Laman

Tuesday, July 27, 2010

MACET



Bus yang sedang aku tumpangi persis seperti apa yang sedang aku alami. Macet, tak bergerak sama sekali. Ritme hidupku yang kian melambat, tersendat-sendat bahkan sampai macet. Sesekali bergerak sesekali diam. Aku ingin segera melewati bagian ini, mungkin lewat tol? Barangkali didepan sana ada bagian hidupku yang bisa bergerak lebih cepat, elok dan menyenangkan!

Hidup merupakan sebuah perjalanan, perjalanan yang panjang, berliku-liku, melalui tahapan-tahapan, sehingga bisa sampai melelahkan. Perjalanan itu bergerak, berubah, di dalam setiap tarikan nafas. Hendak ke mana perjalanan itu? Jelas bukan kematian. Karena kematian adalah kepastian hidup. Ujung perjalanan hidup adalah sebuah cita-cita. Kalimat yang muncul adalah ”inilah perjalanan hidup”. Sebuah kesimpulan penutup. Seolah selesai, atau diselesaikan. Apakah cita-cita itu seikat rumput di mulut keledai yang memaksanya untuk terus mengejarnya? Maka kita harus berjuang, dan belajar menyingkap segala rahasia kehidupan, agar tidak menjadi keledai. Perjalanan menuju arah, bukan salah kaprah, apalagi sekadar melangkah.

Sebuah perjalanan, satuannya adalah lancar sampai macet. Di antaranya bisa padat merayap sampai tersendat-sendat. Itulah perjalanan, itulah hidup. Jangan pernah berharap linear. Lurus, mulus, halus, lancar-car-car-car. Karena hidup memiliki dimensi, terikat aturan dan ketentuan. Maka membutuhkan kekuatan. Bukan untuk mengalahkan, apalgi saling menundukkan. Maka kekuatan yang tak terkalahkan adalah ketabahan. Karena ketabahan adalah elastisitas. Ketika mengisi berarti dia mengosongkan, ketika mengosongkan berarti mengisi. Itulah dimensi hidup.

Perjalanan adalah pergerakan, adalah perubahan menuju kepada sesuatu yang lebih, meningkat, bergerak kepada lebih baik, arah ke kesempurnan. Itulah kecepatan. Ada waktu di dalamnya. Cepat bukanlah buru-buru, walau sama-sama di dalam waktu. Karena cepat berarti cerdas dan tepat, kalau buru-buru menjadi asal. Dan itu penuh ancaman risiko yang tak pernah terbayangkan. Tapi bukan untuk menjadi penakut. Karena takut adalah antikemajuan, melawan kehidupan. Karena hidup adalah untuk maju dan memajukan kehidupan itu sendiri.

Macet menjadi kesia-sian jika itu tidak memberikan makna. Dan makna hanya ada di jiwa. Jiwalah yang bicara, jiwa yang menyapa, jiwa yang menjadi kaya. Jiwa yang membuat macet mejadi begitu indah. Indah di jiwa di dalm makna. Apakah ada kehidupan tanpa jiwa? Maka tak ada kesia-saian dalam hidup, termasuk macet.

Jika macet menjadi cerita, dia hanya akan menularkan kesadaran. Kesadaran menakutkan atau kesadaran berfikir mencerahkan. Jika macet menjadi makna, dia akan menularkan pencerahan. Pencerahan yang menerangkan, menerangi perjalanan di dalam perjalanan.

Mungkin dimasa yang akan datang segala cita-citaku akan tercapai. Hidup berdamping putri cantik sebait puisi dalam istana mungil yang membawa ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan. Bergerak walau padat merayap!!   


Sinar Jaya Jur. Merak – Cilacap, 19/07/2010 : Senja baru saja usai di depan Harapan Kita.

0 komentar: