Laman

Tuesday, March 30, 2010

Gue lulus, mak!!





Ujian nasional udah lewat, tinggal nunggu hasilnya. Bisa lulus bisa juga tidak. Tapi, harapannya lulus semua donk. Tiga tahun duduk bareng sama kursi kayu, sayangkan waktunya kalau hasil akhirnya tak memuaskan. Nah, sekarang pertanyaannya setelah lulus mau kemana?? Pulang ke rumah dulu donk, bersyukur atas kelulusan. Lah, itu mah harus untuk bersyukur, maksudnya hendak melanjutkan kemana setelah SMA, githu. Atau malah sedikit bersantai-santai? Atau malah always nyantai? Iya, dibilang nyantai karena tak pusing lagi dengan pelajaran fisika yang bisa bikin rambut keriting ( idih hiperbolis banget, ngarang banget lo! ). Selamat tinggal pelajaran matematika yang bikin gak karuan, kata ucup kelik matematika itu makin tekun makin tidak karuan. Bye bye pelajaran akuntansi yang bukunya gede-gede, berat banget bawanya. Pokoknya free ( kayak film medallion of Cimarron, I’m freee…). Masak iya sebebas itu, merasa bebas karena nggak belajar lagi, nggak ada PR lagi. Idih, berarti selama skul, belajar merupakan sebuah beban. Kamu merasa terbebani donk, nggak enjoy, betul..betul..betul..?

Sobat, memang selama hidup kita disuruh untuk belajar. Hanya saja belajar yang formal berada di skulla. Dari TK sampai SMA itu isinya penuh dengan belajar. Namun apa sih makna belajar? Selain kita disuruh untuk belajar di bidang akademik untuk ilmu umum dan agama, juga kita belajar berteman, bergaul, bersosialisasi dengan kalangan manapun, belajar untuk saling menghargai, menghormati dengan sesame komunitas tempat kita gaul. Siap untuk terisnpirasi dari orang lain, siap juga menjadi inspirasi bagi orang lain. Itulah hidup. Dan sekolah adalah satu dari sekian juta bagaimana kita belajar, hanya saja berbeda. Disana formal, ada aturan tertentu, memakai seragam dan kalo udah kelar/ lulus akan mendapat selembar Ijabsah…eh maksudnya Ijazah begitu.

Nah, selain di sekolah kita juga bisa belajar. Sisa waktu kurang lebih 15 jam biosa dimanfaatkan untuk belajar. Pada jam inilah kita belajar dengan namanya sekolah kehidupan. Seperti apa tuh?



Boys and gilrs. Pernah nggak kamu pulang skul naik angkot? Di dalam angkot itu, kamu bisa ketemu dengan kenek angkot, emak-emak, atau juga teman kamu sendiri. Disitu sebenernya kamu bisa belajar. Jangan bengong pas naik angkot! Kamu bisa ngobrol sama temen kamu lain sekolah misalnya, ata sama ibu-ibu. Nah, dengan mengobrol tadi, kamu bisa menambah wawasan kamu, atau bisa juga berbagi informasi kepada siapapun.

Belum lagi kalo kamu bisa merenungkan setiap peristiwa yang kamu lihat dalam perjalanan itu. Ketika ada orang yang meminta-minta atau mengamen di perempatan jalan ketika lampu pengatur lalulintas berwarna merah, kamu bisa memperhatikan mengapa mereka bisa seperti itu, mengapa mereka memilih hidup seperti itu dan lain sebagainya. Kamu bisa empati kepada mereka yang berada di jalur kehidupan seperti itu (dan mungkin aja kan kalo kamu punya solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut?). So, satu pelajaran lagi tentang hidup bisa dijadikan wawasan dan pemahaman kamu. Bener nggak sih?

So, sebenarnya ketika kamu lulus SMA dan nggak ngelanjutin kuliah, sebenarnya kamu udah terjun langsung dalam pelajaran hidup yang sebenarnya. Waktu yang kamu miliki bisa jauh lebih banyak untuk belajar di sektor informal. Bahkan saat itulah hidup penuh petualangan baru saja dimulai meski ada kewajiban yang hampir sama ketika masih sekolah. Misalnya kamu kerja bareng orang lain, entah di toko, di kantoran atau di pabrik. Pasti ada aturan mainnya, pasti ada ketentuan tambahan lainnya seperti wajib mengenakan seragam tertentu, harus mengerjakan tugas tertentu dan ada pertanggunganjawab atas apa yang kamu kerjakan. Iya kan?

Jadi sebenarnya polanya sama hanya kondisinya yang berbeda. Di sini, kamu juga tetap sebagai orang yang wajib belajar. Meski tak ada penilaian di bidang akademik tertentu, tapi penilaian dalam bidang lain, yakni keseriusan kerja, disiplin kerja, kebersamaan dalam sebuah team work, menghormati dan menghargai kawan kerja, memberikan kepercayaan kepada pemimpin perusahaan, dan lain sebagainya. Intinya, kita tetap belajar dan belajar selama hayat masih dikandung badan. Setuju nggak sih?


Aku Bisa Menjadi Apa Saja Seperti yang Aku Inginkan



Nggak percaya dengan kalimat di atas?

Nggak percaya?

Sama dong!

Pada awalnya aku juga nggak percaya dengan kata-kata itu.

Bro, hidup ini terlalu indah kalo cuma dipake bengong saban harinya. Lulus sekolah dan nggak ngelanjutin ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi bukan berarti berhenti belajar dan berhenti beraktivitas. Sebaliknya, karena baru saja masuk gerbang petualangan hidup yang baru, maka kamu wajib serius mikirin. Saat ini mungkin kamu berpikir, “aku tidak suka memikirkan masa depan. Aku belum punya cita-cita. Masalah hari esok bagaimana besok, ikut arus saja, emang gue pikirin”. Ngomong-ngomong cita-cita kamu apa?? Belum punya ya?? Hayo jawab? (koq maksa sih!)

Bermodal usia yang masih produktif, kamu bisa deh menjadi apa saja seperti yang kamu inginkan. Mau jadi pengusaha, penulis, dll - bisa koq, tapi dengan satu syarat, BELAJAR. Bersamaan dengan itu, tentu kamu kudu lebih kreatif juga. Setelah lulus kuliah mungkin atau yang tidak lanjut kuliah ( tapi, saya harap lanjut deh, banyak tuh beasiswa ) akhirnya akan nyari penghasilan. Ingat ya, bukan nyari pekerjaan, tapi mencari penghasilan untuk nafkah.

Itu sebabnya, kalo fokus kamu cuma nyari kerjaan, maka kamu jadi nggak terlalu kreatif. Karena yang dipikirin gimana caranya bikin surat lamaran dan segala kelengkapannya sambil berburu info lowongan kerjaan. Boleh aja sih, tapi harus juga dibarengi dengan kegiatan lain yang bisa menghasilkan uang. Sehingga nantinya kalo pun kamu dapetin kerjaan, kamu bisa nyambi mencari tambahan dengan keterampilan yang kamu miliki. Atau kalo pahit banget, yakni nggak dapetin kerjaan, tapi kamu masih bisa hidup dari aktivitas kamu yang bisa menghasilkan uang.



Banyak cara untuk mencari nafkah Bro. Mulailah untuk mandiri. Kamu bisa coba jenis usaha kecil-kecilan dengan modal sedikit. Misalnya jualan pulsa telepon. Jangan bayangkan kalo jualan pulsa telepon itu modalnya harus gede. Nggak juga kok. Mungkin bisa gabung aja dulu ama teman yang udah punya usaha itu. Minimal kamu jadi makelarnya. Misalnya, kamu ngasih tahu ke temen-temen kamu yang punya ponsel bahwa kalo mo isi pulsa bisa ke temen kamu aja. Terus kamu bikin perjanjian sama teman kamu yang punya usaha jualan pulsa itu untuk dapetin fee juga. Ini pasti kecil deh hasilnya. Tapi kan bisa dibarengi dengan usaha lain, misalnya yang hubungannya dengan ponsel lagi. Saya punya teman yang model gitu. Dia nggak bisa membetulkan ponsel rusak, hanya saja dia punya kenalan yang bisa betulin ponsel rusak. Ya, sebagai makelar lah. Lumayan kan? Pasti ada pemasukan penghasilan tuh. Beruntung pula dia tergabung dalam sebuah komunitas dakwah, promosi usahanya bisa dilakukan MLM alias Marketing Lewat Mulut yang dilakukan teman-temannya. Ya, mirip-mirip kalo kita masuk jejaring sosial di dunia maya macam Facebook. Temannya teman kita yang belum tahu tentang kita bisa ngelihat profil kita lewat daftar kenalan yang dimiliki temannya itu. Wah, asyik banget kan?

Hmm.. itulah kenapa ukhuwah itu bisa membuka jalan bagi rejeki kita atau manfaat lainnya. Kita bisa saling memberi dan menerima, kita bisa saling menasihati dan mengingatkan. Insya Allah banyak manfaatnya. Cari teman sebanyak mungkin, Tentu teman yang baik-baik untuk ukhuwah kita. Syukur-syukur kalo bisa gabung dalam komunitas dakwah. Lebih mulia lagi aktivitasnya. Sehingga kalo pun nggak dapet-dapet kerjaan, kita masih bisa nyari peluang usaha bareng teman, nyari peluang dapetin penghasilan berkat kerjasama dengan teman lainnya sambil berdakwah menyampaikan kebenaran Islam. Duit dapet, pahala juga dapet.



Bersambung deh…
Next : Hari Ini Sangat Penting!

1 komentar:

Anonymous said...

::sepakat3x long life education, tetap belajar di sekolah kehidupan::