Laman

Saturday, September 25, 2010

Diary Sepi Ramadhan 1431 H : GELAS YANG TAK TERISI PENUH



Sore menjelang berbuka puasa di Mafaza ( Masjid Fatimatuz Zahra )

Perjalanan pulang sore harus tertahan di masjid ini, hujan membuatku menunda perjalanan pulang untuk mengejar malam pertama I’tikaf. Tertahan disini pun ada hikmahnya, ya! Memang setiap perjalanan semuanya bisa dipetik hikmah dan pelajarannya. Lumayan bisa mengikuti kajian menjelang berbuka puasa. Ternyata pesertanya lumayan banyak, hujan tak menjadi penghalang.

Jelang buka puasa sebentar lagi tapi hujan masih tetap saja deras. Dan beruntungnya masjid menyediakan buka puasa, kalo dibilang lumayan mewah. Berbeda seperti masjid tempat tinggalku dulu di Solo J. Karena baru kali ini berbuka di mafaza, dapat antrian akhir-akhir untuk mengambil konsumsinya. Tapi yaelah! Bersyukur tetap, nelongso juga iya. Gemana gak nelongso, antrian yang akhir tak dapat jatah air. Airnya habis. Yang ada juga nasi bungkus segede gunung. Alhamdulillah masih bisa berbuka langsung makan tanpa air. Namun akhirnya bisa juga dapat air walau tak terisi penuh.

Apa sih hebatnya jadi gelas yang terisi penuh? Timbul pertanyaan dalam hati saya ketika mendapat jatah air yang tak terisi penuh. Teringat sebuah buku (ketika jaman kuliah), buku yang berjudul Half Full, Half Empty. Salah satu isinya menjelaskan tentang sebuah gelas yang berisi setengah. Kau tau? Ada orang yang mengeluhkan ketika melihatnya, “kok…cuma setengah?” sedangkan ada juga yang berkata, “ah…masih setengah!”.

Perbedaan cara pandang terhadap sesuatu. Orang pertama memandang dengan cara pandang negative sedang orang kedua kedua memandang dengan sangat positif. Jelas sangat berbeda! Dan bagaimanapun orang kedualah mesti dianggap lebih baik. Berikut adalah beberapa penuturannya:
  1. Orang yang positif thinking, kata para motivator seperti Mario Teguh
  2. Orang yang selalu optimis, puji Rhenald Kasali, Pakar Bisnis
  3. Orang yang pandai bersyukur, tutur Abdullah Gymnastiar, Dai
  4. Orang yang…gitu dech, kata Bunga Citra Lestari; Artis
Oh…ho..ho..ho! alangkah saya ingin ikutan berkomentar persis dibawahnya Bunga Citra Lestari, minimal numpang nama buat kondang. Lantas saya pikir-pikir lagi, buat apa? Dan itu juga hal biasa?

Ya! Biasa kataku…

Bukankah gelas yang tak terisi penuh adalah hal yang biasa? Apa istimewanya?


  • Saya beli es teh di angkringan, gelasnya nggak terisi penuh
  • Beli es buah di warung pak Bambang gelasnya juga tak terisi penuh.
  • Beli kopi pahit, cangkirnya nggak terisi penuh
  • Beli minuman kaleng di Hypermart, kalengnya juga tak terisi penuh

Lantas apa istimewanya kedua orang tadi? Apakah pada kepandainnya bersyukur dan memandang hal yang positif? Biasa saja menurut saya. Tiada yang istimewa dari pujian-pujian orang-orang kondang itu. Toh, begitu mudahnya menemukan bagian hidup kita yang patut disyukuri, dipandang positif dan rasional. Begitu banyak kemurahan Tuhan terhadap diri kita.

Jadi sekali lagi apa istimewanya? Buktinya di dunia ini tidak ada gelas yang terisi penuh. Bahkan ketika adek saya ketika mengisi gelasnya, juga dilarang untuk sampai penuh. “Jangan penuh-penuh! Tumpah nanti..”, teriak ibuku. Betapa susahnya menjadi gelas yang terisi penuh. Hanya bisa dipandangi, tak boleh diangkat, tak bisa bergerak. Tak boleh bergoyang…goyang apapun namanya. Jangankan sampai goyang gergaji, goyang patah-patah dan sebangsanya. Sedangkan getaran sedikit saja bisa membuat isinya tumpah!

Kawan, masihkah berharap menjadi gelas yang terisi penuh. Gelas yang terisi penuh tak ada seninya. Tak ada yang bisa kita masukan lagi kedalamnya. Bahkan jika terasa kurang manis, menambahkan gula pun tak bisa. Menambahkan sedikit gula ke dalamnya berarti menumpahkan isinya sebagian.

Berbahagialah….
Kita adalah gelas-gelas yang tak terisi penuh. Dengan begitu kita bisa bergerak leluasa. Kita masih diperkenankan Tuhan untuk memiliki getar, berdenyut jantung kita.

Mungkin ketika minuman itu pahit, bisa ditambahkan gula

Atau, ketika airnya bening tak berwarna. Kita bisa memberi warna apa saja. Merah, kuning, hijau, abu-abu, sawo watang, kuning langsat dan sebagainya.

Jika ingin menambahkan rasa dalam minuman, campur saja dengan sirup rasa jeruk, mangga, strawberi, mengkudu.

Jika ingin kesegaran tambahkan tonic didalamnya. Atau jika ingin minuman itu terasa lembut bisa di campur susu coklat.

Mungkin…mungkin…dan mungkin..

Mungkin itulah hikmahnya mengapa tak ada gelas tak terisi penuh. Lantas dimanakah gelas yang terisi penuh itu? Ah…mungkin di akhirat sana terdapat gelas-gelas yang terisi penuh. Ditangan malaikat yang memegangnya dengan lembut dan kuat. Yang bergerak sangat anggun, ritmis tanpa menimbulkan getaran dan goncangan. Mungkin disana….!!


Ramadhan 1431 H, awal sepertiga yang akhir.


0 komentar: