Laman

Saturday, April 17, 2010

Rose for Mama



Hembusan angin menyapu lembut wajah sendu seorang anak laki-laki kecil…., air matanya berderai membasahi gundukan tanah merah di depannya.

Di usia yang masih belia, memaksa tangan-tangan kecilnya untuk memecah karang-karang kehidupan. Berlomba bersama deburan ombak pantai menarik tali-tali kapal yang hendak merapat ke tepian. Memikul hasil buruan laut menuju ke tempat-tempat pelelangan.

“ Pagi ini, hasil tangkapan lumayan. Cuaca bagus, nelayan tak banyak mengalami kesusahan..”, papar juragan perahu, yang kini telah memiliki hampir sepuluh buah perahu.

“Izar…, tolong tangkapan yang dikeranjang warna biru, kau pisahkan isinya…”

“ Gan! sudah jam setengah tujuh…saya mau berangkat ke sekolah..”

“Ooo…ya sudah kalau begitu, ditepikan saja keranjangnya, sekolahe sing sregep…ngesuk dadio menteri…” nasehat Juragan perahu bagaikan mimpi-mimpi yang tak terbeli melihat kondisinya sekarang.

Membawa dua lembar lima ribuan, Izar melenggang pulang kemudian berangkat menuju bangku dimana ia masih bisa berharap untuk mewujudkan cita-citanya.

Sudah sekitar lima tahun anak lelaki kecil itu tinggal hanya bersama bapaknya. Kampung nelayan menjadi surga bagi hidupnya. Deburan ombak pantai menjadi tembang pengiring mengarungi gelombang kehidupan.

Kehidupan nelayan, boleh dikatakan sampai hari ini masih tetap berada dalam situasi dan kondisi yang sangat memprihatinkan. Kalau pun ada dari antara mereka yang bisa hidup mapan dan berkecukupan jumlahnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan nelayan yang hidupnya masih berada dibawah garis kemiskinan.

Setiap pagi menjelang, sang bapak bersiap menekuni aktivitas hariannya sebagai pesuruh disebuah kecamatan dan sebagai nelayan musiman. Usia senjanya dia habiskan untuk berjuang mengais kepingan-kepingan rupiah benteng pertahanan hidup, menggapai harapan sembari terus berjuang, berharap bertemu bagian-bagian hidup yang lebih menyenangkan.

“ Selamat pagi pak!! “

Sapaan Bu Camat membuat dia terkejut dan bergegas memulai pekerjaan rutinnya, “ Ooo….Selamat pagi juga Bu Camat, tumben pagi benar datangnya….. “.

“ Ini mau siap-siap pak!! Nanti bakalan ada rapat, persiapan program revitalisasi perikanan “

“ Sekalian saya minta tolong, nanti di siapkan untuk konsumsi peserta rapat, pesertanya kira-kira 25 orang”, sembari menyodorkan uang enam puluh ribu rupiah yang dikeluarkan dari tas cangkingnya warna hitam.

Program revitalisasi perikanan yang rencananya akan dijalankan hingga akhir tahun seperti yang diungkapkan menteri kelautan dan perikanan, adalah merupakan program yang memfokuskan revitalisasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi berupa berbagai kegiatan usaha bidang penangkapan ikan dan budidaya perikanan, serta mengoptimalkan operasional unit usaha pengolahan ikan dalam negeri.

Program yang juga diharapkan bisa menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru berupa peluang usaha perikanan yang masih memiliki prospek cerah di masa yang akan datang.

“ Pak Ali, saya boleh menanyakan sesuatu….”

Pak Ali mendadak kaget mendengar pertanyaan Bu Camat, pertanyaan yang tidak biasa dilontarkan. Tidak seperti pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan, pertanyaan tentang anaknya si Izar, pekerjaan yang telah diselesaikannya. Kali ini, pertanyaan yang dilontarkan mengundang seribu tanda tanya.

“Tentu saja boleh bu….!!” Kali ini Pak Ali menjawab penuh ragu, sinar matanya menatap, menunggu pertanyaan apakah yang hendak dia ucapkan.

“ Bagaimana kabar istrimu Sulasih…?”

Kata-kata yang sempat membuat jantung Pak Ali berhenti berdetak, bergetar jemarinya menjatuhkan kepingan penutup gelas hingga menimbulkan suara dentingan yang cukup membangunkan memori otaknya yang sudah sekian lama tertidur. Entah sudah berapa lama, ia tak melihat lagi wajah istrinya itu. Bahkan sepenggal kabar berita pun, tak pernah diperolehnya. Sudah lama ia menimbun rindu di dalam sudut hatinya. Berdoa suatu saat kembali bersama dalam lingkaran keluarga.

“ Tak tahu Bu…, sudah lima tahun lebih semenjak dia berangkat ke Saudi, tak pernah memberikan kabar apa pun…”

Kemiskinan yang melanda para nelayan, membuat Sulasih tergoda dengan tarian-tarian riyal. Mencoba menggantungkan nasib berjuang ke luar negeri dengan harapan perekonomian kan bersinar. Rela meninggalkan buah hati dan suaminya, bekerja sebagai pejuang devisa. Kini Pak Ali hanya berusaha menjaga buah hati hasil cintanya, satu-satunya amanah yang dititipkan Nya. Apalagi setelah tak ada kabar darinya, berbagai usaha telah ditempuh untuk mencarinya, tetapi takdir berkata lain, Sulasih istrinya sekarang tak diketahui keberadaannya, sepenggal berita pun tak pernah dia dapatkan.


***


Pukul 00.00 Saudi Arabia

“ Sulasih, aina ant….!!”(1), teriak majikannya memekakan telinga..

“ Aiwa yaa sayyidah…ana fil mathbah…”(2)

“ Rojaa’an, hatil-minsyafah (3)

Hampir tengah malam, Sulasih masih bergelut dengan perabotan rumah tangga, kebetulan malam itu telah selesai acara jamuan makan malam keluarga besar. Teriakan sang majikan membuat Sulasih segera bergegas menuruti apa yang telah diperintahkan. Sejenak meninggalkan pekerjaan dapurnya, berlari menuju kamar membuka lemari mengambil selembar handuk berwarna putih. Kemudian mengantarkannya ke kamar sang majikan. Tergopoh-gopoh.

“ hadza yaa Sayyidah….., Sayyidah….ana muth’ib jiddan…..”(4)

Perasaan takut meliputi hatinya, wajahnya yang kuyu jelas terlihat, tergurat garis-garis kelelahan. Berdiri sambil memperhatikan sang majikan yang sedang membersihkan perias wajah, Sulasih mencoba memberanikan diri meminta keringanan waktu hendak menyelesaikan semua pekerjaannya besok pagi.

“ laa…”, jawaban yang benar-benar mematikan harapannya. Seakan-akan tidak memberikan opsi pilihan apapun selain harus mengerjakannya malam ini juga.

Sulasih melenggang lunglai menuju ruangan dapur kembali. Berjalan tertatih-tatih menghiraukan rasa kantuk, pegal-pegal seluruh badan, rindu yang terpendam kembali menyatu bersama gelas, piring, sendok, cangkir, panci dan peralatan lainnya. Suara gemercik air kran, dentingan sendok aluminium yang bertumbukan, mengalun memecah sunyinya malam. Tangannya yang mungil penuh busa, dia gerak-gerakan seirama dengan suara gemercik air kran, mengelus setiap perabotan yang penuh kotoran sisa makanan. Dari sudut kedua bola matanya menetes air mata, entah sudah berapa kali dia menangis.

Tubuh kurus Sulasih masih harus tetap mengabdi pada tuannya. Menahan beban derita hampir setiap hari dirasakannya. Hingga pada sutau saat sampailah Sulasih pada ujung yang tak disangka, terbaring dalam lorong-lorong penyembuhan, terkapar tanpa sebuah harapan


***

Mentari pagi menampakan sinarnya yang terang, ketika seorang bocah laki-laki yang duduk di bangku kelas IV SD bersama Bapaknya mencari ikan di laut. Siapapun tahu bahwa bocah seumur itu belum saatnya untuk mencari nafkah. Tiga jam sudah kedua makhluk itu berayun-ayun di atas perahu kecil di tengah lautan demi mencari sesuap nasi. Deburan ombak yang menggunung menghantam ke kanan kiri sisi perahu yang ia tumpangi, tak terasa perahu yang ditumpanginya seakan-akan ditelan oleh ganasnya ombak laut selatan. Hanya semangat yang kuat disertai pasrah kepada-Nya yang membuat mereka berani menapakkan sedikit demi sedikit perahu yang mereka tumpangi menuju tengah lautan. Mereka berangkat sebelum suara adzan subuh membangunkan penduduk kampung nelayan, meraka kelaut sebelum orang-orang berkumpul di masjid untuk menunaikan sholat jamaah subuh.

Suatu pilihan yang harus mereka jalani antara menyerahkan diri kepada-Nya di masjid-masjid dengan nilai-nilai spiritual yang tidak bisa dinilai dengan angka-angka nominal atau memilih melaut untuk mencari nafkah bagi hidupnya. Padahal, berangkat melaut pun bisa dilakukan setelah sholat jamaah di masjid. Tapi, memang sudah menjadi kebiasaan penduduk kampung nelayan melaut di pagi buta sebelum suara Tuhan menggema di kampung tersebut.
Hampir setiap hari Minggu ketika liburan sekolah bocah kecil itu di ajak Bapaknya ke laut. Hari Minggu biasanya adalah hari yang dinantikan oleh anak-anak seusianya, karena mereka akan liburan sekolah dan bermain dengan riang bersama teman-teman seusianya. Main petak umpet, bermain kelereng ataupun bermain layang-layang. Namun, tidak bagi bocah SD itu yang hanya pasrah melawan kehendak Tuhan dengan mediasi Bapaknya untuk ikut ke laut.

Minggu itu sebenarnya Bapaknya ingin libur kerja, tidak berangkat ke laut. Bapaknya ingin sekali berlibur di hari Minggu seperti layaknya pegawai-pegawai kantaron. Bapak berpamitan kepada angin timur yang dianalogikan dengan banyak ikan, pamit kepada bintang gubuk penceng tempat kami bisa membedakan mana lautan dan mana daratan.

Dan pamit kepada Bu Sarti penjual nasi di waktu subuh yang biasanya dibelinya ketika akan pergi melaut bahwa hari itu Beliau tidak pergi melaut.
Barangkali Bapak iri dengan pegawai kantoran, di saat pegawai kantoran punya hari libur di tengah kepenatan kerja. Ada yang hanya lima kerja seperti pegawai negeri di negeri ini, satpam dengan sistem rotasi siang dan malam yang gentian jaga dengan temannya mereka hanya empat hari kerja dua hari libur, atau paling banter enam hari kerja dan satu hari libur. Namun, hal ini tidak berlaku bagi para nelayan mereka tidak mempunyai hari libur tetap dan selalu melaut di saat pegawai kantoran libur, kalaupun libur itu pun terjadi jika hari raya atau harga BBM tidak sesuai dengan hasil tangkapan.

Sekembalinya dari warung makan Bapak langsung pulang ke rumahnya untuk menikmati libur satu hari yang akan dijalaninya. Ia tatap wajah bocah SD yang masih lugu terbaring di ranjang, ia usap pipinya dan dicium keningnya.

“Nak, bangun…bangun, ayo kita berangkat ke laut!”

Ternyata Bapak berubah pikiran, Beliau tidak libur hari itu dan dengan gigihnya mengambil perlengkapan melaut sembari menunggu anaknya yang masih susah dibangunkan. Bocah kecil yang masih belum tahu mengapa ia diajak pergi itu lantas menayakan kepada Bapaknya.

“Bapak, mengapa saya yang masih kecil ini diajak melaut?” suara bocah itu lirih memberanikan diri dengan sekuat tenaga.

“Nak, bapakmu! dulu, sekarang, dan di masa depan selalu menggantungkan hidup dan berpenghasilan dari hasil laut. kemampuan yang bapakmu miliki hanyalah melaut tidak ada yang lain, Bapak tidak berjiwa enterprenur atau berpendidikan yang kerjanya selalu menggantungkan selembar ijazah yang dimiliki. Rela untuk mengetuk pintu kantor satu ke pintu kantor yang lain untuk menanyakan apakah di kantor ini menerima lulusan S1. Bapakmu memeras keringat di tengah teriknya matahari yang panas menghitamkan kulit yang memang sudah hitam legam juga dari laut. Makanya, Bapak ingin mengajarimu bagaimana menghadapi kerasnya hidup di dunia ini dengan belajar dari dekat. Toh, nanti jika kelak kamu besar sudah menghidupi anak dan istrimu juga dari hasil laut apabila kamu tidak mendapat pekerjaan yang layak di darat”.

Bocah itu lantas terdiam mendengar perkataan dari orang yang sangat dia hormati. Bapaknya yang jarang sekali bicara, bahkan tidak hanya kepada anak-anaknya dengan orang-orang sekitar pun dia jarang berucap. Sampai-sampai semua anggota keluarga dan tetangga sekitar merasa sungkan apabila berjumpa dengannya. Sungguh berbeda dan kontras sekali dengan anaknya. Orang yang tidak lulus sekolah dasar dan memang kebanyakan masyarakat pesisir nelayan jarang menyelesaikan pendidikan dasar kala itu. Bapaknya hanya tujuh hari mengenyam pendidikan SD, meskipun tidak tamat sekolah tidak ingin anak-anaknya tidak mengenyam pendidikan. Apapun beratnya menempuh hidup, pendidikan anaknya selalu diutamakan.

Melayang-layang di tengah gelombang….

“ pak.., ibu sekarang dimana? Izar pengen deh ketemu “

“ Zar…ibumu sedang mencari uang untuk membeli cita-citamu”, jawab bapaknya begitu bijak, dari gurat wajahnya senantiasa dia sembunyikan air mata rindunya. Mencoba tetap tegar dengan pertanyaan yang meruntuhkan hatinya.

“ pak, ibu guru ngasih PR suruh buat puisi atau surat kepada ibu…katanya memperingati hari ibu “

“ tapi….Izar kan ‘ngga pernah ketemu ibu…” lanjut bocah kelas IV SD dengan celotehnya.

“ kelak jika nanti Ibu pulang, Izar akan bawakan setangkai mawar buat Ibu”

“ Zarrr…cepat tarik kailnya…!!!” Bapaknya berteriak sambil menarik kail bertarung dan strike….!!!

“ Lumayan….tangkapannya…”

Matahari telah merangkak naik melewati waktu dhuha, gelombang samudra menuntun perahunya kembali ke tepian pantai dan bergegas mencari juragan-juragan yang siap menampung hasil tangkapannya.

“ pak Ali…pak Ali…dirumah…pak Ali…di rumah…ada…” tetangganya yang tengah menunggu kedatangannya hendak menyampaikan berita, napasnya tergesa-gesa berlarian seolah-olah barusan melihat hantu…

“ ada apa…pak ???”

“ Istri bapak tiba…istri bapak….tapiiii….”

“ tapi kenapa…!!! Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…” bergetar kakinya menjadi begitu lemah, kabar buruk menimpanya, sesuai firasatnya. Pulang tinggal nama persis seperti yang sering diberitakan di layar kaca.

Lima tahun sudah Sulasih terkungkung dalam jebakan waktu, waktu membawanya pada sebuah kondisi penuh derita. Sampai hari penentuannya pun tiba, malaikat menjemput menuju ke alam keabadian. Namanya berlayar menembus angkasa terbang melayang bersama camar-camar dan hinggap kembali di pangkuan bumi persada nusantara dengan keheningan air mata. Sang pahlawan devisa, harapan keluarga kembali ke pangkuan Nya dengan seribu tanda tanya tanpa lirikan sang penguasa sekalipun.

Senja begitu merona, warna jingga goresan mayapada menyemburat melukis angkasa, disudut pasar seorang laki-laki memesan seikat karangan bunga mawar untuk ibunya yang tinggal 250 km jaraknya dari kota tempat ia berada. Bunga itu akan dipaketkan sebagai kado untuk ibunya yang besok genap berusia 60 tahun. Ketika ia keluar dari toko bunga, ia melihat seorang anak laki-laki kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu bertanya mengapa anak laki-laki kecil itu menangis? Jawab anak itu,

“Aku ingin membeli setangkai bungan buat ibu. Tapi aku hanya punya uang Rp. 500 saja, sedangkan harga setangkai bunga mawar itu Rp. 1000.”

Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut, aku akan membelikan bunga yang kau mau.” Kemudian ia membelikan anak itu setangkai mawar merah.

Ketika selesai dan hendak pulang, lelaki itu menawarkan diri untuk mengantar anak itu pulang. Anak kecil itu melonjak kegirangan, “Ya, tentu saja Tuan. Maukah Anda membawa saya ke tempat ibu saya?”

Lalu mereka berdua menuju tempat yang ditunjukkan anak kecil itu, yaitu sebuah Pemakanan Umum, di mana anak ini kemudian meletakkan bunganya pada salah satu kuburan yang masih basah

Hembusan angin menyapu lembut wajah sendu seorang anak laki-laki kecil, air matanya berderai membasahi gundukan tanah merah di depannya.



___________

(1) dimana?
(2) Saya di dapur nyonya!
(3) Cepat!! Ambilkan saya handuk…
(4) Nyonya, saya lelah sekali
.

0 komentar: