Laman

Sunday, April 4, 2010

Kado Paling Istimewa

Sebuah UCAPAN akan terasa MEWAH sebelum diminta. Seorang istri menunggu begitu lama…sangsuami mengeluarkan kata I LOVE YOU.

“rasanya seperti penerjun saat melayang-layang di udara penuh kemenangan”, katanya.

Bila cinta mengapa kau tak katakan dari dulu saja? Lanjutnya.

“ saya memang sengaja tak ingin mengucap itu, saya lebih baik menunggu. Sebab, aku ingin melakukannya tanpa diminta. Dan, walaupun aku melakukannya baru pertama kali, tapi terasa sangat mewah dibandingkan aku melakukannya berulang-ulang setelah tahu bahwa kau memintanya”

Untuk tiga kata sederhana itu?

“ itu bukan sesuatu yang sederhana tetapi istimewa” jawabnya. Bangga.

Benarkah demikian?



Kawan, ucapan juga salah satu wujud dari perhatian, kasih sayang, jalinan persahabatan dan lebih tepatnya ikatan ukhuwah. Ucapan selamat, ucapan menanyakan kabar, ucapan penyemangat serupa belaian lembut tangan seorang ibu kepada anaknya. Oh..ternyata masih banyak yang mencintai saya, begitu banyak perhatian terhadap saya. Mungkin itulah ungkapan yang muncul.

Kemarin ketika saya mengikuti acara reses dewan, bertemu seorang teman. Dia bercerita, bahwa dia merasa sangat senang sekali, merasa mendapat lebih dari sekedar hadiah. Ucapan selamat atas kelahiran putranya datang dari salah satu aleg DPR RI kepadanya, dia tak begitu dekat mengenalnya, tetapi doa dan perhatiannya bagai sebuah kado yang MEWAH dan ISTIMEWA. Mungkin ini pernah diajarkan juga oleh seorang lelaki mulia, beliau adalah pemimpin negara, yang saat mengimami shalat atau memimpin perjalanan jauh sempat bertanya, “ Dimana si Fulan? Mengapa ia tak tampak? “ ah…indahnya sebuah bahasa CINTA.

Ucapan-ucapan itu, sungguh, merupakan ungkapan perhatian dan kasih sayang. Ia adalah bagian dari kekayaan hati manusia. Betapa sungguh, setiap menerima ucapan ulang tahun, doa pernikahan, ucapan kesuksesan, ucapan kelulusan, ucapan kesembuhan, dan lain-lain ada keterharuan yang menyemaraki dada. Bukan pada kadonya saya rasa, bukan pada ucapan ataupun doanya yang cenderung mengawang-awang. Tapi oleh sebuah sugesti bahwa saya masih menempati sebuah ruang di hati orang lain. Karenanya, selalu saja ada yang menyampaikan selamat itu tanpa terlebih dulu saya memberi kartu undangan pesta atau membuat woro-woro bahwa hari ini saya berulang tahun, hari ini saya sakit, besok lusa saya menikah, sebulan ini saya lagi tak bersemangat.

Dengan demikian, saya merasa ‘begitu berharga’ kendati saya tidak lantas menggeneralisir bahwa mereka yang tidak mengucapkan selamat itu lantas berarti tidak menghargai saya.
Ah, tapi tunggu…Apakah Tuhan hanya milik orang-orang yang menikah, orang-orang yang ulang tahun ataukah orang-orang yang diberi sebuah kesuksesan. Tentu saja tidak, Tuhan akan mengabulkan doa siapa saja, pada waktu kapan saja, dan itu adalah janji-Nya. Dia tidak perlu menunggu seseorang berulang tahun untuk menunjukkan cinta-Nya sebab cinta itu tak pernah kering.

Lantas, betapa kemudian saya teringat dengan sebuah tulisan Martha Bolton dalam buku I Love You... Still. Tulisnya:

“Kami mengemudi di Interstate 40, dan dalam perjalanan kami melihat pemandangan yang luar biasa. Tidak ada rambu-rambu untuk menasihatkan pengemudi berhenti dan menikmati pemandangan itu. Itu tidak diperlukan. Anda tidak bisa melewatkannya.

Sedikit lebih jauh, ketika akhirnya saya melihat tanda bertuliskan “Pemandangan Alam” dicetak di atasnya, pemandangannya tidak terlalu berbeda dengan yang kami lewati sejauh enam puluh mil. Namun, tetap saja pengemudi menepi; keluar dari mobil, membawa kamera di tangan dan dengan semangat memotret.

Saya tidak percaya bahwa mereka sungguh memerlukan tanda untuk menunjukkan keindahan yang sudah ada di hadapan mereka sepanjang jalan.”  Dalam buku tersebut, Martha menyebutkan bahwa mengungkapkan cinta sesungguhnya tak memerlukan tanda apa pun. Banyak orang yang menjadi ‘bodoh’ dengan menganggap sebuah tanda sebagai tempat sakral.

Sebenarnya, seperti indahnya pemandangan sepanjang perjalanan yang dilalui oleh Martha, setiap jenak dalam hidup kita adalah momen yang tepat untuk berbagi doa dan mengungkapkan kasih sayang. Tidak ada bedanya antara hari ulang tahun, pernikahan dan lain sebagainya dengan hari biasa. Hanya saja, karena melihat sebuah tanda berupa ‘hari jadi’ tadi, lantas semua orang berhenti sejenak, menyempatkan diri mengucap selamat yang dilanjutkan doa.
Betapa rumitnya.



Namun, suatu saat saya merasa perlu berpikir sebaliknya. Bahwa, kadang-kadang saya pun merasa ‘canggung’ untuk mengucapkan ‘cinta’ kepada saudara, orang tua, sahabat... tanpa sebelumnya didahului oleh sebuah ‘tanda.’ Betapa saya merasa, tak ada angin, tak ada hujan, tak ada petir apalagi bom nuklir, tiba-tiba saya mengucapkan: “Semoga barakah umurmu, semoga semakin dewasa, semoga berbahagia, tercapai apa yang kaucita dan cintakan.” Bukannya mengamini, barangkali ‘seseorang’ yang saya hadiahi doa itu justru akan terbengong-bengong dan bertanya, “Candra, kamu kenapa? Kok, tiba-tiba error begitu?”

Bukan dalam arti saya tidak sependapat dengan Martha, atau juga Anda, bahwa setiap jeda dalam hidup kita adalah momen yang tepat untuk mengungkapkan kasih sayang dan saling mendoakan. Allah tidak pernah membedakan doa yang diucapkan pada hari ulang tahun, hari menikah, hari dimana mendapat sebuah nikmat dengan hari biasa. Namun, terkadang memang kita memerlukan ‘tanda kecil’ untuk merasa nyaman melakukan sesuatu. Jika belum menjadi kebiasaan bagi Anda untuk mendoakan orang yang Anda cintai, saya memahami. Anda bisa memanfaatkan momen-momen itu jika Anda memang canggung mengucapkan doa langsung di depan teman Anda sebagai ungkapan perhatian dan cinta.

Seperti seorang lelaki kecil di hari ulang tahunnya yang kesepuluh mendapat hadiah yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Tidak kah kau ingin mengganti hadiahmu, Ayah, dengan sesuatau yang berbeda. Sebab aku ingin kejutan dan kebahagiaan”.

"Barangkali 'bahagia' hanya bisa diberikan oleh 'keterkejutan' atau sesuatu yang berbeda," kata ayahnya. "Tapi, jika hadiah itu sebuah doa, apakah kau akan meminta Ayah tidak lagi mendoakanmu, dan memberi sesuatu selain doa?" Ayahnya menjawab

Mungkin, seiring jalannya waktu, di lain kesempatan, Anda bisa bebas menghadiahi teman Anda doa kapan saja Anda mau. Anda kemudian akan mulai melihat ada begitu banyak waktu istimewa untuk orang yang Anda cintai dan kasihi. Lantas... pelan-pelan, semua waktu akan menjadi istimewa. Semua waktu akan menjadi pemberhentian yang tepat untuk mengucap doa. Anda tak perlu lagi repot menunggu tahun depan untuk sekadar menambahkan doa yang Anda rasa kurang lengkap pada sahabat Anda; kemarin!

Sebab, Tuhan bukan hanya milik orang-orang yang memiliki tanda. Doa adalah kado paling istimewa. Dan untuk saudara-saudara kita di PALESTINA, DOA adalah WEAPON OF UMMAH.


Sepulang Liqoat.

0 komentar: