Labels
- Cerpen (4)
- Coretankuh (7)
- Diary Sepi (16)
- Essai (3)
- Kontemplasi (2)
- Menenun Jalinan Cinta (3)
- Refleksi dan Inspirasi (4)
Sinuba Sinukarsa
Blog Archive
Powered by Blogger.
Popular Posts
Wednesday, February 3, 2010
STASIUN
3:03 PM | Diposkan oleh
Salman
Cerpen : Chandra Yee
“ dhuh…” keluh Supri menahan rasa sakit kepalanya, seketika tubuhnya melayang, terbang mengawang-awang seperti terbangnya Dhenok dalam cerita pewayangan, gelap, dan tak lama terjatuh, tergeletak tubuhnya di jubin stasiun.
“ dhuh…” keluh Supri menahan rasa sakit kepalanya, seketika tubuhnya melayang, terbang mengawang-awang seperti terbangnya Dhenok dalam cerita pewayangan, gelap, dan tak lama terjatuh, tergeletak tubuhnya di jubin stasiun.
Sudah 2 tahun semenjak meninggalkan kampungnya, hendak mengadukan nasibnya di kota. Nasib pun tak berpihak, wajah kehidupan masih tetap sama, sama-sama masih menderita. Sudah dua tahun pula Supri menekuni pekerjaannya sebagai pedagang asongan di beberapa stasiun.
Cukup lama Supri duduk termenung dalam diam, hening bagai arca gapura batu. Tak mengubah arah pandangnya pun bebarapa derajat ketika gerbong-gerbong kereta lewat. Bongkar muat penumpang, bongkar muat barang di stasiun sedikit pun tak diliriknya. Sampai akhirnya gerbong yang satu dengan yang lainnya terakit panjang bagai ular, meliuk-liuk meninggalkan stasiun, berlari mengimbangi lamunan Supri yang tengah juga dikejar mentari sore yang hendak menuju batas cakrawala.
Panjangnya rel kereta yang hampir tak pernah tahu ujungnya, membuyarkan lamunan Supri. Memberi gambaran tentang kehidupan Supri yang sejatinya antara harapan dan kenyataan tak pernah bertemu.
“ Pri, ono SMS soko bojomu ki, jare dikon mulih ndeso dhilit, mbokmu loro “ pesan yang disampaikan teman asongannya menambah beban Supri.
Di teras stasiun, kabar yang masih hangat terdengar menggugah lamunanya tetapi menambah sendu senja sore, menambah beban pada pundak yang legam berbalut kotak cangklong berisi bungkus-bungkus mie, berbagai jenis merk kopi, berwarna-warni bungkus permen, dan dagangan seadanya. Di tambah keputusan kepala stasiun yang baru, pedagang asongan dilarang berjualan didalam gerbong, keputusan yang menghimpit para asongan terhadap ketidakadilan diatas carut marutnya negeri ini.
Tidak hanya Supri yang bernasib demikian, puluhan asongan bernasib sama. Supri yang terlahir dari Wonogiri nekat untuk merantau ke kota para raja meninggalkan anak istri. Berharap akan ada kehidupan yang lebih baik, kota menjadi tempat untuk mewujudkan impian dimana tanah-tanah desa sudah tak dapat dijagakan sebagai pegangan hidup.
Supri yang dari kecil sudah terbiasa hidup sengsara, tidak lantas pasrah pada nasib. Semangatnya masih berkobar-kobar untuk mengejar impian melalui kerja dan doa.
“Aku nduwe tenogo, najan mung sithik kepinteranku nanging aku suthik dadi kemladeyan kang numpang urip kanthi ngisep sarine tanduran liyone, najan sithik yen gemi lan nastiti mesthi gegayuhan urip kepenak bakal ketrimo” pikir Supri yang ruwet seperti benang bundet.
