Laman

Monday, May 17, 2010

Lelaki di Tahun Keduapuluhlimanya



Malam tadi, tak biasanya sahabatku datang setelah kurang lebih lima bulan tak pernah bertemu. Sahabat lama yang bersama-sama berjuang di dunia konsultan dan kontraktor. Banyak cerita, canda antara kami berdua dari pukul 20.00 sampai 22.00 kira-kira seperti itu. Mulai dari ngobrol tentang rencana pengembangan bisnis di bidang property/ perumahan yang masih terbuka lebar sampai akhirnya obrolan berpindah hingga fenomena jatuhnya meteor di Jakarta.

“ kapan nikah….?? meteor udah pada berjatuhan”, kelakarnya bercanda.

Yups..memang akhir-akhir ini banyak yang menanyakan hal seperti itu pada saya. Bahkan beberapa ikhwah termasuk ketua majelis syuro partai tertentu sejahtera sering bertanya hal itu, “ kapan nikah kang??? Insya Allah ane carikan akhwat hafidzoh untuk antum”, dan saya hanya bisa tersenyum-senyum saja. Mungkin kalau boleh saya berstatemen begini, “ kawan…bila kau bertanya tentang kabarku, tinggalku sekarang, pekerjaanku, insya Allah akan aku jawab secara jelas. Tapi kawan, bila kau bertanya tentang ‘ siapa, kapan, dimana ‘ maaf !!! susah untuk menjawabnya.” Hehe….memang pada usia duapuluh lima tahun, seorang lelaki sering kali dihadapkan pada sebuah pertanyaan wajib, "kapan sih kamu nikah?" setiap orang selalu menanyakan hal tersebut. Atau kalau tidak, ia sendiri yang bertanya kepada diri sendiri. "Ya, kapan ya, aku nikah?"

Menikah, siapa yang tidak ingin? Maraatibul ‘amaal yang kedua yaitu takwin baitul muslim. Kira-kira….

Kapan terlabuhkan…lelah ini
Kapan tersandarkan…rindu hati
Kapan…

( maaf Seismic lagunya tak edit : Terlabuhkan ) hihi….

Katanya sih…ini katanya lho, atau dari beberapa buku yang pernah saya baca seperti, Sebelum Mengambil Keputusan besar itu, Di Jalan Dakwah Aku Menikah, Kupinang Engkau dengan Hamdalah dan buku-bukunya Salim A Fillah, menikah butuh persiapan. Nah beberapa persiapan adalah, persiapan ruhiyah (spiritual), persiapan Ilmiyah-Fikriyah, persiapan Jasadiyah, persiapan Ijtima’iyyah ( sosial) dan persiapan Maaliyah (Material)

Mungkin kesiapan itu berbeda-beda bagi setiap orang, apalagi saya masih sangat jauh. Persiapan yang terakhir (material), bukan perkara gampang mewujudkan kemapanan ekonomi bagi pebisnis pemula. Ketika saya berdalih seperti itu, teman saya menjawab seperti ini “banyak lelaki usia duapuluh lima tahun tidak beriringan dengan kesiapan mereka untuk survive di jenjang kehidupan yang lebih tinggi. Ketidaksiapan secara finansial sering kali menjadi alasan utama untuk menunda pernikahan, padahal jawaban seorang kawan saya sangat bagus untuk menangkis alasan ini. 

Orang yang sudah bekerja sebelum menikah mungkin di-PHK, orang yang sudah berwiraswasta sejak masa lajang juga bisa bangkrut, kenapa mereka berani menikah? Sebaliknya, orang yang belum dapat kerja, setelah menikah mungkin dapat pekerjaan, orang yang masih belajar berwiraswasta, setelah menikah mungkin menjadi wiraswastawan yang berhasil, kenapa mereka takut menikah? Persoalannya adalah kepada siapa kita bertawakal? Apakah kita bertawakal kepada instansi tempat bekerja atau kepada Allah? Kalau kita tawakal kepada Allah yang Maha Memberi rizki, kenapa kita terlalu bersandar pada pekerjaan atau kesuksesan bisnis?

Sungguh, yang terpenting dari kesiapan itu bukan ketersediaan, melainkan mentalitas. Kesiapan mental untuk menghadapi apapun kondisi dan situasi kehidupan. Inilah inti ajaran tawakal. Ketersediaan akan ada habisnya, sedangkan mentalitas yang kuat bisa meyelamatkan kita dari segala bentuk ujian dan cobaan hidup. Sayangnya, mentalitas ini pula jarang ditemukan pada kebanyakan lelaki menjelang usia mereka yang keduapuluh lima tahun. Menambah lengkap ketidak-siapan mereka”.

Saran saya nih, bagi yang sudah siap segalanya segera menikah deh!!! Hehe…(tak pantas saya berkata seperti itu). Tak terasa sudah pukul 07.00, winamp lagunya Bunga Citra Lestari…eh bukan ding, tapi lagunya Ar Royyan masih menggema di kamarku. Tak menyangka nih anak pinter banget buat syair seperti ini…

Nih aku kutipkan syairnya….

Tlah diciptakan dua insan yang hidup di dunia
Takdir Allah yang menyatukan jodoh manusia
Ingatkan hati hidup ini hanya sementara
Janganlah kita memikirkan materi semata
Berbahagialah manusia yang tlah menemukan fitrahnya untuk membentuk keluarga yang sakinah
Menikahlah engkau segera bila saatnya telah tiba jangan carikan alasan untuk menunda...
Menikah mengurangi dosa dan maksiyat
Menikah menyatukan bahagia dan nikmat
Rezeki manusia Allah mengaturnya
jangan takut bila kau niat untuk menikah
Berbahagialah manusia yang tlah menemukan fitrahnya untuk membentuk keluarga yang sakinah
menikahlah engkau segera bila saatnya telah tiba jangan carikan alasan untuk menunda
jangan takut bila miskin harta bila hanya belum bekerja atau tak punya rumah nan megah kau jadikan alasan takut menikah
jalan hidup tergantung niatmu bila kau yakin kau akan mampu ingatlah Allah slalu menyertaimu

( Ar Royyan : Ayo Menikah )

Insya Allah segera…entah dengan siapa tapi yang aku inginkan hanya wajah ayu yang sering menunduk malu….Astagfirullah..(hehe..). Kata mas Sakti Wibowo begini, Tidak harus kau! Tapi, aku hanya malu bertemu Tuhanku dalam keadaan masih membujang. ( Sakti Wibowo: Sepasang Merpati Berkalung Safir )

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Disela-sela persiapan ke Banjarnegara, 17/05/2010 - ba’da Subuh diiringi lagu : Ayo Menikah ( Ar Royyan), Adalah Engkau (Seismic), Rembulan Di Langit Hati Ku ( Seismic), Impian Kasih (In Team), Pernah Muda ( Bunga Citra Lestari) yang di Bold lagu tetangga. Hehe…

0 komentar: