Laman

Tuesday, June 15, 2010

Bukan Dua kaki



Angin di perbatasan Erez mendadak hilang yang sepintas tadi berdesir meninggi. Bahkan langitnya yang tampak indah seperti retak mendadak : meratap, meminta agar lelaki itu tidak meneruskan ambisinya lagi. Ambisi Netayahu, pemimpin tertinggi Israel yang terus berambisi meluaskan wilayahnya menguasai Gaza.

“Aku dengar besok Haneya hendak ke Jabaliya?” tanya Edna. Lelaki pasukan Netayahu dengan Uzi di tangannya itu meneliti sekeliling daerah pos Penjagaan Erez. Wajahnya tampak mulai lelah hampir setengah hari berjaga. “Apa saja yang hendak dilakukan Haneya?” matanya sesekali melempar pandangannya ke daerah bekas-bekas pemukiman Yahudi yang telah dikosongkan.

Inilah yang ditakutkan oleh para tentara Israel. Kemenangan Hamas dalam pemilu telah membakar semangat Palestina. Penderitaan telah membuat Palestina pandai memilih ibu. Penindasan, aneksasi, embargo, dan tindakan brutal Israel, telah mengajari Palestina untuk memilih satu jalan : Jihad!

Para petinggi Israel pun sekarang di hantui ketakutan. Apalagi terdengar kabar tentang akan lahirnya 2740 yang akan menjadi pemuda gagah. Semakin frustasi. Seakan Palestina memiliki pilar-pilar yang tak akan pernah lapuk. Gaza, tak mudah membongkar pintu-pintunya, seperti memiliki banyak gembok. Dan masing-masing gembok itu lebih kuat dari gembok sebelumnya.

***


“Semalaman ia nyaris tak tidur, sampai tengah malam ia masih membaca Al Qur’an. Dia sedang asyik sholat malam, tatkala saya terjaga. Dia membaca ayat-ayat Nun sambil menangis” ujar perempuan yang tak lain adalah istrinya.

Usai subuh Yasir, lelaki 25 tahun itu kembali membaca Al Qur’an. Ayat-ayat jihad kembali dibacanya dengan nada bergetar, sesekali ia berhenti menahan isak tangis.

Menjelang pukul 06.00 waktu Palestina, ia merapikan pakaiannya. Sejurus kemudian ia bergegas untuk menemui istrinya.

Kepada istrinya, dia berkata, “hari ini akan ada acara wisuda para hufadz di Gaza, ada sekitar 2740 hufadz yang hendak di lantik oleh Haneya. Dan aku hendak membersamai Haneya disana. Boleh jadi ini adalah saat terpenting dalam proses perjalanan pembebasan Palestina.” Ucapnya dengan mata berbinar.

“Semoga Allah selalu melindungimu dan merahmatimu”, Yasir mengamini doa istrinya, lantas diam tak berkata apa-apa. Istrinya memeluk erat Yasir yang masih berdiri tegap. Lalu Yasir melepaskan pelukan hangat sang istri, mengecup keningnya dan bergegas untuk berangkat.

Beberapa jam kemudian, pukul sebelas waktu setempat. Suasana kota Gaza seperti biasanya. Semrawut, hiruk pikuk, berdebu dan selalu dihantui rasa takut setiap saat Israel melancarkan serangan baik lewat udara, darat dan laut. Siang yang panas. Yasir bergegas pulang ke rumah yang berada di pinggiran kota Gaza. Dari kejauhan telah nampak pintu perlintasan Erez yang dijaga ketat oleh tentara Israel. Dan bekas-bekas pemukiman Yahudi yang telah dikosongkan juga terlihat, terhalang oleh gundukan-gundukan pasir yang seolah membatasi pemukiman itu dengan warga Palestina lainnya.

Yasir Al Akhras, pemuda yang telah menjadi hafidz sejak usia 15 tahun semakin aktif dalam perjuangan kemerdekaan Palestina, juga turut serta berkampanye untuk memenangkan Hamas dalam Pemilu. Sudah tak terhitung aksinya, bagaimana dengan gagah berani dia melempari tank-tank Israel dengan batu, bersama teman-teman seperjuangnnya berlari menghindari gas-gas air mata dan peluru karet. Tak ada rasa takut karena telah tertanam dalam dada : kami cinta syahid, dan siap mati demi syahid.

“Beberapa gundukan lagi aku sudah akan sampai di rumah dan segera bertemu dengan istriku”, bisik Yasir dalam hati. Issa farah, istri Yasir yang baru dinikahinya satu pekan sebelum Ramadhan adalah putri dari salah satu pemimpin tertinggi Hamas yang telah gugur dalam penyerangan markaz tentara Israel. Perempuan 23 tahun yang terlahir di kamp Dheishes itu mengerti benar hakekat pernikahan di Palestina. Apalagi menikah dengan pemuda pejuang seperti Yasir yang sewaktu-waktu bisa saja mendapat panggilan untuk melakukan bom syahid.

Namun tiba-tiba suara pesawat mendekat seperti bumi yang hendak kiamat. Membuyarkan lamunan Yasir. Sontak, mendongak ke atas. Sesuatu yang bersinar terang melesat dengan cepatnya menuju pemukimam yang tak jauh dari gundukan pasir dimana Yasir berdiri. Sinar itu makin terang, membutakan mata lalu diiringi suara runtuhan bangunan.

“Itu pemukimanku..!! tempat tinggalku…! Farah!”, teriak Yasir.

Suara-suara ledakan terus membahana beberapa saat. Membakar pemukiman-pemukiman warga Palestina. Yasir hanya bisa terdiam sambil melihat pesawat-pesawat Zionis itu meninggalkan tempat. Serangan itu memang tertuju ke rumah Yasir dan beberapa tetangganya, serangan yang diarahkan kepada para aktivis Hamas. Suara sirine ambulans beberapa saat mulai berdatangan.

“Aku tak punya lagi waktu untuk berlama-lama!! Tinggal satu gundukan lagi akan sampai di pemukiman dan rumahku”, kata Yasir pelan sambil mempercepat langkahnya. Dia bergegas semakin mempercepat langkahnya, berlari sekencang-kencangnya melalui gundukan pasir. Tiba-tiba, suara pesawat kembali melintas diatas kepalanya. Dan kemudian…

BLARRRR!!!!

Sebuah bom jatuh dan meledak tidak jauh dari Yasir berpijak. “Allahu Akbar…Allahu Akbar…” terdengar lirih suara takbir Yasir meski perlahan. Suaranya kian meredup, diikuti pandangannya yang semakin kabur. Hanya pasir-pasir dan pasir yang bisa dilihat, kemudian gelap.

***



Senja di Jabaliya seusai Ramadhan

Desauan angin gurun ini bagaikan denting dawai - dawai lara. Begitu pilu dan mencekam. Bersimfonikan lagu kematian. Sesekali di selingi gelegar besar yang menggetarkan bumi. Lalu asap hitam mengepul tinggi dan puing-puing pun gugur berserak.

Jabaliya retak. Hancur berkeping terserak. Ia ditangisi sendu seluruh alam. Meraung-raung mobil ambulan tak berhenti lalu lalang penuh korban luka, tak jarang berisi mayat-mayat tak utuh dan terbelah.

Jabaliya berubah menjadi begitu pengap, amis dan banjir merah darah. Hari demi hari selalu jatuh korban di tanahnya. Dan malaikat hilir mudik untuk menjemput jiwa-jiwa perkasa. Entah sampai kapan?

“Tenanglah sayangku, kau akan segera mendapat perawatan” kata Farah kepada Yasir, suaminya. Sementara Farah semakin merapatkan pelukannya di dada Yasir. Matanya basah. Menatap suaminya yang berada di depannya. Wajahnya babak belur, kumal penuh debu dan darah. Tetapi yang lebih menyayat hati perempuan itu, adalah kedua kaki Yasir tersebut. Kedua kakinya harus diamputasi akibat luka bakar yang sangat parah, luka bakar serius sampai ke tulang yang ia prediksi berasal dari senjata kimia.

Sementara diluar sana serdadu Israel sedang haus darah. Memburu siapa saja yang hendak dijadikan mangsa. Bagai serigala lapar mereka menembaki siapa saja yang mereka temui. Sejuta tangis pecah. Satu per satu rumah dan bangunan luluh lantak. Lantas bagaimana dengan dunia? Ya, dunia hanya bisa bercerita tentang mereka, mengirimkan sejuta simpati dan tak bisa menghentikan kekejaman Israel.

Prosesi amputasi kedua kaki Yasir telah selesai. Farah mendorong kursi rodanya menuju sebuah ruangan untuk perawatan selanjutnya. Nampak tak ada wajah kesedihan terlihat di wajah Yasir. Dia begitu tegar dengan apa yang telah terjadi. Yasir meletakan tangannya diatas tangan Farah.

“Farah, aku cinta kau karena Allah”, Yasir bicara sambil menyentuh dagu Farah, mengangkat wajahnya. Mereka saling bertatapan.

“Sudahlah…jangan kau terus meneteskan air mata”, Yasir menghapus butiran-butiran air mata yang mengalir membasahi pipi Farah.

“ Palestina tidak akan menangis. Palestina telah lelah menangis. Nyatanya menangis tidak akan mengubah apa-apa. Hanya jihad yang akan mengubah nasib. Bukankah Ahmad Yasin telah mengajarkan walau di kursi roda!”, Farah menatap lekat-lekat matanya diiringi takbir dalam hatinya.

______________
Note :
Hufadz : Para penghafal Al Qur’an
Perbatasan Erez : Pintu perbatasan yang letaknya di sebelah utara Gaza.
Jabaliya : Kota yang terletak di bagian utara Gaza City, tak jauh dari Perbatasan Erez

Seusai Ramadhan 1429 H, Khaled Misyal, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz Al Qur’an. Anak-anak yang sudah hafal Al Qur’an 30 Juz ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. Jika dalam usia semuda itu mereka telah hafal Al Qur’an, bayangkan 20 tahun lagi mereka menjadi seperti apa? Demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi

1 komentar:

Anonymous said...

Itu bom fosfor putih ya mister? Yasir-- generasi Syekh Ahmad Yasin. Suka setting tempatnya, two thumbs up!!!