Laman

Wednesday, May 12, 2010

Indonesia : “Rasa Calciopoli”



Sekali-kali ini mengikuti perkembangan berita di TV, biasanya hanya nonton acara-acara lawakan…haha..rasanya macam-macam. Dari mulai dunia para selebriti, dunia pendidikan hingga dunia para politisi dan mungkin sampai dunia lain kalee akhir-akhir ini jadi tertarik untuk mengikuti.

Tiga diva dangdut yang sedang mencari kumbang, salah satunya mbak ikke nurjanah pelantun lagu “Memandangmu” jadi favorit kayaknya, hehe…sampai berita penahanan sang peniup peluit, katanya….itu katanya lho…entah siapa yang berkata.

Namun ada beberapa berita yang menarik disini, berita yang membuat wajah Indonesia raya kian terang benderang. Berita diangkatnya Sri Mulyani Indarwati diangkat sebagai managing directur - nya world bank. Pengunduran SMI dari posisi menteri keuangan setelah dipinang oleh world bank menuai banyak pro kontra dari berbagai kalangan.

Beberapa ada yang mengungkapkan kebanggaannya, salah satu putra terbaik bangsa ini dapat memduduki posisi penting di world bank. Ada juga yang berkata, SMI lepas dari tanggung jawab kasus Century yang sedang membelitnya. Lebih memilih bekerja di world bank, yang katanya….,denger-denger nih gajinya milyaran…kalau gak salah dengar saya. Antara pro dan kontra itu, saya condong kemana yak??? Seperti apa yang pernah dikatakan Bapak Kwik Kian Gie dalam sebuah acara TV dan pernah menjabat juga sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional dimana anggotanya adalah Ibu SMI. Saya tidak sepakat kalau Indonesia masih pro Amerika dan di dikte oleh world bank dan IMF, sekarang pro siapakah Sri Mulyani???

Entah apa yang terjadi di balik semua itu. Mungkin Ibu Sri Mulyani berkata dalam hatinya demikian, “ kenapa saya mesti jadi korban dari semua ini?”

Yah, itulah resiko menduduki jabatan politik. Jadi suatu saat siap-siap jadi korban atau juga siap-siap jadi pahlawan. Nah, Ibu SMI ini telah menjadi korban yang namanya transaksi politik, bahasanya kerenkan…!! saya meniru-niru bahasa para politisi. Memang pelaku politik juga adalah pelaku dunia usaha, dan transaksi politik ini adalah menyangkut kepentingan usaha atau bisnis. Masih ingat kah? Cerita Lapindo dan perusahaan Bumi Resources milik Aburizal Bakrie yang masih memiliki tunggakan pajak sampai 2,1 triliyun. Dari situlah perseteruan antara Ical dan SMI di mulai.

Sekarang Ical telah memimpin atau menjadi ketua Sekretariat Bersama beberapa partai koalisi yang didominasi Partrai Golkar dan Demokrat. Ini jadi mirip Golkar jaman orde baru, dimana sekarang kekuatan sekber sudah mencapai 80% di parlemen dan diakui dapat menjamin stabilitas politik dan pemerintahan.



Pemenang dan Siapa yang diuntungkan?


Menurut saya yang diuntungkan adalah para pengusaha yang memiliki kepentingan bisnis..itu menurut saya lho..haha..entah menurut yang lain..boleh-boleh aja kan..dan pemenangnya sekarang adalah bang Ical atau partai Golkar. Mungkin secara de facto PD menjadi pemenangnya, tapi pemenang sesungguhnya adalah PG…nah terbukti lagi kan, bahwa pemenang itu bukan mereka yang berlari paling depan, tapi mereka yang tetap bertahan hingga akhir pertandingan. Dengan dibentuknya Sekber, ini telah terjadi transaksi politik. Dukungan untuk stabilitas politik dan pemerintahan dapat diperoleh asalkan Sri Mulyani sudah tak lagi duduk di pos menteri Keuangan. Dan secara kalkulatif pun SBY menerima ini, dan masuk akal!! Karena SBY ingin memperoleh kepastian politik dan stabilitas pemerintahan. Dan kini posisi Partai Demokrat semakin lemah di depan Golkar ketika Ical menjadi ketua Sekber partai koalisi. Sesungguhnya ini adalah kemenangan Aburizal dan Partai Golkar yang secara perlahan dapat masuk ke pemerintahan, mempunyai posisi tawar yang yang tinggi dan juga ikut serta dalam penentuan kebijakan, terlepas dari koalisi yang tidak selamanya permanent. Dan sekali lagi pemenang sesungguhnya adalah para pengusaha/ bisnis. Lihat saja Perusahaan Ical yang masih menunggak pajak hingga 2,1 T. Hidup pengusaha!!! Upsssssss!!! Haha… Kini Ical menjadi pembisiknya SBY seperti Kresna atau Sengkuni…udah mirip negeri pewayangan nih kayaknya Indonesia.

Indonesia, rasanya kayak rasa ‘Calciopoli’, merekayasa pengaturan skor dalam liga Italia untuk meraih scudeto. Benar juga kata Mbak Nike Ardila, bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara, berbagai macam peran disana. Dan peran saya sebagai buruh bangunan, inilah enaknya jadi buruh…ngomong apapun tak ada yang melarang, omongannya tak mempengaruhi kondisi pemerintahan apalagi bursa efek. ….ndang balio Sri….ndang balio….( kutipan Lirik lagu : Sri Minggat )

“Walah jan….candra wis mirip tenan kayak politisi nda”, kalau ada kata seperti itu, itu keliru. Saya seorang kuli bangunan, dan bisa ngomong seperti itu karena TV sudah tak ada lagi yang layak di tonton. Sinetron, gossip dan lainnya semua sampah penjual mimpi, jadi paling-paling saya nonton berita. Semua berita, berita olahraga, berita politik, kuliner, macem-macem dah…

Sudah jam 14.00 WIB. Mending saya kembali bersama dunia mungil saya, ohhh…alangkah indahnya bersama adek-adek SMA…ada canda disana, ada tawa…ehh ada juga para juara lho!! Sekali lagi…duanya kapan..hihi…ini tulisan gak mutu, tulisan di kala sepi…bendung dan irigasi belum selesai malah buat tulisan kayak gini, au ah!! Mending meluncur ke SMA, im coming friends!!


Kota Perwira, 11/05/2010-13.00 wib

1 komentar:

Anonymous said...

Suka kalimat yang di-bold >o<