Pikiranya sederhana seperti orangnya,
“Aku mung wong ndeso kok, ndisik sedino muput macul iki sedino muput dledar-dleder nawakake dagangan ora ono sing bedone pancen kuwatku makarya mung nganggo tenogo, arep ngopo meneh “.
Terkadang ketika berbincang dengan teman, Supri bercerita tentang angannya. Angannya yang terlampau tinggi, angan tidak pernah kesampaian bagai burung yang keberatan beban hingga tak mampu terbang. Tetapi sejatinya, walaupun hanya lewat doa dalam sholat-sholat, Supri masih selalu memuji Nya, semoga masih bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik, membawa keluarga ke jalan Nya, memasrahkan kepada Nya apa yang telah ditakdirkan Nya tanpa meninggalkan usaha.
Baru dua minggu yang lalu Supri pulang kampung. Rumah orang tua gaya tahun enampuluhan, sepeda jengki harta satu-satunya yang sering dipakai anaknya sekolah, radio band yang kerap di pakai sebagai sarana mendengarkan berita RRI menjadi penghias meja kayu rumahnya.
“ lhe, mbok nek bali cobo takokno pak bayan, nek dhewe iki ra pernah entuk BLT”, mbokne Supri mencoba ngomong karena acapkali bila ada bantuan dari pemerintah, rumahnya tak pernah mendapat BLT, padahal telah mengumpulkan KK dan KTP.
“ ah ya durung rejekine wae mbokne” jawaban Supri searif mungkin sebagai penentram hati ibunya.
***
Langit di ufuk barat kian jingga, ia bangkit dari duduknya. Kabar yang tadi ia dengar dan renungan-renungan membuat ia bangkit kembali.
“Aku wong lanang kok, wis di wajibake dadi pundakke keluarga yen Allah maringi gesang mesthi Allah uga cepak kanggo dalane gesang” perkataan yang menguatkan hatinya dikala beberapa cobaan datang menerpa.
“ ah … mbok menawa isih ana rejeki kanggoku “
Setengah berlari Supri menuju gerbong kereta Kahuripan, berlari bersama-sama dengan pedagang asongan lain, ia mencoba mendekati kereta. Tiba-tiba tanpa sebab apapun, stasiun seperti medan kurusetra, teras stasiun menjadi palagan perang, batu-batu berterbangan, menghancurkan kaca jendela, Supri juga tak kalah bingung.
“ono opo-ono opo…!”
“ngopo-ngopo
“aiiis djancoek..”
“awas….suporter edan, mlayu-mlayu”
“mlayu…awas watu”
Supri berlari sekencang-kencangnya, barang dagangan di jarah, ia berusaha mencari tempat berlindung. Jeritan-jeritan ricuh menggema di dalam stasiun. Panic, ketakutan menyelimuti tak hanya para pedagang asongan. Kios-kios segera ditutup, pemiliknya menyelamatkan diri. Dan seketika itu….buk! buk ! batu mengenai kepala Supri saat berlari hendak keluar dari stasiun.
“ dhuh…” keluh Supri menahan rasa sakit kepalanya, seketika tubuhnya melayang, terbang mengawang-awang seperti terbangnya Dhenok dalam cerita pewayangan, gelap, dan tak lama terjatuh, tergeletak tubuhnya di jubin stasiun.
Perban terikat dikepalanya, berbaring terkapar di rumah sakit dengan berbagai rangkaian selang infuse ditangannya. Entah bagaimana nasib mboknya, nasib anaknya jauh di kampong halaman, menyisakan kepedihan dihati.
Dari matanya terbingkai sebuah kaca yang terbuat dari serangkaian air, jatuh menetes, berderai, menggenang membasahi seprai tempat tidur rumah sakit.
“Ah kutho koyo ngene kejemme, ora nyisakake papan kanggo urip kang linambar pasrah lan ketulusan”
( Purwokerto - Jatinegara, 24/ 01/ 2010 )
Subscribe to:
Post Comments (Atom)







0 komentar:
Post a Comment