Labels
- Cerpen (4)
- Coretankuh (7)
- Diary Sepi (16)
- Essai (3)
- Kontemplasi (2)
- Menenun Jalinan Cinta (3)
- Refleksi dan Inspirasi (4)
Sinuba Sinukarsa
Blog Archive
Powered by Blogger.
Popular Posts
Saturday, September 25, 2010
Diary Sepi Ramadhan 1431 H : GELAS YANG TAK TERISI PENUH
5:13 PM | Diposkan oleh
Salman
Sore menjelang berbuka puasa di Mafaza ( Masjid
Fatimatuz Zahra )
Perjalanan pulang sore harus tertahan
di masjid ini, hujan membuatku menunda perjalanan pulang untuk mengejar malam
pertama I’tikaf. Tertahan disini pun ada hikmahnya, ya! Memang setiap
perjalanan semuanya bisa dipetik hikmah dan pelajarannya. Lumayan bisa
mengikuti kajian menjelang berbuka puasa. Ternyata pesertanya lumayan banyak,
hujan tak menjadi penghalang.
Jelang buka puasa sebentar lagi tapi
hujan masih tetap saja deras. Dan beruntungnya masjid menyediakan buka puasa,
kalo dibilang lumayan mewah. Berbeda seperti masjid tempat tinggalku dulu di
Solo J. Karena baru kali ini berbuka di mafaza, dapat
antrian akhir-akhir untuk mengambil konsumsinya. Tapi yaelah! Bersyukur tetap,
nelongso juga iya. Gemana gak nelongso, antrian yang akhir tak dapat jatah air.
Airnya habis. Yang ada juga nasi bungkus segede gunung. Alhamdulillah masih
bisa berbuka langsung makan tanpa air. Namun akhirnya bisa juga dapat air walau
tak terisi penuh.
Apa sih hebatnya jadi gelas yang
terisi penuh? Timbul pertanyaan dalam hati saya ketika mendapat jatah air yang
tak terisi penuh. Teringat sebuah buku (ketika jaman kuliah), buku yang
berjudul Half Full, Half Empty. Salah
satu isinya menjelaskan tentang sebuah gelas yang berisi setengah. Kau tau? Ada orang yang mengeluhkan ketika
melihatnya, “kok…cuma setengah?” sedangkan ada juga yang berkata, “ah…masih
setengah!”.
Perbedaan cara pandang terhadap
sesuatu. Orang pertama memandang dengan cara pandang negative sedang orang
kedua kedua memandang dengan sangat positif. Jelas sangat berbeda! Dan
bagaimanapun orang kedualah mesti dianggap lebih baik. Berikut adalah beberapa
penuturannya:
- Orang
yang positif thinking, kata para motivator seperti Mario Teguh
- Orang
yang selalu optimis, puji Rhenald Kasali, Pakar Bisnis
- Orang
yang pandai bersyukur, tutur Abdullah Gymnastiar, Dai
- Orang
yang…gitu dech, kata Bunga Citra Lestari; Artis
Oh…ho..ho..ho! alangkah saya ingin
ikutan berkomentar persis dibawahnya Bunga Citra Lestari, minimal numpang nama
buat kondang. Lantas saya pikir-pikir lagi, buat apa? Dan itu juga hal biasa?
Ya! Biasa kataku…
Bukankah
gelas yang tak terisi penuh adalah hal yang biasa? Apa istimewanya?
- Saya
beli es teh di angkringan, gelasnya nggak terisi penuh
- Beli
es buah di warung pak Bambang gelasnya juga tak terisi penuh.
- Beli
kopi pahit, cangkirnya nggak terisi penuh
- Beli
minuman kaleng di Hypermart, kalengnya juga tak terisi penuh
Lantas apa istimewanya kedua orang
tadi? Apakah pada kepandainnya bersyukur dan memandang hal yang positif? Biasa
saja menurut saya. Tiada yang istimewa dari pujian-pujian orang-orang kondang
itu. Toh, begitu mudahnya menemukan bagian hidup kita yang patut disyukuri,
dipandang positif dan rasional. Begitu banyak kemurahan Tuhan terhadap diri
kita.
Jadi sekali lagi apa istimewanya?
Buktinya di dunia ini tidak ada gelas yang terisi penuh. Bahkan ketika adek
saya ketika mengisi gelasnya, juga dilarang untuk sampai penuh. “Jangan
penuh-penuh! Tumpah nanti..”, teriak ibuku. Betapa susahnya menjadi gelas yang
terisi penuh. Hanya bisa dipandangi, tak boleh diangkat, tak bisa bergerak. Tak
boleh bergoyang…goyang apapun namanya. Jangankan sampai goyang gergaji, goyang
patah-patah dan sebangsanya. Sedangkan getaran sedikit saja bisa membuat isinya
tumpah!
Kawan, masihkah berharap menjadi
gelas yang terisi penuh. Gelas yang terisi penuh tak ada seninya. Tak ada yang
bisa kita masukan lagi kedalamnya. Bahkan jika terasa kurang manis, menambahkan
gula pun tak bisa. Menambahkan sedikit gula ke dalamnya berarti menumpahkan
isinya sebagian.
Berbahagialah….
Kita adalah gelas-gelas yang tak
terisi penuh. Dengan begitu kita bisa bergerak leluasa. Kita masih
diperkenankan Tuhan untuk memiliki getar, berdenyut jantung kita.
Mungkin ketika minuman itu pahit,
bisa ditambahkan gula
Atau, ketika airnya bening tak
berwarna. Kita bisa memberi warna apa saja. Merah, kuning, hijau, abu-abu, sawo
watang, kuning langsat dan sebagainya.
Jika ingin menambahkan rasa dalam
minuman, campur saja dengan sirup rasa jeruk, mangga, strawberi, mengkudu.
Jika ingin kesegaran tambahkan tonic
didalamnya. Atau jika ingin minuman itu terasa lembut bisa di campur susu
coklat.
Mungkin…mungkin…dan mungkin..
Mungkin itulah hikmahnya mengapa tak
ada gelas tak terisi penuh. Lantas dimanakah gelas yang terisi penuh itu?
Ah…mungkin di akhirat sana terdapat gelas-gelas yang terisi penuh. Ditangan
malaikat yang memegangnya dengan lembut dan kuat. Yang bergerak sangat anggun, ritmis
tanpa menimbulkan getaran dan goncangan. Mungkin disana….!!
Ramadhan 1431 H, awal sepertiga yang
akhir.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 komentar:
Post a Comment