dan Maha Suci Allah yang telah mengirimkan Hajar di tengah kelurga yang cintanya kepada Allah tak akan pernah tersaingi. Maka Allah pun menghadiahi buah cinta itu berupa Ismail.

Selasaikah episode cinta itu? Belum, ditengah kebahagiaan dengan hadirnya Ismail sebagai buah cintanya. Ujian cinta itu berlanjut kepada Ibunda Hajar, ibu dari Ismail itu harus rela ditinggalkan suaminya untuk melakukan perjalanan dakwah yang begitu lama. Ibrahim pun tak kalah berat ujiannya, harus meninggalkan Ismail yang telah dinanti begitu lama. Atas nama cinta pula, Ibrahim menyerahkan keselamatan, keamanan, rezeki dan keberlangsungan hidup Hajar dan Ismail di tangan Allah.

Ibunda Hajar pun harus berlari menempuh jarak yang teramat jauh antara Shofa dan Marwah untuk mendapatkan air bagi Ismail kecil yang sedang kehausan. Bahkan Allah pun mewajibkan bagi setiap manusia yang pergi haji untuk ikut merasakan perjuangan Ibunda Hajar, seorang ibu dari manusia yang kelak dikenal sebagai manusia paling sabar di dunia.

Hingga Allah membalaskan cinta Hajar atas perjuangannya melalui hentakan kaki mungil Ismail ke muka bumi berupa mata air zam-zam yang tidak akan pernah kering hingga kini.

Ibrahim kembali kepada keluarga tercintanya, tapi ujian baru pun sudah menanti. Belum puas Ibrahim menghabiskan rasa rindu kepada anaknya yang sudah mulai tumbuh besar dan menyenangkan itu. Belum puas Ibrahim meluapkan cintanya kepada anaknya Ismail, Allah menurunkan perintah yang teramat berat, perintah yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, perintah jikalau bukan Ibrahim yang menerimanya pastilah dianggap bisikan setan, perintah yang jelas menguji keimanan Ibrahim untuk cenderung kemanakah cintanya, Ismail ataukah Allah?

Atas nama cinta pula, Ibrahim menceritakan tentang perintahniya itu kepada anaknya Ismail. Anak kecil yang digambarkan Al qur’an sebagai anak yang baru berusaha berjalan menyusul ayahnya itu ternyata tak sedikitpun memiliki keraguan atas apa yang diucapkan oleh ayahnya. Ismail pun begitu ikhlas melakukan perintah Allah yang tak secara langsung didengarnya melainkan melalui ucapan ayahnya. Disinilah terlukiskan secara jelas sebuah nilai kepercayaan seorang anak terhadap ayahnya.

Sejuta setan mengganggu, sejuta iblis menghasut, sejuta jin menggoda, mencoba meruntuhkan cinta Ibrahim, Ismail dan Hajar. Tapi keluarga Ibrahim adalah keluarga dengan tradisi kemenangan untuk setiap ujian, keyakinan dan cintanya yang teramat tinggi kepada Allah yang menjadikan semuanya begitu berbeda. Keluarga Ibrahim, keluarga tangguh yang mampu menghalau semua godaan, hasutan dan gangguan. Mereka melempari setan dengan batu-batu kerikil, yang kemudian Allah mengabadikannya dalam ibadah jumrah. Bismillaahi Allaahu Akbar!

Dan,
Berdoalah
Agar dicintai seperti Sarah mencintai Ibrahim
Seperti Hajar mencintai Ibrahim
Seperti Ismail mencintai Ayahnya

Agar  mampu mencinta seperti Ibrahim mencintai Allah
Seperti Ibrahim yang setia kepada Sarah
Seperti Ibrahim yang cinta kepada Hajar
Seperti cinta Ibrahim kepada Ismail

Dan, memiliki keihklasan seperti Ismail



Solo Spirit of Java, 11/10/2009

0 komentar: