Labels
- Cerpen (4)
- Coretankuh (7)
- Diary Sepi (16)
- Essai (3)
- Kontemplasi (2)
- Menenun Jalinan Cinta (3)
- Refleksi dan Inspirasi (4)
Sinuba Sinukarsa
Blog Archive
Powered by Blogger.
Popular Posts
Wednesday, February 17, 2010
Tidak Ada yang Lebih Baik dari Apa yang Ada Saat Ini
3:04 PM | Diposkan oleh
Salman
“ketika “ke-di sana-an” telah menjadi “ke-di sini-an”, kita akan memburu “ke-di sana-an” lainnya yang terlihat lebih baik daripada “ke-di sini-an” kita saat ini.
Banyak orang meyakini bahwa mereka akan bahagia jika mereka sampai pada beberapa tujuan tertentu yang mereka tetapkan untuk diri mereka. Bagi sebagian orang, tujuan itu mungkin mengumpulkan jutaan rupiah, bagi sebagian lain mungkin menemukan sebuah kenyamanan hidup entah itu adalah sebuah jabatan atau yang lainnya. Bisa juga mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, naik mobil yang nyaman, atau mengejar karier impian. Apapun tujuan itu, kita mungkin merasa yakin bahwa ketika kita tiba “ di sana”, kita akakn menemukan kedamaian, kesuksesan, kebahagiaan yang selalu diimpikan hingga merasa puas dan bahagia.
Teringat ketika aku mengisi sebuah training motivasi untuk sukses UAN minggu kemarin. Apakah kesuksesan, kebahagiaan adalah memiliki sebuah mobil mewah yang mengkilat? Seperti ini….
Lantas juga, apakah sebuah kesuksesan dan kebahagiaan ketika kita menerima sebuah hadiah atau menduduki suatu jabatan? Seperti ini….
Ataukah, kesuksesan dan kebahagiaan adalah ketika kita bebas melakukan apa saja, bebas tertawa, apapun tidak ada yang melarangnya. Seperti ini…..cukup dijawab dalam hati.
Apakah dengan seperti itu kita disebut orang sukses dan bahagia? Bahkan sebagian orang ketika sampai “di sana” ternyata tetap merasa tidak puas, dan merubah pandangan tentang “di sana” kepada sesuatu yang lain di masa mendatang. Dengan selalu mengejar sesuatau yang lain setelah “di sana” sebelumnya, kita tidak pernah bersyukur apa yang telah diperoleh saat ini “di sini”. Coba kita pikirkan situasi masa lalu ketika saat itu kita mengatakan, “saya akan bahagia ketika….”dan kemudian tanyakan kepada diri sendiri, “apakah saya benar-benar bahagia ketika saya benar-benar tiba disana?” barangkali untuk waktu yang singkat memang benar, tetapi akan muncul kerinduan yang sama, dan terus melangkah kepada pencarian barunya.
Tantangan yang ada adalah bagaimana hidup saat ini. Sebuah tantangan hidup di dunia modern dimana kita terus menerus di goda oleh pandangan kemewahan, kecantikan, reputasi, jabatan yang tinggi dan diserbu oleh imaginasi-imaginasi yang kadang kala membuat kita terjerumus masuk ke dalamnya sehingga lupa tentang bagaimana semestinya diri kita ini.
Adalah penting untuk memahami bahwa menjadi manusia itu artinya mengikuti dorongan kuno untuk melebarkan pandangan melampaui tempat dimana kita sekarang berdiri, kata Dr. C.C Scott. Di satu sisi, kehidupan kita ditingkatkan oleh impian dan aspirasi kita. Itulah yang membawa kita melangkah maju dan membuat kita tetap hidup. Tidak ada salah dengan adanya keinginan untuk meningkatkan kondisi kita. Lantas ketika kita telah sampai “ di sana”, bahgiakah?
Kalau aku boleh bercerita, ada seorang lelaki yang bertengkar dengan isterinya. Suami berkata: “ sungguh aku akan membuatmu menderita.” Istrinya menjawab dengan tenang: kamu tidak akan mampu.” Suami bertanya kepadanya: “bagaimana bisa demikian?” Istrinya menjawab: “ seandainya bahagia itu terletak pada harta niscaya engkau dapat mengharamkan dariku, atau jika terletak pada perhiasan, niscaya engkau dapat mencegahku darinya. Akan tetapi, tiada sesuatu pun yang engkau dan orang lain dapat memilikinya. Sesungguhnya kebahagiaanku berada dalam imanku; imanku berada dalam kalbuku; dan kalbuku tiada seorang pun yang dapat menguasainya, kecuali hanya Tuhanku.”
Inilah yang disebut kebahagiaan yang sesungguhnya, yaitu kebahagiaan iman. Tiada yang dapat merasakan kebahagiaan ini, kecuali hanya orang yang kalbunya telah dikuasai oleh cinta kepada Allah hingga masuk ke bagian yang paling dalam dan begitu pula jiwa dan pikirannya. Pada hakikatnya, yang memiliki kebahagiaan adalah Allah SWT. Oleh karena itu carilah kebahagiaan dengan taat kepada Nya. Sesungguhnya satu satunya jalan untuk meraih kebahagiaan tiada lain dengan mengenal agama yang benar yang telah diutuskan kepada Rasulullah untuk menyampaikannya.
Barang siapa yang telah mengenal jalan ini, maka tak akan ia bermewah-mewah, bersyukur dan merasa cukup adanya serta kita tetap menari (dan menikmati) di garis yang tipis antara hidup di sini dan sekarang sementara tetap menanamkan impian dan aspirasi dalam hati dimasa mendatang.
….aku awali ini dari sebuah SMS saudaraku yang hendak berangkat S2 di Mesir, ini pesannya “kekayaan hakiki bukan diukur dengan banyak harta, namun kekayaan hakiki adalah hati yang selalu merasa cukup ( HR. Bukhori )”
Banyak orang meyakini bahwa mereka akan bahagia jika mereka sampai pada beberapa tujuan tertentu yang mereka tetapkan untuk diri mereka. Bagi sebagian orang, tujuan itu mungkin mengumpulkan jutaan rupiah, bagi sebagian lain mungkin menemukan sebuah kenyamanan hidup entah itu adalah sebuah jabatan atau yang lainnya. Bisa juga mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, naik mobil yang nyaman, atau mengejar karier impian. Apapun tujuan itu, kita mungkin merasa yakin bahwa ketika kita tiba “ di sana”, kita akakn menemukan kedamaian, kesuksesan, kebahagiaan yang selalu diimpikan hingga merasa puas dan bahagia.
Teringat ketika aku mengisi sebuah training motivasi untuk sukses UAN minggu kemarin. Apakah kesuksesan, kebahagiaan adalah memiliki sebuah mobil mewah yang mengkilat? Seperti ini….
Lantas juga, apakah sebuah kesuksesan dan kebahagiaan ketika kita menerima sebuah hadiah atau menduduki suatu jabatan? Seperti ini….
Ataukah, kesuksesan dan kebahagiaan adalah ketika kita bebas melakukan apa saja, bebas tertawa, apapun tidak ada yang melarangnya. Seperti ini…..cukup dijawab dalam hati.
Apakah dengan seperti itu kita disebut orang sukses dan bahagia? Bahkan sebagian orang ketika sampai “di sana” ternyata tetap merasa tidak puas, dan merubah pandangan tentang “di sana” kepada sesuatu yang lain di masa mendatang. Dengan selalu mengejar sesuatau yang lain setelah “di sana” sebelumnya, kita tidak pernah bersyukur apa yang telah diperoleh saat ini “di sini”. Coba kita pikirkan situasi masa lalu ketika saat itu kita mengatakan, “saya akan bahagia ketika….”dan kemudian tanyakan kepada diri sendiri, “apakah saya benar-benar bahagia ketika saya benar-benar tiba disana?” barangkali untuk waktu yang singkat memang benar, tetapi akan muncul kerinduan yang sama, dan terus melangkah kepada pencarian barunya.
Tantangan yang ada adalah bagaimana hidup saat ini. Sebuah tantangan hidup di dunia modern dimana kita terus menerus di goda oleh pandangan kemewahan, kecantikan, reputasi, jabatan yang tinggi dan diserbu oleh imaginasi-imaginasi yang kadang kala membuat kita terjerumus masuk ke dalamnya sehingga lupa tentang bagaimana semestinya diri kita ini.
Adalah penting untuk memahami bahwa menjadi manusia itu artinya mengikuti dorongan kuno untuk melebarkan pandangan melampaui tempat dimana kita sekarang berdiri, kata Dr. C.C Scott. Di satu sisi, kehidupan kita ditingkatkan oleh impian dan aspirasi kita. Itulah yang membawa kita melangkah maju dan membuat kita tetap hidup. Tidak ada salah dengan adanya keinginan untuk meningkatkan kondisi kita. Lantas ketika kita telah sampai “ di sana”, bahgiakah?
Kalau aku boleh bercerita, ada seorang lelaki yang bertengkar dengan isterinya. Suami berkata: “ sungguh aku akan membuatmu menderita.” Istrinya menjawab dengan tenang: kamu tidak akan mampu.” Suami bertanya kepadanya: “bagaimana bisa demikian?” Istrinya menjawab: “ seandainya bahagia itu terletak pada harta niscaya engkau dapat mengharamkan dariku, atau jika terletak pada perhiasan, niscaya engkau dapat mencegahku darinya. Akan tetapi, tiada sesuatu pun yang engkau dan orang lain dapat memilikinya. Sesungguhnya kebahagiaanku berada dalam imanku; imanku berada dalam kalbuku; dan kalbuku tiada seorang pun yang dapat menguasainya, kecuali hanya Tuhanku.”
Inilah yang disebut kebahagiaan yang sesungguhnya, yaitu kebahagiaan iman. Tiada yang dapat merasakan kebahagiaan ini, kecuali hanya orang yang kalbunya telah dikuasai oleh cinta kepada Allah hingga masuk ke bagian yang paling dalam dan begitu pula jiwa dan pikirannya. Pada hakikatnya, yang memiliki kebahagiaan adalah Allah SWT. Oleh karena itu carilah kebahagiaan dengan taat kepada Nya. Sesungguhnya satu satunya jalan untuk meraih kebahagiaan tiada lain dengan mengenal agama yang benar yang telah diutuskan kepada Rasulullah untuk menyampaikannya.
Barang siapa yang telah mengenal jalan ini, maka tak akan ia bermewah-mewah, bersyukur dan merasa cukup adanya serta kita tetap menari (dan menikmati) di garis yang tipis antara hidup di sini dan sekarang sementara tetap menanamkan impian dan aspirasi dalam hati dimasa mendatang.
….aku awali ini dari sebuah SMS saudaraku yang hendak berangkat S2 di Mesir, ini pesannya “kekayaan hakiki bukan diukur dengan banyak harta, namun kekayaan hakiki adalah hati yang selalu merasa cukup ( HR. Bukhori )”
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 komentar:
Post a Comment