Laman

Saturday, April 17, 2010

MENATAPMU AKU LURUH DALAM BANGGA

“Saat menunggu, diamlah seperti batu. Saat menyerbu, bergeraklah seperti batu yang diluncurkan dari puncak gunung.” [Takeshi Matsuoka]

Apakah sama antara diam dan bergerak? Dipandang secara kasat, tentulah itu dua aktivitas yang jauh berbeda. Diam tak bergerak, dan bergerak tidak diam. Namun menelisik ke dalam esensi tindakannya, kita akan menemukan perbedaan yang sangat fundamental; manakah yang lebih baik antara diam dan bergerak. Diam lebih buruk dari bergerak? Belum tentu! Ataukah diam lebih baik dari bergerak? Tidak ada jaminan. Yang menentukan mana yang lebih baik adalah motivasi dan esensi dari masing-masing aktivitas tersebut; apakah diam ataukah bergerak.


Masjid Agung Purbalingga

Takeshi Matsuoka, seorang penganut zen dan penulis buku best seller Samurai [Kastil Awan Burung Gereja dan Jembatan Musim Gugur], menuliskan bahwa saat seorang Samurai bertugas ‘menunggu,’ maka samurai tersebut harus diam seperti batu; sabar, kokoh, tak tergoda bisikan apa pun. Pada saat menyerbu, dia pun harus bergerak seperti batu yang diluncurkan dari puncak gunung; tak peduli dengan halangan, meluncur dengan segala kekuatan, tak bisa dibelokkan.

Esensi kedua aktivitas yang ‘terlihat’ berbeda itu menjadi sama: komitmen, continuity, dan keseriusan. Faktanya, apabila ketiga hal tersebut telah melekat pada diri seseorang maka yakinlah bahwa saat diamnya bukanlah menyerah, dan saat bergeraknya bukanlah salah kaprah atau salah arah! Diam atau bergeraknya adalah sebuah tindakan yang telah direncanakan, memiliki esensi dan kekuatan.

Kedatanganku yang belum sempat satu tahun, tapi menyaksikan pertumbuhanmu selama dua sampai tiga tahun, saya seperti menyaksikan kesabaran batu-batu yang meluncur dari puncak gunung! Siapa yang menyangka batu-batu kecil yang tampak tak memiliki kekuatan itu mampu bertahan dan menembus segala hambatan. Entah berawal dari mana, kota pinggiran itu telah melahirkan samurai-samurai wanita, maklum karena kesembilan kau adalah wanita. Seperti sekelompok samurai yang mendapat perintah untuk ‘menyerbu’ kau bergerak laksana batu yang diluncurkan dari puncak gunung! Tak terbilang hambatan telah dilampaui, tak terhitung halangan telah ditembus sehingga mampu ‘tiba’ sekarang ini prestasi-perstasi yang begitu mencengangkan.

Kawan, sebenarnya begitu banyak hal yang ingin kutulis, namun ada sebuah keterbatasan. Melihat perjalananmu, kau telah mampu menaklukan segala kelemahan dan memperbaiki segala kekurangan. Bahkan saat kami dalam keadaan diam, kau lebih memilih untuk senatiasa tetap bergerak dari pencapaian satu ke pencapaian berikutnya. Dan, nyatalah bahwa “ setiap yang mencari pastilah akan bertemu”.

Kawan, ada ‘keajaiban’ dalam fenomena pengabulan doa, dimana Allah menggerakan begitu banyak tangan diluar tangan-tangan kita, sehingga setiap yang mencari pasti akan bertemu. Menelisik spiritmu, yakni sebuah cita-cita untuk selalu menjadi lebih baik, serta menularkannya kepada yang lainnya sebagai bentuk upaya penegakan nilai-nilai moral remaja di tengah-tengah arus budaya hedonis. Demi cita-cita mulia itu, kau rela meluangkan waktu disela-sela rutinitas sekolahmu, memeras tenaga dan pikiran bahkan tak jarang mengorbankan hartanya demi pembiayaan sebuah kegiatan.


SMK 1 Purbalingga

Pernah aku mencoba mereka-reka dalam acara training motivasi bersamamu. Dalam hati aku menciptakan sebuah dialog-dialog. Mungkin suatu saat akan ada seseorang bertanya, “ berapa bayaran/ gaji yang kau terima dalam training ini?”

Kawan, saya katakan bahwa kita telah membukukan keuntungan yang tak terhitung jumlahnya, dan memperoleh gaji yang besarnya tak tertandingi oleh gaji perusahaan manapun!

Siapakah mereka? Mereka adalah anak-anak muda kisaran 17 tahunan, yang mengorbankan masa mudanya untuk sebuah aktivitas perbaikan. Saat anak muda seusia mereka menikmati minggu dengan nongkrong dan duduk santai, mereka berkutat dengan kajian. Sepulang sekolah saat teman-teman mereka pulang dengan cewek atau cowoknya, mereka berjibaku dalam lingkaran cahaya di atmosfer cinta dalam mentoringnya. Dan dedikasi yang luar biasa itu, mereka tak pernah redup dalam semangat. Ketika harus hadir rapat, walau berjalan ataupun bersepeda menghabiskan puluhan kilo. Bahkan tak jarang harus merogoh kocek lebih dalam untuk menutup kekurangan biaya kegiatan. Mereka cukupkan dengan pahala yang telah dijanjikan Allah kepada para penebar kebaikan.

Adakah yang mampu memberi yang lebih baik daripada itu?

Kawan, aku kabarkan kepadamu bahwa kita masih terus untuk berproses. Kita masih akan menjadi saksi kesabaran batu-batu itu meluncur sepanjang arus. Dia akan terus meluncur… menembus batasnya! Dia bergerak dari satu pencapaian ke pencapaian berikutnya. Seperti manzilah-manzilah kejayaan yang ditinggalkan… jejak-jejak yang tertulis oleh malaikat berbaris-baris!

Masih banyak tahun-tahun didepan sana! Ada dua hal yang tetap membuat kita bertahan : kebersamaan dalam jama’ah dan cita-cita yang tak ada padamnya. Dan kita memiliki keduanya, maka yakinlah, Allah kita Maha Kaya, dan akan mencukupkan setiap kekurangan daripadanya.

Ikapti, Sofistika Carevy Ediwindra, Fera Agustia Rahmawati, Latifah, Lusi, Amaliasari, Siti Maryam, Yiyin, Sylvia !! Menatapmu, aku luruh dalam BANGGA!



[Candra Yusgianto]
Depan Mushola Al Amin, Bumi Perkemahan Munjul Luhur.


SMA 1 Purbalingga



0 komentar: