Labels
- Cerpen (4)
- Coretankuh (7)
- Diary Sepi (16)
- Essai (3)
- Kontemplasi (2)
- Menenun Jalinan Cinta (3)
- Refleksi dan Inspirasi (4)
Sinuba Sinukarsa
Blog Archive
Powered by Blogger.
Popular Posts
Tuesday, July 27, 2010
MACET
6:22 PM | Diposkan oleh
Salman
Bus yang sedang aku tumpangi
persis seperti apa yang sedang aku alami. Macet, tak bergerak sama sekali. Ritme
hidupku yang kian melambat, tersendat-sendat bahkan sampai macet. Sesekali
bergerak sesekali diam. Aku ingin segera melewati bagian ini, mungkin lewat
tol? Barangkali didepan sana ada
bagian hidupku yang bisa bergerak lebih cepat, elok dan menyenangkan!
Hidup merupakan sebuah
perjalanan, perjalanan yang panjang, berliku-liku, melalui tahapan-tahapan,
sehingga bisa sampai melelahkan. Perjalanan itu bergerak, berubah, di dalam
setiap tarikan nafas. Hendak ke mana perjalanan itu? Jelas bukan kematian.
Karena kematian adalah kepastian hidup. Ujung perjalanan hidup adalah sebuah
cita-cita. Kalimat yang muncul adalah ”inilah perjalanan hidup”. Sebuah
kesimpulan penutup. Seolah selesai, atau diselesaikan. Apakah cita-cita itu
seikat rumput di mulut keledai yang memaksanya untuk terus mengejarnya? Maka
kita harus berjuang, dan belajar menyingkap segala rahasia kehidupan, agar
tidak menjadi keledai. Perjalanan menuju arah, bukan salah kaprah, apalagi
sekadar melangkah.
Sebuah perjalanan, satuannya
adalah lancar sampai macet. Di antaranya bisa padat merayap sampai
tersendat-sendat. Itulah perjalanan, itulah hidup. Jangan pernah berharap
linear. Lurus, mulus, halus, lancar-car-car-car. Karena hidup memiliki dimensi,
terikat aturan dan ketentuan. Maka membutuhkan kekuatan. Bukan untuk
mengalahkan, apalgi saling menundukkan. Maka kekuatan yang tak terkalahkan
adalah ketabahan. Karena ketabahan adalah elastisitas. Ketika mengisi berarti
dia mengosongkan, ketika mengosongkan berarti mengisi. Itulah dimensi hidup.
Perjalanan adalah pergerakan,
adalah perubahan menuju kepada sesuatu yang lebih, meningkat, bergerak kepada
lebih baik, arah ke kesempurnan. Itulah kecepatan. Ada
waktu di dalamnya. Cepat bukanlah buru-buru, walau sama-sama di dalam waktu.
Karena cepat berarti cerdas dan tepat, kalau buru-buru menjadi asal. Dan itu
penuh ancaman risiko yang tak pernah terbayangkan. Tapi bukan untuk menjadi
penakut. Karena takut adalah antikemajuan, melawan kehidupan. Karena hidup
adalah untuk maju dan memajukan kehidupan itu sendiri.
Macet menjadi kesia-sian jika itu
tidak memberikan makna. Dan makna hanya ada di jiwa. Jiwalah yang bicara, jiwa
yang menyapa, jiwa yang menjadi kaya. Jiwa yang membuat macet mejadi begitu
indah. Indah di jiwa di dalm makna. Apakah ada kehidupan tanpa jiwa? Maka tak
ada kesia-saian dalam hidup, termasuk macet.
Jika macet menjadi cerita, dia
hanya akan menularkan kesadaran. Kesadaran menakutkan atau kesadaran berfikir
mencerahkan. Jika macet menjadi makna, dia akan menularkan pencerahan.
Pencerahan yang menerangkan, menerangi perjalanan di dalam perjalanan.
Mungkin dimasa yang akan datang
segala cita-citaku akan tercapai. Hidup berdamping putri cantik sebait puisi
dalam istana mungil yang membawa ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan.
Bergerak walau padat merayap!!
Sinar
Jaya Jur. Merak – Cilacap, 19/07/2010 : Senja baru saja usai di depan Harapan Kita.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 komentar:
Post a Comment