Labels
- Cerpen (4)
- Coretankuh (7)
- Diary Sepi (16)
- Essai (3)
- Kontemplasi (2)
- Menenun Jalinan Cinta (3)
- Refleksi dan Inspirasi (4)
Sinuba Sinukarsa
Blog Archive
Powered by Blogger.
Popular Posts
Tuesday, June 15, 2010
Bukan Dua kaki
9:50 PM | Diposkan oleh
Salman
Angin di
perbatasan Erez mendadak hilang yang sepintas tadi berdesir meninggi. Bahkan
langitnya yang tampak indah seperti retak mendadak : meratap, meminta agar
lelaki itu tidak meneruskan ambisinya lagi. Ambisi Netayahu, pemimpin tertinggi
Israel yang
terus berambisi meluaskan wilayahnya menguasai Gaza .
“Aku dengar
besok Haneya hendak ke Jabaliya?” tanya Edna. Lelaki pasukan Netayahu dengan
Uzi di tangannya itu meneliti sekeliling daerah pos Penjagaan Erez. Wajahnya
tampak mulai lelah hampir setengah hari berjaga. “Apa saja yang hendak
dilakukan Haneya?” matanya sesekali melempar pandangannya ke daerah bekas-bekas
pemukiman Yahudi yang telah dikosongkan.
Inilah yang
ditakutkan oleh para tentara Israel .
Kemenangan Hamas dalam pemilu telah membakar semangat Palestina. Penderitaan
telah membuat Palestina pandai memilih ibu. Penindasan, aneksasi, embargo, dan
tindakan brutal Israel ,
telah mengajari Palestina untuk memilih satu jalan : Jihad!
***
“Semalaman ia
nyaris tak tidur, sampai tengah malam ia masih membaca Al Qur’an. Dia sedang
asyik sholat malam, tatkala saya terjaga. Dia membaca ayat-ayat Nun sambil menangis”
ujar perempuan yang tak lain adalah istrinya.
Usai subuh Yasir,
lelaki 25 tahun itu kembali membaca Al Qur’an. Ayat-ayat jihad kembali
dibacanya dengan nada bergetar, sesekali ia berhenti menahan isak tangis.
Menjelang pukul
06.00 waktu Palestina, ia merapikan pakaiannya. Sejurus kemudian ia bergegas
untuk menemui istrinya.
Kepada istrinya,
dia berkata, “hari ini akan ada acara wisuda para hufadz di Gaza, ada sekitar
2740 hufadz yang hendak di lantik oleh Haneya. Dan aku hendak membersamai Haneya
disana. Boleh jadi ini adalah saat terpenting dalam proses perjalanan
pembebasan Palestina.” Ucapnya dengan mata berbinar.
“Semoga Allah
selalu melindungimu dan merahmatimu”, Yasir mengamini doa istrinya, lantas diam
tak berkata apa-apa. Istrinya memeluk erat Yasir yang masih berdiri tegap. Lalu
Yasir melepaskan pelukan hangat sang istri, mengecup keningnya dan bergegas
untuk berangkat.
Beberapa jam
kemudian, pukul sebelas waktu setempat. Suasana kota
Gaza seperti biasanya. Semrawut,
hiruk pikuk, berdebu dan selalu dihantui rasa takut setiap saat Israel
melancarkan serangan baik lewat udara, darat dan laut. Siang yang panas. Yasir
bergegas pulang ke rumah yang berada di pinggiran kota
Gaza . Dari kejauhan telah nampak
pintu perlintasan Erez yang dijaga ketat oleh tentara Israel .
Dan bekas-bekas pemukiman Yahudi yang telah dikosongkan juga terlihat,
terhalang oleh gundukan-gundukan pasir yang seolah membatasi pemukiman itu
dengan warga Palestina lainnya.
Yasir Al Akhras,
pemuda yang telah menjadi hafidz sejak usia 15 tahun semakin aktif dalam perjuangan
kemerdekaan Palestina, juga turut serta berkampanye untuk memenangkan Hamas
dalam Pemilu. Sudah tak terhitung aksinya, bagaimana dengan gagah berani dia
melempari tank-tank Israel
dengan batu, bersama teman-teman seperjuangnnya berlari menghindari gas-gas air
mata dan peluru karet. Tak ada rasa takut karena telah tertanam dalam dada :
kami cinta syahid, dan siap mati demi syahid.
“Beberapa
gundukan lagi aku sudah akan sampai di rumah dan segera bertemu dengan istriku”,
bisik Yasir dalam hati. Issa farah, istri Yasir yang baru dinikahinya satu
pekan sebelum Ramadhan adalah putri dari salah satu pemimpin tertinggi Hamas
yang telah gugur dalam penyerangan markaz tentara Israel .
Perempuan 23 tahun yang terlahir di kamp Dheishes itu mengerti benar hakekat
pernikahan di Palestina. Apalagi menikah dengan pemuda pejuang seperti Yasir
yang sewaktu-waktu bisa saja mendapat panggilan untuk melakukan bom syahid.
Namun tiba-tiba
suara pesawat mendekat seperti bumi yang hendak kiamat. Membuyarkan lamunan
Yasir. Sontak, mendongak ke atas. Sesuatu yang bersinar terang melesat dengan
cepatnya menuju pemukimam yang tak jauh dari gundukan pasir dimana Yasir
berdiri. Sinar itu makin terang, membutakan mata lalu diiringi suara runtuhan bangunan.
“Itu pemukimanku..!!
tempat tinggalku…! Farah!”, teriak Yasir.
Suara-suara
ledakan terus membahana beberapa saat. Membakar pemukiman-pemukiman warga
Palestina. Yasir hanya bisa terdiam sambil melihat pesawat-pesawat Zionis itu
meninggalkan tempat. Serangan itu memang tertuju ke rumah Yasir dan beberapa
tetangganya, serangan yang diarahkan kepada para aktivis Hamas. Suara sirine
ambulans beberapa saat mulai berdatangan.
“Aku tak punya
lagi waktu untuk berlama-lama!! Tinggal satu gundukan lagi akan sampai di
pemukiman dan rumahku”, kata Yasir pelan sambil mempercepat langkahnya. Dia
bergegas semakin mempercepat langkahnya, berlari sekencang-kencangnya melalui
gundukan pasir. Tiba-tiba, suara pesawat kembali melintas diatas kepalanya. Dan
kemudian…
BLARRRR!!!!
Sebuah bom jatuh
dan meledak tidak jauh dari Yasir berpijak. “Allahu Akbar…Allahu Akbar…” terdengar lirih suara takbir Yasir
meski perlahan. Suaranya kian meredup, diikuti pandangannya yang semakin kabur.
Hanya pasir-pasir dan pasir yang bisa dilihat, kemudian gelap.
***
Senja
di Jabaliya seusai Ramadhan
Desauan angin
gurun ini bagaikan denting dawai - dawai lara. Begitu pilu dan mencekam.
Bersimfonikan lagu kematian. Sesekali di selingi gelegar besar yang
menggetarkan bumi. Lalu asap hitam mengepul tinggi dan puing-puing pun gugur
berserak.
Jabaliya retak.
Hancur berkeping terserak. Ia ditangisi sendu seluruh alam. Meraung-raung mobil
ambulan tak berhenti lalu lalang penuh korban luka, tak jarang berisi
mayat-mayat tak utuh dan terbelah.
Jabaliya berubah
menjadi begitu pengap, amis dan banjir merah darah. Hari demi hari selalu jatuh
korban di tanahnya. Dan malaikat hilir mudik untuk menjemput jiwa-jiwa perkasa.
Entah sampai kapan?
“Tenanglah sayangku,
kau akan segera mendapat perawatan” kata Farah kepada Yasir, suaminya. Sementara
Farah semakin merapatkan pelukannya di dada Yasir. Matanya basah. Menatap suaminya
yang berada di depannya. Wajahnya babak belur, kumal penuh debu dan darah. Tetapi
yang lebih menyayat hati perempuan itu, adalah kedua kaki Yasir tersebut. Kedua
kakinya harus diamputasi akibat luka bakar yang sangat parah, luka bakar serius
sampai ke tulang yang ia prediksi berasal dari senjata kimia.
Sementara diluar
sana serdadu Israel
sedang haus darah. Memburu siapa saja yang hendak dijadikan mangsa. Bagai
serigala lapar mereka menembaki siapa saja yang mereka temui. Sejuta tangis
pecah. Satu per satu rumah dan bangunan luluh lantak. Lantas bagaimana dengan
dunia? Ya, dunia hanya bisa bercerita tentang mereka, mengirimkan sejuta
simpati dan tak bisa menghentikan kekejaman Israel .
Prosesi amputasi
kedua kaki Yasir telah selesai. Farah mendorong kursi rodanya menuju sebuah
ruangan untuk perawatan selanjutnya. Nampak tak ada wajah kesedihan terlihat di
wajah Yasir. Dia begitu tegar dengan apa yang telah terjadi. Yasir meletakan
tangannya diatas tangan Farah.
“Farah, aku
cinta kau karena Allah”, Yasir bicara sambil menyentuh dagu Farah, mengangkat
wajahnya. Mereka saling bertatapan.
“Sudahlah…jangan
kau terus meneteskan air mata”, Yasir menghapus butiran-butiran air mata yang mengalir
membasahi pipi Farah.
“ Palestina
tidak akan menangis. Palestina telah lelah menangis. Nyatanya menangis tidak
akan mengubah apa-apa. Hanya jihad yang akan mengubah nasib. Bukankah Ahmad
Yasin telah mengajarkan walau di kursi roda!”, Farah menatap lekat-lekat
matanya diiringi takbir dalam hatinya.
______________
Note :
Hufadz : Para penghafal Al Qur’an
Perbatasan Erez : Pintu perbatasan yang letaknya di sebelah utara Gaza .
Jabaliya : Kota yang terletak di bagian utara Gaza City , tak jauh dari
Perbatasan Erez
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






1 komentar:
Itu bom fosfor putih ya mister? Yasir-- generasi Syekh Ahmad Yasin. Suka setting tempatnya, two thumbs up!!!
Post a Comment